Sunday, January 10, 2010

Muto-san, Pemuda Introvert yang Bersyahadat

“Ketika masih muda, Muto-san adalah pemuda yang sederhana, cenderung pendiam, dan introvert,” ujar Dewi (istrinya, amanahland). Di sebuah festival kampus, tahun 1998 ia bertemu Muto Takanobu-san. Muto-san dengan tekun menulis notulen semua hasil perbincangan rekan-rekan peserta dalam rapat festival kampus saat itu. Tanpa banyak bicara dan berkomentar. ”Pendiam habis !” ujar Dewi lagi.

Setelah pertemuan itu, mereka sering bertemu di klub pecinta alam yang sama-sama kami masuki. Banyak medan mereka tempuh bersama dalam klub pecinta alam. Yang membuat Muto-san mengetahui bahwa mahasiswa luar negeri, yang beragama Islam, tidak bisa mengkonsumsi makanan tanpa mengetahui isi bahan makanan itu (kehalalannya).

Lewat pengalaman di pecinta alam, akhirnya Muto-san juga mengetahui jelas makanan yang bisa dikonsumsi oleh mahasiswa muslim. Yang akhirnya bila acara makan malam bersama diadakan, semua bahan makanan halal dari mahasiswa muslimlah yang dipakai. Kemudian tugas-tugas kuliah pun bagai menjadi jembatan bagi Muto-san mengenal Islam. Pertukaran bahasa di mana mahasiswa Indonesia lebih piawai dengan Bahasa Inggris menyebabkan Muto-san banyak bertanya tentang bahasa tersebut kepada mereka. Sebaliknya urusan Bahasa Jepang, Muto-san adalah tempat bertanya para mahasiswa Indonesia. Pokoknya bagai simbiosis mutualisme alias saling membutuhkan.

Suatu hari, di tengah suasana belajar bersama dan berdiskusi tugas kuliah, Muto-san bertanya tentang Islam, kelihatannya sambil lalu tanpa serius. Ia menanyakan, ”Kenapa sih Tuhan orang Islam itu tidak terlihat ?” Pertanyaan itu cukup membuat teman-teman muslim kaget. Sedikit tak siap untuk menjawab yang pas untuk saat itu.

“Tuhan orang Islam itu adalah Yang Maha Pencipta. Tidak sama dengan makhluk seperti kita. Dia memang tidak bisa dilihat, tapi kami bisa mengetahui keberadaa-Nya dengan mengetahui sifat-sifat-Nya,” ujar mahasiswa muslim. Jawaban kaget itu diucap dalam Bahasa Jepang yang masih minim.

“Wah, lebih asyik kalau Tuhannya orang Kristen, atau Buddha dong ya ! Penganut Kristen jelas berdoa dengan menggunakan salib. Bagi penganut Buddha menyembah patung Buddha. Saya pikir itu lebih gampang dimengerti dan kita juga lebih khusyuk bila berdoa dan bisa melihat yang kita sembah,” jawab Muto-san dengan percaya diri, seakan pasti benar.

Dengan sekuat jiwa dan raga, para mahasiswa muslim dan Dewi, yang juga ada di tengah mereka, menjawab serentak, “Sifat-sifat Tuhan itu tidak sama dengan makhluk ataupun zat-zat yang diciptakan-Nya. Tuhan itu satu, Dia kekal, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Tuhan orang Islam itu tidak tidur, tidak mati.”

Dan Muto-san tetap gigih mengatakan, “Bila ada tanda yang terlihat, tersentuh, dan ada bentuk bahwa itu ‘Kamisama: Tuhan’ pasti akan lebih mudah menjalankan ibadah.”
Setelah berkutat saling menjawab dan berargumentasi tiga jam lamanya, Muto-san tampaknya lelah dan berujar, “Oke, saya mengerti sekarang, masuk akal juga ya Tuhan orang Islam itu…,” sambil ia berlalu begitu saja. Tinggallah berpuluh mata menatap kepergiannya dengan rasa bingung. Melongo! Itulah kata yang tepat bagi posisi mereka saat itu.

Pada pertemuan selanjutnya, mereka tak lagi membahas pertanyaan Muto-san, karena ia juga tidak menceritakan atau bertanya tentang Tuhan lagi. Pada ujian akhir semester selesai, para mahasiswa kembali ke aktivitas masing-masing, dan kadang-kadang mereka pergi hiking bersama teman-teman pecinta alam yang lain.

Maret tahun 1999, dua teman Jepang dari klub pecinta alam yang kembali dari Indonesia, menceritakan keindahan alam Indonesia. Akhirnya, Muto-san ingin pula berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 2000 Muto-san menapakkan kaki ke bumi Indonesia yang membawanya pula mengenal Tuhan, Allah Yang Esa, tak berbentuk dari bahan batu atau kayu dan tak terlihat kasat mata.

Muto-san berlibur ke Indonesia pada musim semi selama satu bulan. Ia berkunjung ke tiga keluarga teman Indonesianya yang telah disepakati oleh grup muslim Indonesia, agar menyambut dan memperkenalkan keindahan alam Indonesia, sesuai dengan hobi para pecinta alam itu. Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Dewi. Kebetulan ayah Dewi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa di Temanggung, dengan senang hati memperkenalkan keindahan Yogyakarta dan Temanggung.

Muto-san datang dua hari sebelum lebaran haji tahun itu. Di hari selanjutnya seluruh keluarga Dewi berpuasa. Muto-san pun ikut berpuasa 9 Dzulhjjah tahun itu. Dan pada tanggal 10 Dzulhijjah, di hari shalat Idul Adha tiba, keluarga Dewi bermaksud meminta Muto-san untuk menunggu sendirian di rumah. Tetapi dengan spontan Muto-san menolak, sambil berkata, “Tolong bawa saya ke tempat shalat, saya tidak akan mengganggu.”

Di lapangan desa, tentu saja semua orang banyak yang memandang heran atas kehadiran seorang pemuda Jepang masuk ke dalam barisan shalat. Dan semua orang di desa pun bertanya kepada Bapak Kepala Desa, “Pak, orang Jepang itu mau apa ?” Bapak Kepala Desa itu menjawab, “Oh, dia belum pernah lihat orang shalat Id, pingin lihat saja kok.”

Ketika shalat akan dilaksanakan, Bapak Kepala Desa itu meminta Muto-san untuk masuk ke bagian paling kanan shaf pertama. Dan selepas shalat Id, semua laki-laki di desa kami menyalami Muto-san. Sepulang dari shalat Id, tiba-tiba Muto-san menginterupsi anggota keluarga yang sedang bersiap untuk makan pagi Lebaran, dengan berkata, “Maaf… saya ingin menyampaikan sesuatu… Saya ingin masuk Islam.”

Seluruh anggota keluarga Dewi tertawa. Adik Dewi menyeletuk, “Nggak usahlah… jadi muslim itu ‘tidak enak’ lho. Kamu harus shalat lima waktu, harus puasa, dan menjalankan semua ibadah yang tidak pernah kamu kerjakan sebelumnya.”
Tak disangka Muto-san menjawab dengan mantap, “Saya sudah siap, saya akan shalat, saya bisa berpuasa, dan semua aturan Islam saya akan jalankan.”

“Termasuk disunat ?” ujar adik Dewi menembak langsung. Muto-san seketika terperanjat, sambil meminta beberapa waktu untuk berpikir. Keluarga Dewi tidak menganggap hal itu serius. Jadi semua santai dan bersenda gurau saja di meja makan. Apalagi saat itu hari raya. Makanan lezat hari raya terhidang, lebih menjadi pusat perhatian keluarga.

Matahari mulai turun kemerah-merahan, tanda waktu petang menjelang. Muto-san kembali membawa berita, “Saya siap menjadi muslim. Tidak masalah saya disunat, saya sudah mantap ingin menjadi muslim !” ucapnya tegas.

Akhirnya semua keluarga diam terpaku, dan mulai memperhatikan keseriusan mimik Muto-san. Hanya rasa bangga dan haru menggelayut di dada-dada keluarga itu. Allah memang Maha Besar. Benar, Islam tidak pernah memaksa orang untuk memeluknya. Seperti firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 256).

Tiga hari setelah Muto mengutarakan niatnya untuk menjadi muslim, keluarga besar Dewi membawanya ke Masjid Syuhada, Yogyakarta, untuk bersyahadat di sana. Kebetulan hari itu ada pengajian mingguan. Setelah pengajian selesai, disaksikan oleh seluruh peserta pengajian, Muto-san pun mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim. Dua hari kemudian Muto-san dikhitan. Dalam kehidupan baru sebagai muslim, Muto-san memulai tahap belajarnya dari cara berwudhu, gerakan shalat, dan bacaan shalat, juga tata cara beribadah dalam kehidupan sehari-hari. Meniru anggota keluarga Bapak Kepala Desa itu.

Sumber : Hikari No Michi, Takanobu Muto dkk, Lingkar Pena, Jakarta, 2009

baca selengkapnya...

Sunday, August 16, 2009

Allah Knows, Zain Bhikha



Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Sunday, July 5, 2009

Yusuf Estes, Teroris, Islam, dan Surga

Cuplikan ceramah yang diberikan Yusuf Estes (mantan pendeta) di Karibia. Beliau sedang menjawab pertanyaan audiens tentang teroris, islam, dan surga.



Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Monday, June 1, 2009

Buku Masonic And Occult Symbols

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku yang berjudul "Masonic And Occult Symbols Illustrated" melalui situs lelang Ebay. Membaca deskripsinya di Ebay, buku karya Dr. Cathy Burns ini cukup menarik. Ditambah lagi, selama ini saya memang memiliki rasa penasaran untuk mengetahui secara lebih dalam, mengenai misteri simbol-simbol.

Secara sekilas, buku ini berisi beberapa kategori simbol dengan sedikit penjelasan sang penulis, dilengkapi dengan cuplikan referensi pustaka yang cukup banyak. Simbol-simbol diilustrasikan dalam warna hitam putih dan cetakan yang sederhana.


