Wednesday, October 12, 2011

Lamaran Bahasa Jawa

Secara mengejutkan, saya diminta untuk mewakili Om saya dalam acara acara lamaran calon mempelai wanita untuk putranya. Wah, sudah setua itukah diriku ? Usut punya usut, ternyata alasannya adalah karena saya seorang native speaker Bahasa Jawa.

Karena ini debut pertama, dengan serius saya menggubah susunan kata-kata lamaran, yang kemudian saya konsultasikan via telepon ke Bapak saya. Beliau sudah sering berpidato dalam Bahasa Jawa. Dan katanya sih, naskah lamaran saya nilainya...sembilan.. :D

Berikut ini adalah lamaran saya, dengan Bahasa Jawa sederhana.

Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Allahuma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Puji syukur, kita konjukaken wonten ngarsanipun Allah Swt, ingkang sampun paring rahmat lan kanikmatan dhumateng umatipun, saengga dugi titi wanci menika, kita sedaya tansah manggih ing karaharjan, widada astuti, nir ing sambekala.

Shalawat sarta salam, mugi tansah tinetepna kagem junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw, sumrambahipun dhumateng kulawarga Nabi, para sohabat, lan jamaah muslimin lan muslimat sedaya.

Wonten ngarsanipun para pinisepuh lan sesepuh kulawarga Bapak --- ingkang satuhu kinabekten, lan para tamu undangan ingkang dhahat kinurmatan, keparenga kula kumowantun matur wonten ngarsa panjenengan sedaya, minangka sulih aturipun Bapak --- sakulawarga, ingkang pidalem wonten ing Desa ---, Kec ---, Kab ---.

Ingkang sepisan, Bapak --- sakulawarga ngaturaken salam taklim kanthi atur “Assalamu ‘alaykum wr.wb”, katur keluarga besar Bapak ---, sinartan atur panuwun ingkang tanpa upami, dene sowan kula sakrombongan sampun katampi kanthi sae lan kanthi renaning penggalih.

Kaping kalihipun, netepi jejegipun tiang sepuh, Bapak --- kaliyan Ibu --- ingkang peputra Dhimas ---, dipun sambati dening putranipun, dene anggenipun srawung kekancan kalian Nimas --- putra putrinipun Bp --, tambah raket, nuwuhaken raos tresna ingkang tan kena pinisah. Golonging tekad, Dhimas --- nedyo ngajak bebrayan wontening ikatan perkawinan ingkang suci. Kanthi menika, Bp --- sakulawarga sowan wonten ngarsanipun kulawarga Bp ---, kanthi sedya nglamar putrinipun, ingkang sesilih Nimas ---.

Njangkepi sowan kula sakrombongan, kula aturaken ugi uba rampe rerangkening pirembagan, ingkang arupi kalpika/cincin lan oleh-oleh sakcekapipun. Mugi saget katampi, lan ndadosaken rumaketing silaturahmi antawisipun kulawarga Bp --- lan kulawarga Bp ---. Amin.

Makaten ingkang dados atur kula. Mbok bilih wonten klenta klentu saha kebat kliwating atur kula ingkang mboten ndadosaken serjuning penggalih, saestu kula nyuwun lumunturing sih samudra pangaksami.

Wabilahitaufiq walhidayah, Wassalamu ‘alaykum wr.wb.


Pada Hari H-nya, ternyata keluarga calon mempelai wanita menyambut rombongan pelamar kami dengan Bahasa Indonesia dan sedikit bercampur dengan Bahasa Jawa. Akhirnya saya pun menggunakan bahasa campur-campur, tidak sesuai naskah aslinya.

Published with Blogger-droid v1.7.4

baca selengkapnya...

Sunday, July 17, 2011

Aplikasi Islami Android

Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi Islami untuk gadget Android yang sangat menarik dan bermanfaat, yang dapat didownload secara gratis di Android Market.






Live Mecca dan Live Madina. Merupakan live video streaming Mekah dan Madinah 24 jam. Bagi yang rindu dengan Al-Haramain, bisa melihat live video streaming dengan aplikasi ini. Suasana Kakbah dan Masjid Nabawi akan terpantau secara real time (ya.. delay-delay dikit lah), termasuk saat Sholat lima waktunya. Namun hati-hati dengan akses internetnya. Sebaiknya menggunakan WiFi atau paket internet unlimited.







Radio Rodja. Aplikasi str
eaming Radio Rodja 756 AM, radio dakwah Islam yang disiarkan dari Cileungsi, Jawa Barat. Kalo pas mendengarkan, setelan time out layar di HP atau tablet harus diperpanjang agar siaran tidak sering terputus karena layar mati.







Al-Quran. Banyak sekali aplikasi Al Quran di Android Market. Tiga aplikasi Quran dengan ikon di atas adalah Al-Zikar, MyQuran, dan iQuran. Untuk
Al-Zikar full version (berbayar, sekitar Rp 60.000,-), disertai dengan suara 7 orang Qari (recitor) yang bisa kita pilih saat menyimak ayat demi ayat Quran, yaitu Ahmed Al Ajmi, Ali Al Hothaify, Maher Moeqali, Mohammad Ayoub, Saad Al Ghamdi, Sheikh Sudais, dan Waheed Qasmi. Suara qari harus di-download sendiri setelah kita melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Ada pilihan terjemahan beberapa bahasa yang bisa dipilih, termasuk Bahasa Indonesia.