Saya tidak sabar untuk segera membuka bab yang membahas mengenai simbol Islam. Saya lihat di daftar index, Islam ada di halaman 389. Saya bergegas ke halaman itu. Anda tahu, apa yang tertulis di halaman itu ? Ini dia :

The Islamic God is called Allah. He was the moon god, who married the sun goddess. Dan seterusnya ... Saya nggak tega menulisnya di sini. Sangat ngawur..

Astaghfirullah.. selera saya terhadap buku itu mendadak hilang. Buku yang telah saya nantikan berminggu-minggu kedatangannya, akhirnya runtuh citranya karena satu alinea. Saya lihat di footnote-nya, ternyata keterangan itu bersumber dari Robert A. Morey, dari bukunya Islam Unveiled: The True Desert Storm. Wah.. orang ini lagi. Si Robert ini memang suka menulis secara kasar dan provokatif perihal Islam, namun bukunya justru populer dan menjadi pegangan orang-orang barat dalam mengenal Islam. Buku yang juga ditulisnya, The Islamic Invasion, bahkan telah membuat Irena Handono, sang mualaf mantan biarawati, untuk meng-counter-nya dengan buku Islam Dihujat: Menjawab Buku The Islamic Invasion.

Demikian banyak buku orientalis yang beredar, yang tidak bersumber dari sumber yang otoritatif. Kepada rekan-rekan non-Muslim yang ingin mempelajari Islam secara tulus, berhati-hatilah dalam memilih buku.

baca selengkapnya...

Saturday, May 16, 2009

Madam ! I am a Madrasah Graduate

Sabtu kemarin, 15 maret 2008, saya mendapat kehormatan untuk berdiskusi dengan jama'ah East New York Synagogue, sebuah gereja yahudi aliran orthodox. Bagi saya pribadi, ini sebuah terobosan dan kalau bisa saya katakana sebagai membuang diri ke dalam kandang harimau.

Berdialog dengan Yahudi aliran reform sudah lumrah. Berdialog dengan
yahudi Conservatif juga sudah biasa. Bahkan tanggal 24 Maret
mendatang saya akan menyampaikan presentasi islam kepada para
pengajar JTS (Jewish Theological Seminary) di Uptown New York . Tapi
hadir dalam sebuah perhelatan yahudi orthodox adalah baru, dan bahkan
masih dianggap tabu dan controversial oleh sebagian di antara mereka.
Tapi kini, terobisan itu menjadi sejarah sendiri, karena pada
akhirnya, walaupun tidak diingkari masih ada yang menunjukkan
wajah 'prejudice' mereka menerima kedatangan saya dengan lapang dada.


Acara dialog ini sendiri sebenarnya kesepakatan yang telah kami buat
antara saya dan Rabbi Marc Shneyeir di saat mengunjungi Islamic
Center New York beberapa hari sebelumnya. Rabbi Marc mengunjungi kami
di Islamic Center karena terdorong oleh surat resmi sekelompok ulama
Islam yang ditanda tangani oleh lebih 20 ulama, termasuk Tariq
Ramadan, yang dikirimkan kepada pemimpun yahudi dunia.

Surat itu dapat dilihat pada link berikut:

http://www.theameri canmuslim. org/tam.php/ features/ articles/
muslim_scho
lars_issue\_ statement_ to_worlds_ jewish_community /0015811

Rabbi Marc sangat terdorong untuk membangun komunikasi dengan
pemimpin Muslim di New York , dan kebetulan saja untuk pertama
kalinya beliau menemui saya.

Dalam pertemuan itu kita sepakat untuk menindak lanjuti ajakan ulama
Islam di atas. Kita sepakat bahwa inisiatif awal harus dimulai dengan
keterbukaan dan niat baik. Untuk itu, disepakati dalam pertemuan
tersebut bahwa saya akan hadir pada akhir kegiatan ibadah mereka hari
sabtu untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya mengenai hubungan
Muslim dan yahudi, masa lalu, kini dan prospek masa depan.

Alhamdulillah, dengan tawakkal dan penuh 'confidence' saya hadir
dalam acara Sabtuan Yahudi orthodox yang rata-rata 'upper class' itu.
Acara dialog dimulai dengan pembukaan oleh moderator, Joe Cohen,
mantan jaksa dan seorang pengacar kawakan di New York . Di akhir kata-
kata pengantarnya itu, Mr. Cohen membacakan sebagian dari surat para
ulama itu kepada pemimpin Yahudi.

Lalu dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan yang pertama kali
ditujukan kepada saya. Pertanyaan itu, bagi saya, mirip sebuah
pengadilan karena memang cukup angresif dan mungkin saja sensitif
dengan 'my personal feeling'. "Kalau memang para ulama itu memiliki
niat baik untuk berdialog, kok selama ini saya belum melihat ada di
antara mereka yang menentang/mengutuk terorisme?", Tanya.
Saya memulai menjawab dengan menyampaikan terima kasih dan kehormatan
atas kesempatan yang diberikan. "Allow me to convey to you, at least
my own personal greetings of peace. And so, shalom to you all!", saya
memulai.

Saya kemudian menjelaskan bahwa "kehadiran saya bukan mewakili
pikiran dan niat mereka-mereka yang mengirimkan surat ke pemimpin
yahudi, tapi saya hadir sebagai komitmen keislaman saya untuk
membangun komunikasi dan relasi yang baik dengan siapa saja yang
menginginkan hal yang sama. "And so, do not ask me what in their
minds and hearts", lanjutku.

Saya kemudian mencoba menjelaskan mengenai persepsi bahwa jarang atau
bahkan hampir tidak ada ulama Islam yang mengutuk 'terorisme dan
ektremisme'. Pada tingkatan ini, terlalu banyak yang saya bias
sebutkan sebagai contoh untuk membuktikan bahwa ulama-ulama Islam
telah mengutuk dan akan selalu mengutuk tindakan terorisme, dilakukan
oleh siapa dan ditujukan untuk siapa saja. Sayang, "our voices were
not heard for many reasons, but mostly because the media just convey
to you sensational and sellable news".

Tiba-tiba saja Mr. Cohen menyelah: "I guarantee you, if you want to
condemn terrorism, to find a national news paper to publish it".
Secara spontan saya juga menentang: "I will do it tomorrow, if
necessary. Let me know sir!". Sepontan saja mengundang tawa para
hadirin.

Pertanyaan demi pertanayaan, argumentasi demi argumentasi berlalu
dalam masa sejam setengah itu. Berbagai pertanyaan sang moderator
lontarkan mengenai konflik Timur Tengah, khususnya konflik Israel-
Palestine. Saya memang menyadari bahwa isu Israel Palestine adalah
isu yang paling sensitive ketika hadir dalam sebuah dialog dengan
komunitas Yahudi. Tap terkecuali dialog kali ini, walaupun disepakati
pada awalnya bahwa kita akan menghindari masalah-masalah politik.

Namun ada dua pertanyaan dari hadirin yang cukup menarik untuk saya
tuliskan. Perlu saya sampaikan bahwa komunitas Yahudi orthodox ini
rupanya sangat agresif, menantang dan kurang mengenal basa-basi. Saya
jadi teringat sikap kaum Timur Tengah, walaupun kenyataannya mereka
adalah warga Amerika asli.

Di antara sekian penanya dari hadirin, seorang ibu mengacungkan
tangan, dengan suara lantang mempertanyakan "Why don't you change the
madrassa?".

Dengan sedikit bingung, saya menanyakan kembali "I really don't
comprehend what did you try to say".

Dia kemudian dengan panjang memberikan komentar yang cukup agresif.
Telinga saya sebenarnya cukup panas juga mendengarkan tuduhan-tuduhan
itu. Tapi saya ingat, 'lakukanlah argumentasi dengan mereka dengan
baik'. Saya merasa merespon dengan cara emosional tidak akan
menyelesaikan permasalahan. Apalagi, memang ayat Al Qur'an
jelas 'lakukan pembelaan dengan cara yang ahsan atau lebih baik'.
Sambil tersenyum saya mencoba menjelaskan bahwa madrasah bukanlah
tempat penggemblengan para teroris. "Madrasah is something similar to
Midrash in your tradition", jelasku.

Bahkan, lanjut saya, saya bias menyampaikan kepada anda beberapa ahli
dalam berbagai ilmu pengetahuan yang juga alumni madrasah. Dan kalau
madrasah itu adalah 'ground' pengkaderan teroris "you will not having
me speaking to you this morning. I am a madrasah graduate!", tegasku.

Pernyataan terakhir saya di atas ini ternyata mendapat apresiasi
dengan 'applause' panjang dari hadirin.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang ada barangkali madrasah yang
melahirkan radicals, dan bahkan tammatan madrasah ini melakukan
tindakan terorisme di kemudian hari. Tapi kan salah menuduh Amerika
sebagai 'ground pengkaderan pelacur' jika ada warganya yang kemudian
menjadi pelacur. Serentak saja hadirin terbahak, walau ada yang
nampak seperti terhentak dengan pernyataan saya ini.

Di penghujung Tanya jawab itu juga seorang wanita lain
mempertanyakan: "why kids in the Muslim world are trained to be
killers or suicide bombers?".

"Where did you get that?. I never heard or knew it before!", tanyaku.

Dia kemudian menjelaskan bahwa dia pernah menonton 'documentary film'
tentang anak-anak Muslim diajar menembak, bahkan permainannya selalu
dengan senjata. Dan pada akhirnya anak-anak ini kepada mereka
diajarkan untuk membenci dan membunuh non Muslims, khususnya yahudi.

Saya tersenyum, sambil berterima kasih kepad wanita itu karena
memberikan informasi baru kepada saya, saya menjawab singkat. "Madam!
I arrived in this country just 11 years ago. And let me tell you,
before my arrival, I was so worried and scared because I watched a
movie about New York ", jelasku.

Saya kemudian menjelaskan, bahwa kekhawatiran dan bahkan ketakutan
saya itu disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak pada
tempatnya. Saya menyangka bahwa New York out penuh dengan criminals,
tembak menembak di station bawah tanah, karena itulah yang saya lihat
dari film-film yang ada mengenai New York .

"So madam! You can not take a conclusion from a movie you did watch.
That's simply very naïve", kataku.

Nampaknya Ibu tersebut masih tidak puas. Masih mengacungkan tangan,
tapi waktu yang ditentukan telah berakhir.

Pada akhirnya, beberapa jama'ah East Synagogue itu mendantangi saya
dan memberikan tambahan nama kepada saya. "I wanted to give you
another name!", kata mereka. Kenapa dan nama apa?

"Since you last name is Ali, we wanted to give you a first name
Muhammad", kata mereka.

Rupanya mereka hanya mengenal nama saya sebagai 'Shamsi Ali', walau
formalnya nama saya sudah diawali dengan Muhammad. Tapi saya pura-
pura tidak tahu. "Kenapa saya perlu dberikan nama awal Muhammad?,
tanyaku.

"That's a champion name....Muhammad Ali, the boxer!, kata mereka
sambil tertawa.

"Oh no, my name is Muhammad Shamsi Ali already", jelasku. "But that's
name is given to me not because Muhammad Ali the boxer, but Muhammad
the final prophet of God", tambahku sambil juga ketawa.

Pada akkhirnya, menjelang Zuhur saya harus meninggalkan mereka karena
tamu saya, Sr. Aminah Assilmi, sudah menuggu di Islamic Center untuk
sebuah ceramah umum. Di tengah perjalanan pulang itu saya tiada henti-
hentinya berfikir bahwa memang masih besar kecurigaan dan kesalah
pahaman tentang Islam dan Muslim di benak mereka. Tapi, bukankah itu
lahan subur? Lahan subur untuk menanam benih amal jariyah dengan
terus menerus dan tanpa menyerah untuk melakukan langkah-langkah
prubahan persepsi.

New York , 16 Maret 2008

Disalin dari http://apakabar.ws dan dari buku The True Love in America, M. Syamsi Ali, Gema Insani, Jakarta, 2009.

baca selengkapnya...

Sunday, May 3, 2009

Amerika Menuju Islam

Tiga buah video klip yang meggambarkan kondisi para mualaf kulit putih di Amerika. Rasionalitas orang barat, dan Spiritualitas Islam ... It's a good combination ...







baca selengkapnya...

Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta

Pada suatu hari (Minggu pagi), saya justru pergi ke mesjid dan mendatangi seorang Imam Mesjid, namanya Pak Hamid, yang bekerja di kantor Departemen Agama Kabupaten Toli-toli. Kebetulan, di Minggu pagi itu, Pak Haji Hamid bersama tiga orang jemaah mesjid sedang membersihkan halaman mesjid. Tanpa rasa ragu dan malu saya menghampiri Pak Haji Hamid yang sedang berjongkok sambil menebas rumput di halaman masjid. Saat itu, Pak Hamid tidak tahu sama sekali siapa yang datang dari arah belakangnya.

Saya kemudian mengucapkan "Assalamualaikum" yang kala itu sebenarnya belum pantas saya ucapkan karena masih menyembah "Yesus" bukan menyembah "Tuhan". Karena aku salam, Pak Hamid pun membalas salamku, "Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh" sambil membalikkan badan menghadap ke arahku.

Tapi apa yang terjadi ? Ketika kami berhadapan, betapa kagetnya beliau. Ternyata yang datang menjumpainya adalah murid Paulus, bukan pengikut Nabi Muhammad SAW. Suasana mulai tegang, saya dapat melihat sekaligus merasakan dari raut wajah Pak Haji Hamid tersimpan tanda tanya besar. Bahkan hari itu saya merasa beliau seperti tidak percaya fakta yang sedang terjadi si depan dua kelopak matanya. Dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan terdorong oleh keinginan untuk mengetahui maksud kehadiranku di masjid, akhirnya beliau membuka mulut alias angkat bicara bernada pertanyaan.

Pak Haji : "Apa kabar Pak Pendeta, Ada yang harus saya bantu ?"

Saya : "Ada Pak Haji"

Pak Haji : "Masalah apa Pak, kalau boleh saya tahu ?"

Saya : "Masalah Iman, Pak"

Pak Haji : (Sedikit kaget, lalu bertanya lagi) "Apa tidak salah ?" (sambil tertawa)

Saya : "Tidak Pak"

Pak Haji : "Seharusnya Bapak tidak datang kepada saya, bukankah saya seorang Muslim dan Bapak Kristen ?" Apa yang terjadi dengan Pak Pendeta sekarang ?"

Saya : "Sebaiknya kita ke dalam mesjid aja Pak Haji"

Pak Haji : "Ooh, tidak apa-apa Pak, di luar sini saja atau di rumahku"

Saya : "Kalau di sini, saya tidak mau ceritakan apa yang terjadi denganku. Apalagi di rumah Bapak"

Pak Haji : "Baiklah, mari kita masuk ke mesjid."

Saya : "Terima kasih Pak"

Saya dan Pak Haji melangkahkan kaki dari halaman mesjid menuju pintu utama mesjid. Tepat di bawah mimbar mesjid, Pak Haji menawarkan duduk di lantai, di atas karpet beludru. Saya duduk berhadapan serta bertatapan wajah dengan Pak Haji. Saya melihat bulu roma Pak haji berdiri tegak, dan pori-pori di kulit tangannya pada bermunculan, seperti ada sesuatu yang hadir di tengah-tengah pertemuan kami. Tiba-tiba, secara spontan, kesedihan menyelimuti perasaan hatiku. Akibatnya, di hadapan Pak Hamid, saya menangis tersedu-sedu tanpa rasa malu atau minder sedikitpun. Saya seakan tak kuasa mengucapkan satu katapun akibat kesedihan yang dalam sedang menyelimuti. Sebagai orang berilmu Al Quran, Pak Hamid memahami semua kejadian yang menimpaku. Beliau mengelus-elus pundakku sambil berkata, "Sabar Pak, sekarang aku tahu tanpa Anda jelaskan. Sesungguhnya Anda orang yang menerima hidayah tepat pada Bulan Ramadan 1427 Hijriah."

Lalu Pak Hamid juga berkata, "Jika hidayah Allah SWT telah masuk ke dalam batin seseorang, tak seorangpun dapat mencegahnya. Apapun status orang tersebut pasti akan tunduk kepada keputusan Allah SWT seperti Bapak. Walaupun seorang pendeta, jika hidayah Allah SWT datang menjumpai dan menetap di hati Bapak, siapapun tak dapat mencegahnya untuk memeluk agama Islam. Begitulah jika Islam telah masuk ke nurani Bapak. Dan ingat Pak, justru orang seperti Bapak yang sering diberi hidayah dari Allah SWT. Mengapa ? karena Allah SWT mengetahui dan selektif dalam mengambil keputusan. Dia memberikan hidayah kepada Bapak dengan tujuan agar Bapak di kemudian hari mampu menceritakan kebenaran agama Allah SWT. Tetapi yang utama, Bapak adalah orang yang dicintai oleh Allah SWT, sehingga diberi-Nya petunjuk."

Kurang lebih 30 menit kami berada di dalam mesjid. Suasana kasih sayang turut mewarnai pertemuan kami. Berbagai saran, pendapat, nasehat, dan motivasi menghiasi indahnya suasana percakapan kami. Saat itu juga, antara saya dengan Pak Haji Hamid, sudah mulai terjalin tali persaudaraan serta tali persahabatan selaku umat pilihan Allah SWT. Padahal sebelumnya tidak bersahabat, masing-masing kami mempertahankan prinsip keyakinan yang dianut. Namun setelah hidayah menemuiku, segala sesuatu yang tidak baik menjadi kebaikan dan segala sesuatu yang tidak benar berubah menjadi kebenaran sejati. "Habis gelap terbitlah terang", kata-kata bijak inilah makna yang terkandung dalam kata "hidayah". Artinya, petunjuk membawa manusia kepada perubahan hidup yang lebih berarti.

Disalin dengan editting seperlunya dari buku Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta, Dr. Muhammad Yahya Waloni, diterbitkan oleh Cahaya Iman dan MYW Center, Bandung, 2008.

baca selengkapnya...

Friday, January 16, 2009

The Road To Mecca

Cuplikan dari buku kedua "The Road To Mecca", karya Muhammad Asad (Leopold Weiss), Mizan, 2003.

Kuda saya mulai berjalan pincang dan sesuatu terdengar menggeluntang dari kukunya. Sebuah tapal besi telah copot tergantung-gantung hanya dengan dua batang paku.

"Adakah desa di dekat sini tempat seorang pandai besi ?" tanya saya kepada teman Afghanistan itu.

"Desa Deh-Zangi letaknya kurang dari lima kilometer dari sini. Ada seorang pandai besi di sana, sedang Hakim Hazarayat punya istana pula di sana."

Begitulah kami berkendara di atas salju kilau-kemilau menuju Deh-Zangi dengan perlahan-lahan supaya tak meletihkan kuda saya.

Hakim atau wedana itu adalah seorang pemuda berperawakan pendek dengan air muka periang -- seorang peramah yang gembira menjamu seorang tamu asing dalam kesepian istananya yang sederhana. Meskipun merupakan seorang anggota keluarga dekat Raja Amanullah, dia adalah salah seorang paling rendah gati yang saya temui atau yang akan pernah saya jumpai di Afghanistan. Ia memaksa saya tinggal bersamanya selama dua hari.

Pada malam hari kedua, sebagaimana biasa, kami duduk menghadapi hidangan makanan malam yang lumayan, dan sesudah itu seorang lelaki desa menjamu kami suatu balada yang dinyanyikan dengan iringan kecapi bertali tiga. Ia menyanyi dalam bahasa Persia yang diucapkannya dengan kehangatan suasana riang dalam ruangan bergelar permadani, sedangkan titik-titik salju dingin masuk menerobos melalui jendela. Saya ingat, ia menyanyikan tentang pertarungan Daud dan Goliath -- pertempuran iman melawan kekuasaan lalim, dan kendatipun saya tak dapat mengikuti kata demi kata syair nyanyian itu, temanya jelas ketika dimulainya dengan nada suara rendah kemudian menanjak dalam suara tinggi sedang akhirnya yang terdengar berupa jeritan-jeritan tanda kemenangan.