MyQuran merupakan aplikasi yang dikembangkan oleh developer Indonesia. Keunggulan aplikasi ini adalah adanya pewarnaan hu
ruf untuk menandai tajwid. Tidak ada pilihan suara Qari, hanya ada satu saja.

iQuran, cukup bagus dan lengkap juga, disertai suara 6 orang Qari, yaitu Sheikh Husary, Mishary Rashed, Shuraim, Abu Bakr Ash-Shatree, Abdul Basid, dan Ghamdi. Tentu saja akan bisa didownload lengkap bila menggunakan versi berbayar. Sayangnya, terjemahan Indonesia tidak tersedia untuk versi gratisannya.








Shahih Muslim. Sebetulnya banyak aplikasi kitab Islam yang bisa didownload secara gratis di Android Market, namun sangat sedikit yang b
erbahasa Indonesia, salah satunya kitab Hadits Shahih Muslim ini.







Salat Widget. Widget akan dimunculkan di layar utama gadget
. Setiap waktu Salat akan diperdengarkan suara azan sesuai dengan suara Muazin pilian kita.







Kalender Hijriah. Ikon-ikon di atas, secara berurutan masing-masing adalah Hijri Calendar, LunaSolCal Mobile, Google Sky Map, dan Star Chart. Hijri Calendar menampilkan penanggalan Hijriah, disertai dengan konversi ke kalender Gregorian dan tabel hariannya.

LunaSolCal Mobile menampilkan data-data dan grafik lintasan edar matahari dan bulan, seperti azimuth, altitude, phase, dll.

Google Sky Map dan Star Chart merupakan aplikasi augmented reality lan
git. Gadget kita berfungsi seperti teropong atau jendela untuk melihat benda langit secara real time. Jadi layar akan menunjukkan benda-benda langit yang berada di balik layar gadget kita, tergantung ke mana kita mengarahkan gadget-nya. Dengan aplikasi ini kita bisa melihat posisi bulan relatif terhadap garis cakrawala, sehingga kita bisa tau apakah bulan sudah terbit atau tenggelam di cakrawala. Namun syaratnya, gadget kita harus memiliki GPS. O ya, aplikasi Star Chart tidak bisa didownload gratis di Android Market. Namun di Samsung Apps aplikasi ini bisa didownload guratis tis...







Alkitab. Ini aplikasi Islami bukan ya ? He he.. Bagi yang ingin melakukan studi perbandingan, okelah untuk mendownload aplikasi ini. Terdiri dari terjemahan Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

baca selengkapnya...

Sunday, June 12, 2011

Menggunakan Blackberry Prabayar di Mekkah dan Madinah

Selama ini hampir tidak ditemukan tulisan yang jelas di internet, yang menginformasikan pengalaman cara menggunakan blackberry prabayar di Mekkah dan Madinah. Sepanjang yang saya tau, operator GSM di Arab Saudi ada tiga, yaitu STC (Al-Jawal), Mobily, dan Zain. Ketika berkunjung ke website ketiga operator itu, memang ada info layanan blackberry, ada yang paskabayar dan ada pula yang prabayar. Bahkan STC menyediakan layanan blackberry prabayar mingguan. Cuma masalahnya, dulu sempat ada kabar bahwa layanan blackberry di Arab Saudi dilarang. Yang awalnya pernah dilarang begitu, di kemudian hari biasanya terdapat macam-macam pembatasan dan pengetatan penggunaan. Kira-kira, apa yang perlu kita persiapkan agar saat tiba di sana bisa langsung pake balckberry ?

Saat berangkat dari Bandara Juanda, sempat nanya ke travel leader, katanya registrasi blackberry di Arab Saudi memang agak susah, harus datang ke kantor operator setempat, dengan membawa paspor. Haduh, kok ribet ya. Lalu, kebetulan ada pegawai travel di bandara yang menawarkan Sim Card prabayar Zain kepada para jamaah, seharga SR 70 (mata uang Riyal). Saya minta Sim Card Al-Jawal, yang menyediakan layanan blackberry prabayar mingguan. Tapi katanya Al-Jawal susah dicari kalo tidak pas musim haji. Jadi, dia hanya punya kartu Zain saja. Lalu saya tanya lagi, untuk blackberry gimana registrasinya. Kata Mbak-mbak travel itu, pulsanya harus diisi sampai 100 Riyal dulu, lalu registrasi dengan SMS. “Isi SMS-nya, nanti tanya pembimbing umroh di Arab saja,” katanya.

Sampai di Jedah jam 16.30 waktu Saudi, pesawat langsung diarahkan ke Madinatul Hujjaj, terminal kedatangan dan keberangkatan khusus haji dan umroh yang tahun ini mulai digunakan lagi. Kalo nggak salah sejak 2006 Madinatul Hujjaj memang tidak digunakan. Di ruang tunggu Madinatul Hujjaj banyak petugas cleaning service yang menawarkan Sim Card prabayar. Yang ditawarkan memang hanya Zain, sementara Al-Jawal dan Mobily pada nggak punya. Wah gimana nih, kok nggak bisa dapet Al-Jawal. Lalu kupikir, pasti beberapa hari pertama ini belum akan bisa menggunakan blackberry dengan menggunakan nomor HP Arab Saudi. Akhirnya, dalam perjalanan menggunakan bis menuju Madinah, kuaktifkan layanan Roaming harian Blackberry Kartu Halo Telkomsel dengan menekan *266# lalu Call/Ok. Syaratnya, APN harus disetting menjadi “blackberry.net”, dan setting Network-nya diarahkan secara manual untuk menggunakan operator Zain. Lumayanlah, Rp 50 ribu perhari dapat blackberry unlimited. Cuma sayangnya perhitungan hariannya mengacu pada pergantian hari di Indonesia (WIB). Jadi, saat aktivasi jam 17.00 di Jedah (21.00 WIB), tiga jam kemudian layanan roaming BB harian akan berakhir.

Keesokan harinya di Madinah, sekitar jam 10 saya diantar Ustadz Mujib, pembimbing yang sudah lama bermukim di Mekkah, ke kantor pelayanan Mobily. Lokasinya ada di arah lurusnya pintu utama Masjid Nabawi. Alasan memilih Mobily, karena Ustadz Mujib pake Mobily juga..he he. Di kantor Mobily, kami ambil print out kartu antri dulu. Setelah beberapa menit, nomor kami dipanggil, dan ustadz mulai kal kil kul (kalo di Indonesia cas cis cus :-)) dengan petugas customer service. Untuk registrasi, saya diminta menyerahkan ID Card dari travel yang dikalungkan di leher saya. Rupanya ID Card ini cukup sakti juga, sudah bisa menjadi pengganti paspor. Di ID card sudah tertulis nama dan nomor paspor pemegang ID Card. Lalu, saya diminta bayar SR 30, untuk biaya registrasi prabayar dan pulsa senilai SR 30. Untuk aktivasi balckberry, saya dipersilakan mengisi pulsa dengan voucher yang dijual bebas di luar sampai minimal SR 100, lalu kirim SMS ke 1100 dengan isi SMS “BIS”.

Keluar dari kantor Mobily, kami langsung ke Money Changer, untuk beli voucher pulsa Mobily. Saya beli yang SR 90, lalu segera saya isikan ke nomor HP Mobily. Dan saat mengirimkan registrasi BB ke nomor 1100, pulsa berkurang sebesar SR 99. Alhamdulillah, akhirnya bisa BB-an pake nomor HP setempat. Keuntungannya, bisa tetap BB unlimited dengan murah, sekaligus bisa telepon dengan tarif lokal ke nomor HP istri, pembimbing, dan anggota jamaah yang lain yang sudah menggunakan nomor Arab Saudi. Untuk setting email, dilakukan langkah yang sama seperti setting email saat di Indonesia, yaitu melalui menu Setup>Email Setting.

Pada hari-hari berikutnya saya baru sadar, ternyata di emper-emper gedung sekitar Masjid Nabawi banyak orang berjualan Sim Card dan voucher pulsa, lengkap mulai dari STC, Zain, dan Mobily. Contoh voucher pulsa SR 10 untuk Mobily terlihat pada foto di awal tulisan ini. Kartu-kartu ditata di dalam kotak kaca kecil yang mudah dibawa-bawa oleh penjualnya. Wah, tau gitu kemarin nggak perlu ke kantor pelayanan Mobily. Mestinya bisa langsung beli prabayar STC dan aktivasi BB mingguan di penjual kartu kakilima ini. Hanya saja, kalo di penjual kartu kakilima, registrasinya mungkin tidak menggunakan nama kita sendiri. Mungkin sudah diregistrasi secara bodong oleh penjualnya.

Pas mau upload tulisan ini, sempat browsing lagi, dan ternyata Mobily juga punya yang mingguan. Wew, habis website-nya memang lemot sih saat dulu dibuka-buka.

Berikut beberapa cara aktivasi blackberry prabayar dengan SMS :
1. STC/Al-Jawal, ketik 8844 (mingguan, SR 29), atau ketik 8811 (bulanan, SR 99), kirim ke 902. Atau bisa lihat di website-nya
2. Mobily, ketik BIS7 (mingguan, SR 29), atau ketik BIS (bulanan, SR 99), kirim ke 1100. Atau bisa lihat di website-nya
3. Untuk Zain, website-nya ada, cuma cara aktivasinya belum nemu.

baca selengkapnya...

Tuesday, May 17, 2011

Kisah Sebuah Sandal

Dalam sholat dua rokaat inipun hatiku masih gelisah, hingga tidak bisa khusu'. Pikiranku terusik, sepertinya thowaf yang barusan kami lakukan tadi baru enam putaran mengelilingi Kakbah. Langsung saja, setelah salam di akhir Sholat, aku konfirmasikan keraguanku ini ke ustadz Anis. Beberapa rekan yang lain juga ikut nimbrung ke hadapan ustadz. Tapi beliau menjawab dengan yakin bahwa Thowaf kami sudah lengkap tujuh putaran. Tidak puas dengan jawaban ustadz Anis, kemudian aku alihkan pandangan ke Pak Mochtar, mantan dekan sebuah perguruan tinggi di Malang, ternyata beliau juga menunjukkan gurat keraguan yang sama di wajahnya. "Saya hitung tadi juga baru enam putaran Ustadz", kata beliau. Tak kalah hebohnya, Si Umi, Ibu juragan ikan juga menyampaikan pendapatnya kepada Ustadz Anis bahwa thowafnya kurang satu putaran.