Tatkala berakhir, Hakim itu menandaskan, “Daud kecil, tetapi imannya besar.”

Saya tak dapat menahan diri dan menambahkan, “Dan kalian banyak, tetapi iman kamu sedikit.”

Tuan rumah memandang saya keheranan dan karena merasa terganggu oleh kata-kata yang terpaksa keluar, saya segera menerangkan kepadanya dengan lancar. Penjelasan saya ini berupa serangkaian pertanyaan bertubi-tubi :

“Bagaimanakah hingga kalian kaum Muslim kehilangan kepercayaan diri – keyakinan diri yang pada suatu waktu telah menyebabkan kalian mampu menyiarkan kepercayaan kalian, dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Arabia ke arah barat hingga ke Atlantik, ke timur hingga ke China – sedang kini dengan mudah menyerahkan diri, lemah, kepada pikiran dan kebiasaan Barat ? Mengapa kalian yang punya nenek moyang yang pada suatu saat menjadi penerang dunia dengan ilmu pengetahuan dan kesenian tatkala Eropa sedang tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan, tidak mengerahkan kembali keberanian untuk kembali kepada kemajuan kalian serta kecemerlangan kepercayaan kalian sendiri ? Mengapa Ataturk yang bertopeng kegilaan itu mengingkari nilai Islam bagi kaum Muslim justru menjadi lambang “kebangunan kembali kaum Muslim”?.

Tuan rumah saya tinggal membungkam. Di luar salju mulai turun. Sekali lagi saya merasakan gelombang suka bercampur duka, sama seperti ketika hendak mendekati Deh-Zangi. Saya merasakan kemenangan dan pada saat yang sama rasa malu menyelubungi putra turunan dari suatu peradaban yang unggul ini.

“Ceritakanlah – bagaimana sampai iman Nabi kalian dan kejernihan serta kesederhanaannya dikubur di dalam reruntuhan spekulasi yang mandul dan ajaran-ajaran yang berbelit-belit ? Bagaimana sampai terjadi pangeran-pangeran dan tuan tanah memperoleh kemakmuran dan kemewahan, sedangkan demikian banyak saudara mereka, kaum Muslim, tenggelam dalam kemiskinan dan kejembelan yang tak terlukiskan – kendatipun Nabikalian berkata, “Tak seorangpun boleh menamakan dirinya beriman apabila dia makan hingga kenyang padahal tetangganya kelaparan ? ”. Dapatkah kalian menerangkan kepada saya mengapa kalian telah memencilkan kaum wanita di belakang layar kehidupan – padahal wanita di sekitar Nabi dan para sahabatnya memegang peranan agung dalam kehidupan suami mereka ? Betapa sampai kalian, kaum Muslim, banyak diliputi kebodohan dan segelintir saja yang menulis dan membaca – meskipun Nabi kalian menyatakan bahwa :

Menuntut ilmu adalah kewajiban suci bagi setiap Muslim, pria dan wanita”, dan bahwa “Kelebihan orang yang berpengetahuan atas orang yang hanya sekedar saleh bagaikan kelebihan bulan purnama dibandingkan dengan bintang ?

Masih saja tuan rumah itu menatap saya tak berkata-kata, dan saya mulai berpikir bahwa cetusan pertanyaan saya itu agaknya sangat melukainya. Pria yang memegang kecapi itu, karena tak mengerti Bahasa Persia, cukup mengikuti percakapan saya, memandang terus dengan terheran-heran kepada orang asing yang berbicara dengan begitu bernafsu kepada hakim. Akhirnya, yang disebut terakhir ini menarik baju. Kulitnya yang berwarna kuning lagi lebar itu lebih ketat pada badannya, seolah-olah merasa dingin. Kemudian, ia berbisik, “Tetapi – Anda adalah seorang Muslim.”

Saya tertawa dan menjawab, “Tidak, saya bukan seorang Muslim. Tetapi saya mulai melihat kebesaran Islam yang menyebabkan saya kadang-kadang merasa geram memperhatikan kalian menyia-nyiakannya. Maafkan kalau saya berkata terlalu pedas. Saya tak berbicara sebagai seorang musuh.

Namun, sang tuan rumah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, seperti telah saya katakan : Anda adalah seorang Muslim, hanya Anda sendiri tidak menyadarinya. Mengapa tidak Anda ucapkan di sini sekarang juga, Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, dan segera menjadi seorang Muslim yang nyata sebagaimana yang telah bersemayam di dalam kalbu Anda ? Ucapkanlah sekarang, Saudaraku, dan saya akan pergi bersama Anda ke Kabul dan mengantarkan Anda kepada amir, dan ia akan menerima Anda dengan tangan terbuka sebagai seorang di antara kami. Akan diberinya Anda rumah dan kebun serta ternak dan kami semuanya akan mencintai Anda. Katakanlah, Saudaraku.”

“Bila sampai saya mengucapkannya, itu karena pikiran saya telah mendapatkan kedamaiannya dan bukan karena rumah-rumah serta kebun amir.”

“Tetapi,” ia bersikeras, “Anda jauh lebih tahu tentang Islam daripada kebanyakan kami. Apakah yang belum Anda pahami ?”

“Ini bukan soal pengertian. Ini masalah keyakinan. Keyakinan bahwa Al-Quran betul-betul adalah firman Tuhan dan bukan sekadar ciptaan gemilang seorang manusia hebat.”

Namun, kata-kata sahabat saya orang Afghan itu tak pernah meninggalkan saya berbulan-bulan sesudahnya.

baca selengkapnya...

Sunday, January 11, 2009

Mengapa Amerika & Kristen Mendukung Israel

Amerika adalah negara yang paling depan dalam mendukung langkah Israel. Bahkan sebagian (besar) umat Kristen dunia pun demikian. Saya pernah mendengar sendiri kenyataan ini saat diskusi dengan teman yang beragama Kristen. Beberapa waktu yang lalu Hidayatullah juga memberitakan wawancara seorang pendeta dengan Radio Nederland, yang secara jelas mendukung Israel. Rupanya situasi ini memang sudah dirancang sejak dahulu oleh para Zionis. Silakan lihat kembali posting amanah yang berjudul Judeo Christian, Ruh Amerika

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Thursday, January 8, 2009

Dukung Misi MER-C ke Palestina

Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina ? Selain memanjatkan doa yang tulus, kita juga bisa melakukan beberapa langkah ringan seperti mengirim SMS donasi ke 7505, untuk mendukung misi MER-C ke Palestina. Ketik MERC[spasi]PEDULI, kirim ke 7505, maka Anda sudah menyumbang dana sebesar Rp 3.750,- hingga Rp 5.000,- (tergantung operator seluler). MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C berasaskan Islam dan berpegang pada prinsip rahmatan lil'aalamiin.

Para blogger juga bisa memasang banner Dukungan Misi Kemanusiaan MER-C di blognya masing-masing. Banner bisa di-copy dari www.mer-c.org.

baca selengkapnya...

Tuesday, December 30, 2008

Kebaikan Kerajaan Kristen pada Muslim

Ini adalah klip dari film The Message (Ar-Risalah, tahun 1980-an), yang dibintangi oleh Anthony Quinn dan Irene Papas, dan disutradarai oleh Moustapha Akkad. Pada klip ini dikisahkan beberapa Sahabat Nabi yang sedang meminta suaka ke Raja Najasi di Abysinia, karena penindasan yang dilakukan oleh kaum kafir Mekkah. Kerajaan Kristen Abysinia tersebut akhirnya mau melindungi para Muslim, walaupun penguasa kafir Mekkah, yang juga merupakan Sahabat Raja Najasi, telah membujuk Raja agar menolak para Muhajirin.



Lihat koleksi video amanah-land lainnya di Youtube.

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Rekaman Video Haji 2008

Sekedar menginformasikan kembali. Bagi Anda yang baru saja melaksanakan ibadah haji 2008 ini, mungkin dalam beberapa minggu ini masih akan mengalami "mabuk kerinduan" akan suasana kota suci yang baru saja ditinggalkan. Untuk sedikit mengobatinya, Anda bisa berkunjung ke www.haramainrecordings.com. Di situ ada rekaman Sholat Shubuh, Maghrib, dan Isya, setiap hari, di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ada juga rekaman Khutbah Jumat, Khutbah Arafah (di Masjid Namirah), dan Prosesi penggantian Kiswah Kakbah. Rekaman yang berukuran 15-50 MB ini bisa Anda download, untuk dinikmati secara offline.
Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Belajar Bahasa Arab Online

Ada situs bagus banget, yang memberikan pelajaran Bahasa Arab online. Di situ ada suara yang bisa kita dengarkan, sambil melihat skema dan tulisan dari pelajaran yang kita ikuti. Audio berformat MP3 yang kita dengarkan tersebut bisa juga kita download, untuk kita dengarkan secara offline. Nama situsnya adalah Badar Online (Bahasa Arab Dasar).

Pelajaran dumulai dengan mengenal definisi ilmu Nahwu dan Shorof, kemudian dilanjutkan dengan mengenal jenis-jenis huruf, jenis kata, dan seterusnya. Sangat mudah, mendasar, serta enak untuk diikuti. Pelajaran bahasa arab online ini sangat cocok untuk kita yang ingin memulai belajar Bahasa Quran namun tidak memiliki waktu untuk belajar secara formal. Selamat mengikuti... (saya juga sedang mengikuti).

baca selengkapnya...

Saturday, December 27, 2008

Islam is My Choice

Ada buku baru yang berisi kumpulan kisah mualaf, judulnya Islam is My Choice, yang dirangkum oleh Sdr. Dyayadi dan diterbitkan oleh Bumi Aksara. Kali ini saya tidak akan menyajikan salah satu kisahnya di blog ini. Cuma sedikit berbagi cerita saja mengenai buku tersebut.

Beberapa hari yang lalu, saya maen ke Gramedia. Buku warna ungu ini langsung menarik perhatian, karena warna dan judulnya. Kebetulan ada satu yang tidak berbungkus plastik, sehingga saya langsung bisa buka-buka untuk sekedar scanning.

Saya tertarik dengan salah satu judul kisah di dalam buku itu. Lupa judul lengkapnya, tapi ada satu nama yang tertulis di judul itu, Aldo Demeris ..., kayaknya pernah kenal deh sama nama ini. Ya, soalnya saya pernah menulis ulang kisah Aldo Demeris ini di blog amanah dari suatu buku. Saya penasaran, saya baca kisah si Aldo ini dari awal kisah hingga akhir. Dan ketika sampai di ujung tulisan, ada sedikit info bahwa kisah tersebut diambil dari blog amanah-land.blogspot.com. Waa... ternyata keren juga ya blog amanah. Makasih deh, penulis mau nyantumin sumber tulisannya, walaupun saya sendiri juga sekedar menulis ulang dari buku yang pernah saya baca. Kapan ya, saya bisa menerbitkan kumpulan kisah kayak gitu ? Nanti deh, suatu saat, Insya Allah.

Saya lanjutkan lihat-lihat judul dan kisah yang lain. Sepintas terkesan bagus, bahasanya juga enak diikuti. Dan rupanya kisah-kisahnya memang pilihan terbaik dari sang perangkumnya. Sayangnya, belum puas baca-baca, keburu ada call untuk jemput istri...

baca selengkapnya...

Monday, December 8, 2008

Live Video Haji 24 Jam

Tahun lalu saya pernah memposting informasi perihal Liputan Haji 24 Jam di Internet. Ternyata Channel Saudi 1 dan 2, channel untuk melihat live video haji, saat ini nggak bisa dibuka. Setelah saya cari-cari, ternyata live video haji bisa dipantau di channel Noor TV. Alhamdulillah ... Bisa lihat kondisi Makkah dan Madinah lagi selama acara hajian.

O ya, kalo temen-temen ada yang tahu TV Cable di Indonesia yang memiliki konten TV-TV Islam & Timur Tengah, bisa di infokan dong... Terima kasih.

baca selengkapnya...

Monday, December 1, 2008

Michael Jackson Masuk Islam

LONDON (Suaramedia) Legenda hidup pop dunia Michael Jackson dikabarkan telah memeluk agama Islam. Setelah melepas status sebagai pemeluk Saksi Jehovah, Michael Jackson berganti nama menjadi Mikaeel Jackson.

Menurut koran Inggris The Sun, Jacko -nama beken Jackson- mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah sahabatnya yang juga komposer album terlaris Thriller, Steve Porcaro, di Los Angeles dan dihadiri seorang penyanyi ternama, Yosef Islam – dulunya bernama Cat Steven sebelum masuk Islam. Dalam momen religius tersebut, Jacko duduk di lantai dengan menggunakan topi kecil berwarna hitam dan dipandu seorang imam.

Kabar menghebohkan datang dari si King of Pop Michael Jackson. Penyanyi yang akrab disapa Jacko itu disebut-sebut telah memeluk agama Islam.
Jacko memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah temannya di Los Angeles, Amerika Serikat. Nama Jacko pun berubah menjadi Mikaeel.

"Mikaeel adalah nama salah satu malaikat dalam Islam," ujar seorang sumber. Jacko sebenarnya sempat ditawari nama Mustafa, namun ditolaknya .

Saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Jacko duduk di lantai dengan mengenakan topi kecil. Momen tersebut berlangsung sangat khidmat.

Jacko memutuskan masuk Islam setelah ia mendengarkan pengalaman produser dan penulis albumnya. Kedua orang tersebut meyakinkan pelantun 'Ben' itu, bahwa setelah menjadi muslim hidup mereka lebih baik.

"Seorang imam pun kemudian dipanggil dari sebuah masjid untuk menuntun Micahel membaca dua kalimat syahadat," lanjut si sumber.

Setelah memeluk Islam, Jacko dikabarkan terbang ke Mekkah.

Raja Pop – yang sebelumnya pernah disidangkan karena dituduh melakukan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur beberapa kali – kembali disidangkan setelah Sheikh Abdullah Bin Hamad al-Khalifa,anak kedua Raja Bahrain, mengajukan tuntutan terhadap Jackson karena telah mengingkari perjanjian untuk merekam album baru dan meminjam uang sebesar $ 7 juta.
kalangan musisi, sejumlah nama juga akhirnya mengucapkan syahadat. Mereka antara lain John Coltrane (pencipta dan saksoponis jazz), Art Blakey (musisi jazz), dan tentu saja Cat Stevens (penyanyi rock Inggris). Setelah memeluk Islam, Cat Stevens pun berganti nama jadi Yusuf Islam.

Di kalangan olahraga, yang paling banyak adalah petinju dan bintang basket. Paling terkenal tentu Muhammad Ali, mantan juara dunia yang dulu bernama Cassius Clay. Setelah itu ada pula Matthew Saad Muhammad, Dwight Muhammad Qawi, Eddie Mustapha Muhammad, Chris Eubank, dan Mike Tyson.

Tyson berganti nama jadi Malik Abdul Aziz setelah masuk Nation of Islam. Dia menjadi muslim saat berada di penjara karena keterlibatan dalam kasus pemerkosaan.

Islam pula yang menyelamatkan Tyson dari sebuah rencana pembunuhan pada tahun 2000. Saat itu, namanya sudah beredar di antara orang yang akan jadi sasaran pembunuhan kelompok Cash Money Brothers.

“Kelompok ini bahkan sudah mengintai Tyson beberapa bulan kemudian dan siap menembak. Tapi, rencana pembunuhannya urung dilaksanakan karena Tyson adalah seorang Muslim,” ujar Shelby Henderson, anggota geng tersebut dalam kesaksiannya di pengadilan federal Brooklyn, Juni lalu. dikutip Oleh http://www.suaramedia.com

Sebelum memutuskan beralih memeluk Islam, Michael Jackson ternyata telah beramal dan memberikan sumbangsih untuk dunia Islam. Dia memberikan sumbangan tak sedikit untuk pembangunan sebuah mesjid di Manama, Bahrain.

Mesjid tersebut dibangun dengan keindahan seni yang luar biasa. Mesjid itu terletak di dekat rumah Jackson yang mewah di ibukota Bahrain itu.

“Mesjid itu didesain sekaligus sebagai tempat belajar prinsip dan pelajaran Islam. Juga dibangun tempat belajar bahasa Inggris. Guru-guru dengan standar tinggi didatangkan dari Amerika Serikat di bawah supervisinya,” ujar juru bicara panitia pembangunan mesjid itu.

Pada awalnya, Jackson melakukan hal tersebut sebagai bentuk apresiasinya terhadap masyarakat Bahrain. Masyarakat setempat menyambutnya dengan baik dan memperlakukannya seakan-akan dia adalah warga negara Bahrain.

Mikaeel, begitu namanya setelah memeluk Islam, bukanlah orang pertama di keluarga besar Jackson yang berpindah agama menjadi muslim. Sebelumnya, kakaknya, Jermaine Jackson yang sudah tinggal di Bahrain, juga memeluk Islam. Info News http://www.dailymail.co.uk & (arby/suaramedia) Click Video Dikutip oleh http://www.suaramedia.com

baca selengkapnya...

Saturday, November 22, 2008

Klip Film Perang Salib - Salahudin

Ini adalah klip dari salah satu babak perang salib, dimana Salahudin Al Ayubi setelah mengalahkan pasukan salib, secara bijaksana membiarkan sisa pasukan beserta keluarganya keluar dari Yerusalem dengan aman. Klip serupa pernah saya tampilkan di blog ini, namun saat itu tanpa teks Indonesia. Untuk klip yang ini dengan teks Indonesia. Film ini berjudul Kingdom Of Heaven(2005), produksi 20th Century Fox, dan pemeran utamanya adalah Orlando Bloom.



Saat itu tahun 1187, Yerusalem dikuasai oleh penguasa Kristen, yang telah berdamai dengan pihak Muslim. Terdapat kesepakatan bahwa Yerusalem tetap bisa diziarahi oleh semua pihak secara aman. Namun, di pihak Kristen, terdapat beberapa tokoh saling beda pendapat mengenai pengelolaan kekuasaan Yerusalem. Perbedaan pendapat ini melahirkan tindakan yang tidak terkendali dari salah satu pihak Kristen yang menyebabkan terbunuhnya rombongan peziarah Muslim. Dengan adanya kejadian ini, maka gugurlah kesepakatan damai antara Kristen dan Muslim. Akhirnya Salahudin memimpin pasukan Muslim merebut kembali Yerusalem.

Seru. Rugi kalo nggak nonton sendiri...

baca selengkapnya...

Wednesday, November 12, 2008

Legiun Muslim di Kancah Eropa

Ada buku baru terbitan Bentang Pustaka, yang berisi profil para pemain sepakbola Muslim di Eropa. Bagi temen-temen yang suka kisah mualaf, sekaligus suka (nonton) sepakbola, pasti akan sangat menikmati buku ini.

Berikut ini adalah kutipan sinopsis dari situs bukukita.com, yang menjual buku tersebut secara online :

SINOPSIS BUKU - Legiun Muslim di Kancah Eropa
SEPAKBOLA adalah bahasa universal. Bahasa yang dipertontonkan lewat olah teknik, kekuatan fisik, serta keampuhan taktik dan strategi. Lebih dari itu, sepakbola adalah sebuah komunitas yang di dalamnya sarat pluralisme.

Dalam kamus lapangan hijau, ranah Eropa memang kental dengan sebutan surganya sepakbola. Sepakbola Eropa seolah tak mengenal batas. Pemain dari penjuru dunia berhak menginjakkan kaki dan unjuk kebolehan.