Demi mendengar itu semua, ustadz pun terdiam sesaat. Lalu, dengan cepat beliau memutuskan,"Baik, kita tambah lagi satu putaran, kita mulai dari Hajar Aswad." Seluruh anggota "geng" pun patuh mengikuti Ustadz Anis menuju titik awal thowaf, Hajar Aswad, kecuali saya dan istri. Ups, itulah kesalahan saya. Saya pikir, saya kan sudah sampai di Maqom Ibrahim, mestinya tinggal melanjutkan sisa putaran dari situ saja. Seperti halnya bila kita batal wudlu saat thowaf atau sa'i, setelah berwudlu kembali, kita melanjutkan thowaf atau sa'i dari mana kita batal. Begitu pikirku, dan begitulah yang aku lakukan.

Singkat cerita, thowaf sudah dilengkapi dengan satu putaran lagi, dilanjutkan dengan sa'i di antara Shofa - Marwa hingga akhirnya bertahalul. Setelah semuanya selesai, ternyata masih ada sedikit perasaan mengganjal di hati, kenapa tadi nggak ikut memulai putaran terakhir Thowaf dari Hajar Aswad. Ah, sudahlah. Hari sudah malam, kami serombongan yang berjumlah sepuluh orang ditambah dua pembimbing itu pun sepakat untuk menuju pintu keluar masjid.

Haduh, sandalku yang sebelah kok nggak ketemu ya. Rak sandal dari kayu bercat putih setinggi lutut itu sudah kusisir berkali-kali, namun hanya sandal sebelah kiri yang kutemukan. Teman-teman yang lain bahkan ikut mencari keberadaan sang sandal jepit "eiger" warna hitam itu, di rak-rak sebelahnya. Dan hasilnya..., nihil. Akhirnya, sandal itu pun dinyatakan hilang sebelah. Sebagai kenang-kenangan, sandalku yang sebelah kiri tetap aku bawa pulang.

Keluar dari Masjidil Haram, hanya aku yang tidak beralas kaki, sementara yang lain bersandal lengkap. Berjalan menuju hotel yang berjarak sekitar 300 meter, telapak kaki ini cukup tersiksa juga rasanya menginjak kerikil-kerikil jalanan. Baru kira-kira 100 meteran berjalan, terpaksa kami mampir di sebuah toko untuk beli sandal. Walaupun busa sandal jepitnya sangat lunak, tak apalah, yang penting bisa untuk sekedar melindungi telapak kaki.

Sekitar jam 24.00, kami baru masuk ke hotel dan langsung menuju ke kamar masing-masing. Capek sekali rasanya, siang tadi rombongan kami mengadakan perjalanan dengan bus dari Madinah ke Mekah, malamnya umroh di Masjidil Haram, yang disertai dengan "kemelut" thowaf yang kurang satu putaran. Oh ya, tentang sandal yang hilang, ternyata tidak bisa dianggap remeh. Peristiwa itu menyihirku perlahan-lahan, memunculkan kerisauan yang tak terelakkan. Bayangkan, putaran terakhir thowaf bersama istri rasanya tidak sempurna. Lalu, setelahnya, sandalku hilang satu, sebelah kanan. Inikah sebuah pertanda, bahwa thowafku memang kurang satu? Dan menjadi sia-sialah perjalanan ibadahku bila ritual wajib ini tidak sah. Astaghfirullah...

Semula aku berniat mau berkonsultasi ke Ustadz Anis mengenai perihalku ini. Tapi segera aku urungkan, mengingat permasalahanku terjadi karena ketidakpatuhanku terhadap beliau saat diminta memulai thowaf dari Hajar Aswad. Aku lihat jam, saat ini di Indonesia mendekati jam 5 pagi. Pikirku, sudah pantaslah untuk menelepon seorang ustadz pada kondisi "darurat" seperti ini. Kuraih HP, lalu kutelepon Ustadz Khusnul di Malang, kusampaikan kisah "tragedi" thowaf yang barusan kualami. Kutanyakan kepada beliau, apakah kami perlu mengulang umroh besok. Hal yang paling merisaukan adalah bahwa saat melengkapi thowaf, aku bersama istri tidak memulai putaran dari Hajar Aswad. Tapi jawaban dari Ustadz Khusnul cukup menenangkan. Kata beliau, umroh tidak perlu diulang, nggak papa. Nanti diperbanyak thowaf sunat saja.

Masih belum puas, kutelepon Ustadz Amrizal yang ada di Malang juga. Kata beliau, memang kalo menambah putaran yang kurang harus dimulai dari Hajar Aswad. Tapi nggak apa-apa, umroh tidak perlu diulang. Sama dengan Pak Khusnul, Ustadz Amrizal menyarankan kami untuk memperbanyak thowaf sunat saja, ditambah dengan membayar dam, memberikan sedekah kepada fakir miskin.

Tak kusangka, ternyata perasaan gelisahku tetap tidak mau pergi. Fokus masalah menjadi mengarah ke sandal. Lho ? Kalo thowaf dianggap lengkap, mengapa sandalnya mesti hilang satu ? Kadang-kadang hal kecil tidak bisa dianggap sepele di tanah haram. Baik, gini aja, aku tekadkan untuk istirahat dengan tenang malam ini. Kita lihat saja nanti pas Sholat Shubuh di masjid, aku akan mencari sandal "tambatan hatiku" yang hilang itu. Kalo aku bisa menemukannya, berarti "case closed", umroh tidak perlu diulang. Kalo sampe tidak ditemukan, aku harus mengulang umroh.. Walah, kalo bingung begini mestinya Sholat istikharoh, bukannya mengundi dengan sandal :-) . Tapi itulah sekilas yang terbersit di pikiranku.