Serbuan legiun muslim di Eropa kini tak terelakkan di tengah berbagai sorotan. Klub-klub besar sekaligus tenar Eropa ramai-ramai mendatangkan pemain bertalenta tinggi. Jumlah pesepakbola muslim di Eropa pun meningkat secara signifikan. Kehadiran pemain muslim sedikit banyak telah mengubah warna sepakbola Eropa.

Kiprah legiun muslim di Eropa tak hanya didominasi pemain asal Afrika. Mereka justru muncul dari tanah Eropa sendiri, dari keturunan para imigrah hingga para mualaf. Mereka dengan mantap melangkah dan meyakini Islam sebagai panduan dan kunci sukses hidupnya. Mereka semua menjelma menjadi pemain kunci di lapangan hijau.

Buku ini akan mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh tentang prestasi, kiprah di lapangan, keyakinannya terhadap Islam, serta pencitraan positif yang ditunjukkan para legiun muslim di jagat sepakbola Eropa. Buku ini juga akan menggugah inspirasi, karena sejatinya Islam itu bukan melemahkan, tetapi justru menguatkan kehidupan.

Selamat membaca

baca selengkapnya...

Saturday, November 8, 2008

Pendeta Yahudi Turki Terkemuka Memeluk Islam

Hidayatullah.com--Baru-baru ini Turki tengah mengalami sebuah sejarah besar dan fenomenal. Seorang pendeta Yahudi Turki terkemuka, Aaron Kohen, bersama keluarganya memutuskan diri mereka untuk memeluk agama Islam.

Harian Turki berbahasa Arab, Akhbaralaalam (5/11) mengabarkan, Kohin (45) dan keluarganya mengikrarkan keislaman mereka di hadapan mufti Istanbul, Syaikh Bey Oglu, sejak sebulan silam. Namun, mereka baru mengumumkannya ke khalayak luas pada awal bulan ini.

“Saya sangat menghormati ketiga agama samawi. Agama Islam adalah agama yang memeluk semuanya. Asas inti ketiga agama hadir dalam Al-Quran,” ujar Kohen, sebagaimana dikutip Harian Hürriyet.

Kohen juga mengatakan, bahwa ajaran dan syari'at agama Islam benar-benar memuat, melengkapi, dan menyempurnakan syari'at agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen. "Dalam kitab suci Al-Quran, sesungguhnya terkumpul ajaran-ajaran mulia agama-agama sebelumnya," tambah Kohin.

Terkait alasan mengapa Aaron Kohen memilih Islam, pendeta muda yang mengaku menghaiskan hampir 20 tahun di kehidupan sinagog Istanbul itu mengatakan, dirinya telah mengkaji secara mendalam antara akidah dan syari'ah Yahudi, Kristen, dan Islam.

"Dan saya memutuskan untuk memeluk Islam karena saya dan keluarga saya ingin mendapatkan kebahagiaan hidup sejati," tegasnya.

Kohen memeluk Islam bersama istrinya, Filori dan anaknya. Sikapnya berganti agama sempat mengundang kecaman. Bahkan untuk menebus keislamannya, Kohen harus menghadapi beberapa tantangan dari komunitas Yahudi nya terdulu.

"Saya banyak menerima kritik dan kecaman dari saudra-saudara Yahudi saya," ujar Kohen. “Saya tidak peduli akan reaksinya. “Kedamaian dalam hati saya jauh lebih penting bagi saya,” tambahnya.

Turki tercatat sebagai negara Muslim yang memiliki sejarah gemilang terkait hidup berdampingan dengan umat Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi mengalami pengusiran di Spanyol (abad ke-16 M), dan negara-negara Eropa menolak untuk menerima mereka, justru kekaiasran Islam Turki-Utsmani-lah yang dengan sukarela membukakan pintu untuk menolong mereka.
Hingga saat ini, populasi umat Yahudi di Turki terbilang signifikan. Di Istanbul saja, terdapat sekitar 200.000 pemeluk agama Yahudi. Yahudi Turki, sebagaimana yahudi-Yahudi yang hidup di negara-negara Muslim lainnya, disebut juga sebagai "Yahudi Timur". [akhbar/hurriyet/qantara/ atjeng/cha/www.hidayatullah.com]

kunjungi : www.hidayatullah.com

baca selengkapnya...

Tag der Offenen Moschee, Open House Masjid di Jerman

judul asli : Integrasi Muslim Jerman: Dari Dialog menuju Rahmatan lil’alamin

Hidayatullah.com--“Kamu pasti bersyukur sekali ya, punya Masjid di sini. Ada satu hal yang membuat kami iri kepada kalian, yaitu suasana ukhuwah (geschlossenheit) kalian begitu terasa saat aku masuk ke mesjid untuk pertama kali. Rasa persaudaraan ini yang sudah sejak lama hilang di kehidupan kami”, demikian komentar salah seorang warga non-muslim Jerman yang berkunjung ke Masjid Ali di Kostheim, sebuah kota yang terletak 30 km dari kota metropolitan Frankfurt.

Hari Jum’at, 3 Oktober 2008 lalu, sejumlah masjid di seluruh Jerman mengadakan acara ”Tag der Offenen Moschee” (Open House Masjid) secara serempak. Acara ini menjadi kegiatan rutin tahunan sejak 12 tahun dengan memanfaatkan momentum hari libur nasional Jerman dalam rangka memperingati Hari Persatuan Jerman, yang jatuh pada tanggal 3 Oktober.

Berbagai organisasi Islam yang mewakili 3,5 juta muslim di Jerman hari itu menyiapkan berbagai program guna menyambut warga setempat yang hendak berkunjung ke masjid. Termasuk Masjid Al Falah Berlin yang sebagian besar jamaah masjidnya berasal dari Indonesia dan Masjid Ali Kostheim yang dibangun oleh muslim pendatang dari Maroko.

Program Open House di Masjid Al Falah dimulai pada pukul 13:30 dengan memberi kesempatan kepada warga Jerman untuk mengikuti jalannya shalat Jum’at. Khotbah Jum’at yang dibawakan dalam bahasa Indonesia dan Jerman. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kehidupan dan budaya muslim di Indonesia, melihat ruangan masjid dan dialog tentang Islam.

Hari itu halaman Masjid Ali juga nampak istimewa dengan dekorasi bernuansa Maroko guna menyambut warga Jerman setempat yang ingin mengenal Islam lebih lanjut. Tamu yang datang silih berganti memaksa panitia mengadakan program keliling masjid dalam beberapa kloter. Warga Jerman dari berbagai latar belakang, seperti jurnalis, aktifis gereja, tokoh pemuda dan masyarakat sangat antusias mengikuti shalat dan khotbah Jum’at yang di bawakan dalam bahasa Arab dan Jerman. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi kegiatan jamaah masjid dan dialog tentang Islam.

Peran Penting Dialog Dalam Bermasyarakat
Dalam poster-poster yang terpajang di dinding masjid, Masjid Ali mencoba mengenang kembali perjalanan panjang proses pendirian sebuah Masjid di lingkungan yang sangat buta tentang Islam, bahkan cenderung negatif terhadap seorang muslim. Hampir 10 tahun lamanya kaum muslimin di kota Kostheim / Wiesbaden mencoba melakukan dialog terus-menerus dengan pemerintah dan masyarakat, hingga mereka mau menerima kehadiran sebuah bangunan masjid berkubah dilingkungan mereka pada tahun 2002.

”Terutama dimasa-masa serangan teror dan kasus karikatur nabi, banyak bermunculan tuduhan-tuduhan negatif terhadap Islam”, papar Nasri Said, Ketua Takmir Masjid Ali. ”Maka kita harus memberikan penjelasan, mengundang warga setempat untuk datang dan berdialog di masjid dalam suasana yang tenang”, lanjut Said.

Selain dialog dengan berbagai tokoh masyarakat, anggota jamaah masjid Ali juga diharapkan aktif di masyarakat dan mendukung proses integrasi Muslim di Jerman. Ibu rumah tangga mendapat kesempatan belajar bahasa Jerman di masjid serta mendorong agar terlibat aktif dalam pertemuan-pertemuan wali murid di sekolah serta mengajukan diri untuk dipilih menjadi pengurus perwakilan wali murid.

Diluar itu kalangan muslimah juga secara rutin mengadakan dialog dengan anggota perempuan jamaah gereja setempat membahas berbagai persoalan dan menghapus rasa kecurigaan di antara mereka.

Program Open House Masjid diakhiri dengan bincang-bincang ringan di halaman masjid sambil menikmati kopi dan kue khas Maroko. Dalam obrolan terungkap, cukup banyak alasan untuk menghadiri acara Open House Masjid hari ini. Ada yang karena anaknya memeluk Islam, karena punya kenalan muslim, memiliki tetangga yang salah satu anaknya memeluk Islam, ada yang tertarik karena setiap kali membuka jendela flat rumahnya, terlihat kubah masjid yang indah dan lain sebagainya.

Seorang pengunjung merasa terharu menyaksikan ratusan muslim bersujud dengan penuh keimanan yang mendalam ketika shalat Jum’at. Dua orang pelajar dari Louise-Schroeder Scule Jerman menyempatkan hadir ke masjid untuk bertanya seputar posisi wanita dalam Islam untuk bahan proyek mereka di sekolah. ”Sebelumnya saya memiliki gambaran yang sangat berbeda, angker dan keras. Tetapi hari ini saya merasakan bahwa mereka sangat santun dan menyambut kami dengan penuh kehangatan,” komentar salah satu remaja putri tersebut. Seorang anak muda Jerman lain lagi komentarnya, ”Setelah saya mendengarkan khotbah Jum’at tadi, pandangan saya terhadap muslim telah berubah 180°. Kalau semua muslim melaksanakan ajaran Islam dengan benar, saya yakin dunia akan aman dan damai,”

Peran Sentral Masjid
Masjid masih termasuk sesuatu yang sangat langka di Jerman, meskipun dari waktu ke waktu semakin mudah untuk mendapatkan masjid di setiap kota. Selain itu perkembangan Islam sendiri di Jerman mengalami kemajuan yang luar biasa. Rata-rata 1000 warga negara keturunan Jerman memeluk Islam setiap tahunnya dan kebanyakan dari mereka adalah para profesional dan sarjana. Pemandangan berupa pelajar atau mahasiswa bule sedang shalat di masjid semakin menjadi hal yang biasa dan semakin marak.