Pagi-pagi, begitu masuk masjid, aku langsung menyerbu rak sandal dimana kemarin aku kehilangan dia, dengan harap-harap cemas. Tidak membutuhkan waktu yang lama, pandangan pertama pada rak itu langsung membuat "plong". Sesosok sandal sebelah kanan berwarna hitam sudah menunggu di situ. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Ke mana saja sandal ini semalam, padahal kemarin satu regu pencari sudah sibuk menyapu rak ini dan sekitarnya. Lega banget rasanya, rasa tidak tenang pun langsung hilang. Dan saat perjalanan pulang dari Sholat Shubuh, ketika mengetahui sandalku telah ditemukan, Pak Mochtar mengatakan,"Mas, sandal itu nggak mau pisah sama sampeyan. Sampeyan harus jaga dia sampai kapanpun..." Begitu katanya, dengan raut muka yang dibuat serius.*** [Dari umroh tahun 2008]

baca selengkapnya...

Saturday, December 4, 2010

Jam Tangan dengan Penanggalan Hijriah

Bagi Muslim, kebutuhan untuk mengikuti penanggalan Hijriah bisa dikatakan sangat tinggi. Bagaimana tidak, banyak ibadah wajib dan sunat yang didasarkan pada perhitungan tanggal yang berbasis pada peredaran bulan ini. Ibadah itu antara lain Puasa Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, Ibadah Haji, Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, 15), puasa 9 dan 10 Muharam, dll. Namun rupanya kebanyakan dari kita melupakan atau bahkan tidak mengetahui sama sekali hal ihwal penanggalan Hijriah ini, bahkan nama bulan dan urutannya pun kita sering lupa.

Melihat kebutuhan tersebut, mestinya mulai saat ini kita harus mengapresiasi perhitungan penanggalan Hijriah. Sekedar sharing, bukan promosi, sebenarnya banyak jam tangan secara tidak langsung telah mengandung penanggalan hijriah. Tidak secara ekplisit menyebut tanggal dan bulan, namun di situ terdapat fitur moon phase dan moon age. Fase bulan memperlihatkan animasi bentuk bulan, mulai dari bulan sabit, bulan purnama, hingga bulan sabit kembali. Umur bulan (moon age) ditunjukkan oleh angka 0,0 hingga 29,5, yang kira-kira setara dengan tanggal 1 sampai 29 atau 30 hijriah.

Jam tangan merk Casio banyak yang mengandung fitur moon phase dan moon age. Fitur tersebut sebenarnya didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan para penghobi mancing, berburu, olah raga air, dll. Seperti kita ketahui bahwa posisi bulan relatif terhadap bumi dan matahari akan mempengaruhi pasang dan surut permukaan air laut di bumi. Tidak ada salahnya kita memanfaatkan fitur tersebut untuk mengetahui perkiraan tanggal hijriah yang sedang berlangsung.

baca selengkapnya...

Saturday, July 31, 2010

Diplomasi Islam Kristen

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Saturday, June 19, 2010

Dapet Buku Baru : Islam in China

Jalan Wangfujing, yang berada di sebelah timur Forbiden City, merupakan pusat wisata jalan kaki di Beijing. Pada jam-jam tertentu jalan ditutup untuk kendaraan bermotor, sehingga para pelancong bisa bebas dan ramai-ramai berjalan kaki sepanjang Jalan Wangfujing. Di kanan kiri jalan terdapat pusat-pusat belanja mewah yang cukup menarik.

Salah satu toko yang menarik di situ adalah sebuah toko buku yang cukup besar. Saat masuk, langsung terpikir untuk mencari buku mengenai Islam di China. Kepada salah satu pelayan toko yang menanyaiku, aku katakan "I'm looking for the book, mm.. Islam in China," begitu kataku agak berspekulasi. Eh, ternyata dia langsung membawaku ke rak buku yang tampaknya sudah dia kenal, dan langsung ditunjukkan sebuah buku berwarna hijau berjudul "Islam in China". Pelayan toko sempet nanya lagi, "Are you a student ?". "Oh, No, I'm a tourist. Thank You", jawabku.

Buku ini ditulis oleh Zhang Guanglin, diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Min Chang, dan diterbitkan oleh China Intercontinental Press. Di dalamnya terdapat banyak foto-foto aktivitas Muslim dan bangunan-bangunan masjid di China. Sedangkan halaman yang memuat tulisan lebih sedikit dibandingkan halaman yang memuat foto-foto. Akan saya terjemahkan untuk Anda bagian pertama dari tulisan di buku tersebut. Bagian pertama ini berjudul The History of Islam in China. Berikut ini terjemahannya...

Tercatat dalam sejarah dinasti Tang kuno bahwa Usman, kalifah ke-tiga di Arab telah mengirimkan utusan untuk memberikan penghormatan kepada Dinasti Tang pada tahun ke-dua masa kekuasaan Kaisar Yong Hui (651 M). Jadi, para ahli sejarah China berpendapat bahwa tahun inilah awal mula Islam di China. Selama periode tahun 651 s.d. 798, utusan dari Arab datang ke China 39 kali, dan banyak pedagang Arab dan Persia datang ke China untuk berbisnis. Interaksi antar pemerintahan dan hubungan perdagangan yang terjadi, mendorong adanya pertukaran budaya antara China dan dunia Arab, serta menciptakan kondisi yang baik bagi Islam untuk menyebar di China.