Kehadiran masjid ditengah-tengah masyarakat seolah menjadi mercusuar yang mampu memancarkan cahaya Islam, sebagai pusat ilmu dan informasi penerangan. Menjadi pusat ibadah umat Islam, pendidikan Islam anak-anak dengan sekolah Al-Quran dan Bahasa Arab. Menjadi pusat belanja untuk memenuhi keperluan daging halal dan kebutuhan sehari-hari umat Islam. Menjadi Sport Club dan tempat bermain bagi anak-anak dan remaja muslim. Selain juga menjadi lembaga kursus bahasa dan bimbingan belajar.

Dengan adanya masjid pula, salah satu kewajiban muslim untuk mengenalkan Islam kepada yang lain menjadi lebih mudah. Banyak diantara orang Jerman yang memiliki kenalan Muslim, ingin diantar ke masjid. Dengan masuk langsung ke masjid dan mengikuti salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh masjid, semakin membuka pikiran mereka dan menghapuskan pandangan mereka selama ini yang salah terhadap Islam.

Pelan namun pasti, Islam mulai mendapatkan simpati dan masyarakat mulai merasa nyaman untuk hidup bersamanya. Seperti yang ditunjukkan oleh sebagian besar warga Jerman di kota Cologne yang membela dan mendukung proyek pendirian sebuah masjid besar di kota tersebut, ketika ditentang oleh sebuah partai berhaluan ekstrem kanan. [ Tieneke Ayuningrum. Ketua Kewanitaan Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Jerman]

kunjungi : www.hidayatullah.com

baca selengkapnya...

Friday, November 7, 2008

Download Ebook Kristologi Gratis

Untuk rekan-rekan yang sering berinteraksi dengan teman-teman Nasrani, dan sering diajak diskusi mengenai Islam-Kristen, ada baiknya mengoleksi ebook Kristologi gratis yang ada di situs pakdenono.com. Silakan kunjungi http://www.pakdenono.com/home.htm lalu menuju ke bagian bawah halaman, dan temukan folder download christology ebook. Bagi rekan-rekan mualaf, saya yakin ebook ini juga sangat bermanfaat untuk memperkuat dan memantapkan keislamannya. Selamat mendownload ...

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Sunday, November 2, 2008

Pertanyaan Teologis Jameelah

Suatu sore di musim gugur terasa sejuk dan cerah. Aku yakin telah mengucapkan beberapa patah kata tentang Alquran kepada Jameelah ketika ia menyelaku, "Ayah, aku paham bahwa ketika menjadi seorang ateis, Ayah mempunyai pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang jawaban-jawabannya tak dapat Ayah temukan, dan bahwa Ayah baru menemukan jawaban-jawabannya setelah membaca Alquran. Tapi, aku masih belum mengerti apa yang membuat Ayah jadi seorang Muslim?"

"Apa maksudmu?" tanyaku seraya memperlambat langkah kami.

"Maksudku, meski Ayah tak mempunyai argumen-argumen lain yang menyanggah adanya Tuhan, tak berarti bahwa Dia ada."

"Sebuah pertanyaan yang amat jeli!" kataku dengan sesungging senyum kekaguman. " Aku tak pernah menduga kalimat itu akan keluar dari mulut seorang anak seusiamu!"

Penjelasan yang kemudian kusampaikan kepadanya tentang bagaimana aku masuk Islam serupa dengan uraian pada bab sebelumnya bagian "Jangan Menolak Bimbingan-Nya". Aku terangkan kepadanya bahwa setelah bersikap lebih terbuka terhadap kemungkinan adanya Tuhan, aku mulai memperoleh beberapa pengalaman spiritual yang intens selama membaca Alquran.

"Apa yang mendorong Ayah berpikir bahwa pengalaman-pengalaman itu berasal dari Allah?" tanyanya.

"Mula-mula aku tak mempercayai mereka," kataku. "Aku meragukan mereka, tetapi selanjutnya aku berpikir bahwa mereka memang benar. Tak berapa lama, aku tahu dari mana mereka berasal. Seolah-olah, aku senantiasa mengenal Tuhan, namun suatu saat aku mengalami semacam trauma spiritual dan kemudian melupakan mereka. Aku seperti baru sembuh dari amnesia [kehilangan daya ingat]. Kukira kita mempunyai rasa spiritual yang alamiah dan kuat tentang Tuhan, tetapi kita mengabaikan, menolak, atau tak memercayainya. Apakah kau dapat menangkap maksud perkataanku?"

"Ayah," Jameelah menatapku dengan matanya yang belok, cokelat, dan indah, "itulah hal paling dungu yang pernah kudengar."

"Mengapa kau mengatakannya demikian?" tanyaku dengan perasaan kecut.

"Sebab, aku tahu bahwa aku sama sekali tak mengetahui Tuhan," katanya. "Aku tak memiliki sara alamiah tentang Tuhan."

Kami terus bercakap-cakap. Aku merasa alangkah bodoh diriku yang coba memberikan penjelasan semacam itu. Sebetulnya, aku tak sepenuhnya menyadari masa transisiku dari penolakan, kemudian keraguan, dan menuju keyakinan; bagaimana mungkin aku menerangkan rasa itu kepada seorang bocah berumur sebelas tahun? Ia belum cukup umur dan belum mempunyai cukup pengalaman untuk memahami apa yang kukatakan. Sekalipun ia telah lebih dewasa, bagaimana ia bisa memahaminya padahal tak pernah mengalami hal yang sama? Apakah aku telah mengetahui Tuhan ketika seusianya; apakah aku memiliki kesadaran alamiah akan keberadaan-Nya? Yang kuingat hanyalah bahwa semasa kecil, aku biasa memohon kepada Tuhan untuk mengusir ayahku.

Lantas, terpikirkan olehku sesuatu yang lain. "Jameelah, apakah kauingat saat aku dibawa ambulan ke rumah sakit bulan Juli lalu?"

"Ya," jawabnya tampak bingung.

"Dan apakah kamu ingat bagaimana tubuhku dimasuki selang-selang dan dibantu tabung-tabung itu, dan kemudian mereka membawaku dengan sebuah usungan ke ambulan, dan aku tak dapat bergerak; aku gemetar dan sulit bernapas?"

"Ya," jawabnya dengan sedih.

"Dan kamu ingat bagaimana kamu berdiri di sampingku dan bertanya dengan suara bergetar apakah aku akan mati?"

"Ya," jawabnya dengan air mata yang mulai berlinang.

"Sesudah mereka membawaku ke rumah sakit, apakah kau pada siang atau malam itu berdoa kepada Tuhan agar ayahmu tak meninggal dan menjaganya tetap hidup? Apakah kau memohon pertolongan-Nya?"

"Ya," katanya sedikit jengkel dan ingin tahu mengapa aku terus mencecarnya.

"Apakah kau berdoa pada keesokan harinya?"

"Ya!" katanya seperti suara seorang saksi yang enggan berbicara dalam sebuah sidang pengadilan.

"Dan pada hari-hari berikutnya?"

"Ya!" jawabnya dengan suara yang sepertinya memintaku untuk berhenti mencecarnya.

"Siapa yang mengajarimu berdoa seperti itu? Siapa yang menyuruhmu berbicara dengan Tuhan?"

Ia diam sejenak, mungkin untuk memikirkan jawabannya.

"Ayah yang mengajariku cara berdoa seperti itu," jawabnya dengan nada kurang percaya diri.

"Maksudku bukan yang mengajari berdoa dalam bahasa Arab, tetapi siapa yang mendorongmu berbicara dengan Tuhan, berkomunikasi dengan-Nya secara pribadi? Apakah Ayah atau orang lain pernah mengajari agar kamu membayangkan dirimu berbicara dengan-Nya, agar kamu mencari kata-kata yang ingin kau ucapkan, dan kemudian Tuhan mendengarnya?"

"Tidak."

"Apakah Ayah atu orang lain pernah memberimu contoh bagaimana berbicara dengan Tuhan?"

"Tidak."

"Sungguh?"

"Ya!"

"Mungkin ibumu, atau salah satu nenkmu, atau salah seorang paman atau bibimu mengajari demikian?"

"Tidak!"

"Jadi siapa yang mengajarimu? Bagaimana kau tahu dan bisa langsung melakukannya begitu saja?"

"Tak ada seorangpun yang mengajariku!" tegasnya. "Aku tahu begitu saja!"
Mimik memelas di wajahnya membuatku berharap tak pernah melewati hari itu, sebab aku sama sekali tak ingin menyakitinya sedikit pun.

"Baiklah," kataku, "Mungkin kau memang mempunyai sebuah kesadaran alamiah tentang Tuhan -- mungkin begitulah cara kau mengetahui dan melakukannya. Dan, seperti itulah pengalamanku. Tiba-tiba saja aku tahu bahwa Tuhan mendatangiku lewat ayat-ayat Alquran dan peristiwa-peristiwa spiritual. Kesadaran alamiah tersebut membuatku mengetahui-Nya -- barangkali karena secara spiritual aku lama sekali tak sadarkan diri -- tetapi mendadak aku tahu begitu saja." [*]

Ditulis ulang dari Buku Aku Beriman, maka Aku Bertanya, Jeffrey Lang, Serambi, Jakarta, 2008

Kunjungi penerbit : SERAMBI

baca selengkapnya...