Rute menuju China yang digunakan oleh para utusan dan pedagang dari Arab dan Persia adalah : mulai dari Persia, melalui Xinjiang, lalu melintasi Jalan Sutera kuno, dan berakhir di kota-kota pedalaman China seperti Xi’an dan Luoyang. Rute laut dimulai dari Teluk Persia, melalui Semenanjung Malaya (Selat Malaka, amanah), dan akhirnya sampai ke pelabuhan perdagangan di sepanjang pantai tenggara China. Catatan sejarah China juga menerangkan bagaimana pedagang Arab dan Persia berbisnis dan hidup di Chang’an (ibukota kuno China) dan berbagai tempat di sepanjang pantai China.

Atas izin pemerintah selama dinasti Tang dan dinasti Song, para pedagang ini diperbolehkan untuk tinggal di Guangzhou, Yangzhou, Quanzhou, Hangzhou, Chang’an, Kaifeng, dan Louyang. Mereka hidup dengan damai di tempat-tempat tersebut, dengan tetap memegang kepercayaan dan budayanya. Mereka hidup di China begitu lamanya hingga mereka tidak ingin kembali ke tanah nenek moyangnya. Jadi, mereka membangun masjid dan makam di kota-kota tersebut, menikahi warga setempat, dan melahirkan keturunan yang menjadi generasi awal Muslim China. Puluhan ribu orang-orang Arab hidup di Yangzhou dan Hangzhou pada saat itu, dan empat buah masjid di kota pesisir China menjadi bukti terkuat dari kehidupan Muslim di kota tersebut. Mereka membawa teknologi dan ilmu pengetahuan China ke Arab dan Dunia Barat, menjadi sumbangan ilmiah dan budaya di Abad Pertengahan.

Masa Dinasti Yuan dan Ming (1206-1644) adalah periode penting untuk penyebaran dan pengembangan Islam di China. Bangsa Mongol menaklukkan kota-kota dan negara-negara Islam di Asia Tengah dan Asia Barat, menghancurkan Dinasti Abasiah di Asia Barat pada tahun 1258. Mereka memasukkan para tawanan perang Arab dan Persia ke dalam pasukan perangnya. Orang-rang Arab dan Persia yang direkrut tersebut di antaranya adalah para tukang kayu, sarjana agama dan orang terhormat. Setelah Bangsa Mongol membangun Dinasti Yuan yang kuat (1206-1368) di China, mereka tersebar di mana-mana, dan itu menciptakan kondisi yang bagus bagi Islam untuk menyebar ke timur.

Pada masa Dinasti Yuan, banyak pedagang Muslim dari Asia Tengah datang ke China. Dalam legenda Samarkand mengenai sejarah Dinasti Ming, dikatakan bahwa Muslim telah tersebar di seluruh China. Penjelajah Italia Marco Polo, dan penjelajah Muslim Maroko Ibnu Battuta juga menyebutkan fakta dalam catatan perjalanannya bahwa Muslim berada di mana-mana di China, dan masjid dapat ditemukan dengan mudah pada masa Dinasti Yuan. Kota-kota utama saat ini, sepanjang pantai tenggara China dan Grand Jinghang Canal, dan Beijing dan Xi’an adalah tempat-tempat di mana Muslim dari Asia Tengah terkonsentrasi pada masa Dinasti Yuan.

Banyak masjid kuno dan makam-makam yang dibangun oleh para Muslim pendahulu, terawat dengan baik hingga saat ini. Pemerintahan Yuan mengadopsi kebijakan toleransi terhadap kaum Muslim, dan Muslim memberikan sumbangan besar kepada negara sebagai imbalannya. Mereka merupakan ahli terkemuka di bidang astronomi, penanggalan, pengobatan, dan arsitektur. Zheng He (Ceng Ho, amanah), seorang navigator pada masa Dinasti Ming, berlayar tujuh kali menyeberangi Lautan India, dan mengirimkan utusan-utusan ke tanah suci Mekkah, dan menggambar peta tanah suci. Semua ini membuktikan bahwa pada masa Dinasti Yuan, Islam telah disebarkan pada sekala yang relatif besar, dan Islam dengan karakteristik China juga terbentuk saat itu. Komunitas-komunitas Muslim dengan masjid sebagai pusatnya mulai muncul di kota-kota dan dusun-dusun.

Sejak akhir masa Dinasti Ming hingga awal masa Dinasti Qing, Islam berkembang lebih jauh di China. Di samping Bangsa Hui, beberapa kelompok minoritas lainnya juga menerima Islam sebagai agama mereka selama periode ini. Sejak itu, Muslim China mulai memperhatikan pengembangan pendidikan Islam. Pada masa kekuasaan Kaisar Jiajing dari Dinasti Ming, Hu Dengzhou (1522-1597), seorang Sarjana terpelajar Muslim dari Provinsi Shaanxi memulai suatu bentuk baru pendidikan Islam yang disebut dengan Jingtangjiaoyu, yang memajukan pendidikan dan budaya Islam di China. Jingtangjiaoyu dimaksudkan untuk membuka sekolah di masjid, untuk menyediakan pendidikan Islam yang sistematis. Dengan berjalannya waktu, sistem ini berkembang menjadi sistem pendidikan Islam yang matang, terbagi menjadi tingkat dasar, menengah, dan tinggi.

Dalam periode ini, muncul perkembangan dakwah yang ditandai dengan penulisan dan penerjemahan kitab-kitab. Oleh karena itu, periode ini oleh para ahli sejarah disebut dengan Fase Pengukuhan pendidikan Islam China. Banyak sarjana Muslim pada masa Dinasti Ming dan Qing, seperti Wang Daiyu (c. 1560-1660), Ma Zhu (1640-1711), Liu Zhi (c. 1655-1745), Jin Tianzhu (1736-1795), dan Ma Fuchu (1794-1847), dikenal sebagai sarjana-sarjana yang tidak hanya menguasai pengetahuan tinggi pada keempat agama (Islam, Conficianisme, Taoisme, dan Budaisme), tetapi juga menguasai dua bahasa, China dan Arab. Mereka menggunakan ajaran Confician untuk menguraikan kitab-kitab Islam, dan menulis serta menerjemahkan beberapa karya tulis. Mereka menggunakan konsep filosofi China kuno untuk menjelaskan prinsip-prinsip Islam. Jadi, sistem filosofi Islam China secara perlahan terbentuk.

Islam menyebar ke wilayah Xinjiang di abad 10 hingga 11. Cara masyarakat di suatu tempat menerima Islam, berbeda dengan cara masyarakat di tempat lainnya menerima Islam. Pertama masuk Islam dahulu. Kemudian mereka men-syiarkan Islam kepada masyarakat dan menjadikan agama nasional mereka.

Proses pembentukan Republik Rakyat China, diikuti dengan penerapan kebijakan kebebasan beragama yang diterapkan secara penuh. Kehidupan beragama Muslim China juga dijamin penuh. Terdapat sepuluh kelompok minoritas di China yang menganut Islam yaitu Hui, Uygur, Kazakh, Uzbek, Kyrgyz, Tajik, Tatar, Dongxiang, Sala, dan Bao’an, yang berjumlah 20 juta jiwa. Saat ini terdapat 35.000 buah masjid dan 45.000 imam di China. Muslim di China berhaluan Suni, mengikuti Mazhab Hanafi.

baca selengkapnya...

Wednesday, June 2, 2010

Lagu Kebangsaan Israel

Pas lihat TVOne, dengar komentar Pak Mahendradata saat menanggapi tragedi kapal Mavi Marmara yang diserang pasukan Israel. Katanya," Nggak usah jauh-jauh, kalo ingin tahu jalan pikiran bangsa Israel, dengarkan saja lagu kebangsaanya..." Kira-kira begitu yang saya tangkap saat itu. Nah berikut ini adalah teks terjemahan Bahasa Inggris dari lagu kebangsaan Israel :

Hatikva - English Lyrics

As long as deep in the heart,
The soul of a Jew yearns,
And forward to the East
To Zion, an eye looks
Our hope will not be lost,
The hope of two thousand years,
To be a free nation in our land,
The land of Zion and Jerusalem.

sumber : http://www.science.co.il/israel-anthem.asp

baca selengkapnya...

Sunday, May 30, 2010

Sholat Jumat di Masjid Niujie Beijing

Jumat, hari pertama di Beijing, tak kusangka kalo kami akan di-ampirkan-kan ke Masjid Niujie. Sesuai jadwal, mestinya kami akan mampir ke masjid ini pada Hari Minggu nanti. Tapi Bu Fuji, pemandu perjalanan kami yang non-muslim, ingin agar kami sempat merasakan Sholat Jumat di Masjid yang berada di barat daya Forbiden City ini. Alhamdulillah, betul-betul kesempatan yang tak terduga.

Begitu memasuki gerbang masjid, sudah terdengar suara khutbah berbahasa China. Wah, semoga tidak terlambat ikut sholat, karena aku masih harus ke kamar kecil dan ambil air wudlu. Apalagi baju tebal, berlapis, berkaos tangan, dan berkaos kaki ini pasti akan memperpanjang waktu wudlu. Untunglah hingga selesai wudlu khutbah belum selesai. Aku kemudian segera masuk ke Masjid. Jacket tebal kulipat dan kutaruh di sela-sela rak sepatu di dekat pintu masuk. Lalu kutunaikan Sholat Takhiatul Masjid, sholat sunat kitika memasuki masjid. Selesai sholat, aku duduk bersama jamaah lain untuk mendengarkan khutbah. Di arah dalam dalam, dekat mihrab, terlihat ada ustadz muda belia yang sedang duduk di semacam panggung untuk berkhutbah. Di sela-sela khutbah itu, sempat aku mengambil gambar video dengan handycam.

Aku jadi bingung, setelah khutbah selesai, para jamaah melakukan sholat sendiri-sendiri, dua rakaat, dan diulang beberapa kali. Haduh, ini sholat apa ya ? Apalagi dikerjakan setelah Khutbah Jumat. Di antara rasa bingung itu Aku duduk saja, tidak ikut sholat, menunggu kejelasan duduk perkaranya. Tak lama kemudian aku baru paham, ternyata yang kusangka Khutbah Jumat tadi adalah semacam ceramah pengajian sebelum ritual khutbah dan Sholat Jumat dimulai. Karena kemudian kulihat seorang syaikh berjalan menuju mimbar, mengucapkan salam, lalu muadzin mengumandangkan adzan. Alhamdulillah, ternyata ritual Jumatan baru akan dimulai. Jadi kami bisa mengikuti versi lengkap dari rangkaian Sholat Jumat di Masjid kuno dan bersejarah ini.