Akhirnya Kutemukan

Hampir setahun yang lalu saya beli buku kecil berjudul Satanic Finance, karya A. Riawan Amin. Ketika muncul isu krisis keuangan global ahir-akhir ini, saya mencoba membuka-buka lagi buku karya Dirut Bank Muamalat dan Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia itu. Karena membacanya sambil melakukan perjalanan kesana-kemari, maka baru beberapa halaman dibaca, buku tersebut menghilang, entah ketlisut di mana. Kucari-cari tidak ketemu juga. Wah, ini nggak bisa dibiarkan, saya harus beli lagi.

Saya telepon ke Gramedia Malang, orang Gramedia bilang buku tersebut sudah tidak ada. Telepon ke Togamas Malang, sama, sudah nggak jual lagi. Saya kunjungi Gramedia Basuki Rahmat Surabaya, nggak ada juga. Togamas Surabaya, setali tiga uang. Wah, gimana nih. Padahal saya sedang penasaran betul mengenai topik bahasan sekitar sistem keuangan yang saat ini sedang digunakan oleh perbankan internasional, terlebih lagi masalah moneter, sektor riil, bank sentral, filosofi uang kertas, dll.

Saat lagi jalan-jalan di Matahari Pasar Besar Malang, Alhamdulillah akhirnya saya menemukan buku tersebut di Toko Buku Kurnia Agung, yang berada satu lantai dengan Matahari. Wow, lega sekali rasanya. Bagi yang masih penasaran dengan topik-topik yang saya sebut di atas, kayaknya perlu baca buku ini deh ... Selamat berburu.

baca selengkapnya...

Saturday, November 1, 2008

Ayesha,Tertarik Islam Karena Jilbab

Hidayatullah.com-- Namanya Ayesha Islam. Dia dilahirkan di Polandia, tapi besar di Denmark dan Swedia. Jadi, bisa dikatakan telah mengenal dunia internasional sejak kecil. Perjalanannya menuju Islam dimulai tahun 1995 saat masih di Swedia. Di sanalah Ayesha berjumpa dengan muslim asal Lebanon . Meskipun mereka itu tidak begitu agamis, bahkan mereka tak pernah menceritakan pada Ayesha apa itu Islam, namun mereka cukup punya kesan mendalam dalam perjalanannya menuju Islam.

“Karena dengan merekalah saya pertamakali berada dalam lingkungan muslim,” katanya. Dalam sebuah parade di AS dia berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut menonton pawai tersebut. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dan akhirnya bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.

Hidup ini merupakan perjalanan dan kematian bagian dari perjalanan itu sendiri. (Ayesha Islam, 2005)

“Untuk beberapa alasan saya selalu merasa bisa menjadi diri sendiri kala berkumpul dengan orang-orang Islam kendati pada saat yang sama saya dianggap asing oleh warga di sekitar tempat tinggal. Begitupun saya berupaya untuk tetap mengikuti gaya hidup mereka, meskipun sebenarnya saya sendiri tidak suka. Misalnya, saya tidak pernah mengenakan pakaian ketat, tidak suka pakai make up, atau ikut-ikutan ke bar, minum-minuman keras. Sejak kecil saya hanya punya keinginan jika sudah besar ingin berkeluarga, lalu memiliki anak dan hidup tentram bahagia dalam kesederhanaan. Hanya itu. Simpel saja,” tutur Ayesha tentang gaya hidupnya.

Namun ketika memasuki usia 18 tahun, tiba-tiba dia punya keinginan jadi psikolog. Karena cita-cita itu pula Ayesha terbang ke AS, untuk ketigakalinya, di tahun 2001. Disana dia belajar ilmu kesehatan mental dan psikologi kriminal. Satu hari dia berada di tengah-tengah kota Manhattan, tepatnya di sekitar America Avenue .

“Saat itu saya sedang dalam perjalanan ke gereja Swedia untuk mengikuti satu pelajaran. Untuk mencapai gereja itu biasanya saya jalan kaki dari 5th Avenue ke 48th Street. Tapi hari itu, tepatnya 19 Juni 2005, saya putuskan untuk melintasi kawasan America Avenue untuk menikmati suasana keramaian yang sedang digelar disitu,” kenangnya.

“Ternyata sedang ada parade atau pawai internasional disana. Saya berpapasan dengan beberapa wanita berjilbab yang juga ikut nonton. Serta merta saya dekati mereka seraya mengatakan saya tertarik belaar Islam. Itulah awal dari semuanya. Selepas pertemuan itu Ayesha rajin mengikuti pengajian dengan beberapa muslim Yaman,” kata Ayesha lagi.

Ayesha mulai mengumpulkan buku-buku Islam dan juga mengenakan jilbab. Jilbab, ketika itu hanya dia pakai ketika berada di kereta bawah tanah. “Seorang muslim asal Maroko menghadiahi saya film “The Message” yang berkisah tentang perjuangan Rasulullah SAW. Film ini sangat mempengaruhi kehidupan saya,” sebut Ayesha. Dia bahkan mulai mencoba ikut puasa selama Ramadhan.

Muslimah Maroko itu juga menerangkan tentang ucapan khusus kala seseorang mau masuk Islam. Ayesha bahkan mulai “mendakwahi” orang-orang terdekat kendati belum bersyahadah. “Saya bilang pada orang-orang, sekali Anda mengetuk pintu Islam, maka Anda pasti tak ingin keluar lagi karena agama ini punya ideologi dan cara hidup yang begitu indah,” tukasnya.

“Saya benar-benar butuh perubahan identitas yang drastis. Saya bahkan mengubah sendiri nama menjadi Laila di saat merayakan ultah ke-30. Di usia itu pula saya menerima Islam dan menjadi seorang muslim,” kenang Ayesha lagi yang bersyahadah pertengahan 2005 silam.

Teman-teman dan anggota keluarganya sangat ingin mendengar tentang perubahan yang muncul dari dirinya. Tapi di saat Ayesha mulai bercerita tentang Islam, mereka pada menyingkir pergi dan tak mau lagi mendengarkan apa itu Islam. “Tak apa-apa, mereka tak mau dengar. Justru saya jadi ingin tahu hingga mencari-cari kira-kira cerita apa yang mereka suka dari Islam,” kenang Ayesha.

“Lucu sebenarnya, padahal tak ada yang berubah dari saya. Saya masih orang yang sama dan pribadi juga tak berubah. Saya masih menyintai siapa saja. Saya masih suka berbagi pengalaman dengan kalangan mana saja tanpa membeda-bedakan status. Begitu juga sekarang, saya merasakan nikmatnya Islam. Karena itu saya musti ceritakan juga kepada orang lain. Berbagi makanan yang nikmat bagi jiwa. Persis seperti kita sharing info tentang makanan enak di suatu restoran ataupun buku bagus bagi rekan sejawat dan keluarga kita. Simpel kan ,” terang Ayesha lagi.

Ayesha sejak lama suka berkirim email dengan teman-temannya. Hingga mereka itu persis seperti saudara sendiri. Tapi kemudian mereka seperti menjaga jarak.

“Mereka menjauhi saya karena takut tersentuh “makanan” yang nikmat ini. Dengan kata lain, mereka tak percaya dengan pilihan hidup saya yang baru itu,” kisah dia.

Adapun anggota keluarganya juga mulai jengah dengan keislamannya itu. “Ibu pun sangat peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Saya dikatakan jelek dan berjalan terlalu jauh. Tapi jika saya ngambek dan menyembunyikan diri di kamar, dia masih masih mau mendengar tentang Islam. Namun anggota keluarga yang lain merasa malu karena keislaman saya,” kata Ayesha.

Pola pikir Ayesha makin hari makin berubah. Dia mulai realistis dengan hidup, makin peduli dan respek terhadap sesama, menerima dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat banyak, tidak egois dan perubahan-perubahan positif lainnya.

Dia berupaya dekat dengan Allah dan mengkondisikan dirinya seolah-olah senantiasa diawasi oleh-Nya. “Ini sangat membantu saya untuk selalu berperilaku baik dan ingat dengan tujuan hidup sebenarnya,” aku dia.

“Dulu saya paling sulit dan gengsi mengatakan "tidak", tapi sekarang saya berani bilang "tidak" jika saya tidak bisa mengerjakan sesuatu hal. Jujur pada diri sendiri, itulah yang saya peroleh dalam Islam. Dengan begitu kita akan makin kenal dengan diri kita sendiri. Kita akan makin respek, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Lebih dari itu, Islam membuat saya kembali “hidup” di dunia ini, persis baru pertama dilahirkan,” terangnya lagi.

“Sejujurnya, saya dulu tak merasakan kenikmatan dalam hidup. Saya, semasih kecil, merasa asing di dunia ini. Sebabnya, saya lahir di luar nikah. Orang tua saya menyebut, kehadiran saya di luar perencanaan. Hingga saat ini saya tak punya seseorang yang bisa dipanggil sebagai ayah,” tandasnya.

“Tapi kini saya tahu itu bukan sebuah hal yang patut disesali. Allah adalah Maha Pencipta. Allah Maha tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bukanlah kesalahan Allah hingga melahirkan saya dengan cara seperti itu. Hingga saya tak punya ayah biologi. Hingga saya terlahir dari orantua non-muslim. Allah maha bijaksana,” katanya penuh keikhlasan.

Kini Ayesha merasa enjoy dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Kemanapun dia pergi, tak ada rasa takut dan malu. “Saya kini merasa bebas seperti burung yang bebas terbang tanpa ada rasa takut jatuh. Begitu pula saya dengan pakaian ini. Saya juga rasakan kenikmatan ketika shalat,” ungkap Ayesha yang kembali menekuni studinya di bidang psikologi dengan tetap berjilbab.

Dia bahkan mengaku tak ragu jika satu ketika musti kehilangan rumah tempat tinggalnya alias diusir dari rumahnya sendiri. “Islam membuat saya makin kuat,” kata Ayesha yang mulai fokus dengan studi dan berharap bisa menikah segera serta memilih bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga. Wallahu alam bisshawab. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]

baca selengkapnya...

Wednesday, September 24, 2008

Profesor Wanita Amerika Masuk Islam



Subhanallah, Allahu Akbar ...

baca selengkapnya...