Lafal adzan yang dikumandangkan muadzin sama persis dengan yang biasa terdengar di Indonesia, menandakan bahwa Islam di Beijing berhaluan sunni. Tidak terdengar lafal "Hayya 'ala khoirul 'amal", sebagaimana adzan di Iran yang berhaluan syiah. Setelah adzan, khatib menyampaikan khutbah dalam Bahasa Arab yang cukup fasih. Khutbah tidak berlangsung lama, sekitar limabelas menit saja untuk dua khutbah. Yang agak berbeda adalah ketika dikumandangkan Iqomat menjelang sholat. Lafal Iqomat, terdengar seperti lantunan adzan, dengan jumlah bacaan yang sama persis dengan adzan, namun disisipi kalimat "Qodqomatisshollah" dua kali.

Sholat berlangsung dengan khidmat. Ketika makmum sholat harus mengamini bacaan Al Fathihah imam, aku sempat kecelik. Aku sudah bersiap-siap dengan ucapan "amin" yang bersemangat, namun ternyata jamaah di situ mengamini dengan suara pelan dan pendek, sebagaimana "amin" di Masjid Nabawi Madinah. Jadi suara "amin"-nya tidak se-gayeng di Indonesia.

Ketika duduk di akhir rakaat ke-dua, kulihat orang-orang Beijing yang duduk didepanku melakukan duduk iftirosy, yaitu duduk dengan kaki kiri diduduki oleh pantat kiri, tidak duduk tawarruk, dimana kaki kiri menyilang di bawah kaki kanan. Ini sama persis dengan orang-orang Mekkah yang sholat di Masjidil Haram. Dan akhirnya, selesai salam orang-orang berzikir sendiri-sendiri dengan suara yang tak terdengar. Tidak ada bacaan Tasbih, Hamdallah, dan Takbir yang dipimpin oleh Imam.

Selesai Sholat Jumat, aku bersama beberapa teman menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang arah dalam masjid. Subhanallah... puas banget rasanya, bisa Sholat Jumat di Masjid Niujie. Beberapa hari lalu aku hanya bisa melihat masjid ini melalui Youtube. Tapi hari ini betul-betul berada di dalam Masjid Niujie, berkumpul dengan Saudara-saudara seiman di Beijing, dan mengikuti rangakaian Sholat Jumat dari awal hingga akhir, Alhamdulillah...

baca selengkapnya...

Sunday, January 10, 2010

Muto-san, Pemuda Introvert yang Bersyahadat

“Ketika masih muda, Muto-san adalah pemuda yang sederhana, cenderung pendiam, dan introvert,” ujar Dewi (istrinya, amanahland). Di sebuah festival kampus, tahun 1998 ia bertemu Muto Takanobu-san. Muto-san dengan tekun menulis notulen semua hasil perbincangan rekan-rekan peserta dalam rapat festival kampus saat itu. Tanpa banyak bicara dan berkomentar. ”Pendiam habis !” ujar Dewi lagi.

Setelah pertemuan itu, mereka sering bertemu di klub pecinta alam yang sama-sama kami masuki. Banyak medan mereka tempuh bersama dalam klub pecinta alam. Yang membuat Muto-san mengetahui bahwa mahasiswa luar negeri, yang beragama Islam, tidak bisa mengkonsumsi makanan tanpa mengetahui isi bahan makanan itu (kehalalannya).

Lewat pengalaman di pecinta alam, akhirnya Muto-san juga mengetahui jelas makanan yang bisa dikonsumsi oleh mahasiswa muslim. Yang akhirnya bila acara makan malam bersama diadakan, semua bahan makanan halal dari mahasiswa muslimlah yang dipakai. Kemudian tugas-tugas kuliah pun bagai menjadi jembatan bagi Muto-san mengenal Islam. Pertukaran bahasa di mana mahasiswa Indonesia lebih piawai dengan Bahasa Inggris menyebabkan Muto-san banyak bertanya tentang bahasa tersebut kepada mereka. Sebaliknya urusan Bahasa Jepang, Muto-san adalah tempat bertanya para mahasiswa Indonesia. Pokoknya bagai simbiosis mutualisme alias saling membutuhkan.

Suatu hari, di tengah suasana belajar bersama dan berdiskusi tugas kuliah, Muto-san bertanya tentang Islam, kelihatannya sambil lalu tanpa serius. Ia menanyakan, ”Kenapa sih Tuhan orang Islam itu tidak terlihat ?” Pertanyaan itu cukup membuat teman-teman muslim kaget. Sedikit tak siap untuk menjawab yang pas untuk saat itu.

“Tuhan orang Islam itu adalah Yang Maha Pencipta. Tidak sama dengan makhluk seperti kita. Dia memang tidak bisa dilihat, tapi kami bisa mengetahui keberadaa-Nya dengan mengetahui sifat-sifat-Nya,” ujar mahasiswa muslim. Jawaban kaget itu diucap dalam Bahasa Jepang yang masih minim.

“Wah, lebih asyik kalau Tuhannya orang Kristen, atau Buddha dong ya ! Penganut Kristen jelas berdoa dengan menggunakan salib. Bagi penganut Buddha menyembah patung Buddha. Saya pikir itu lebih gampang dimengerti dan kita juga lebih khusyuk bila berdoa dan bisa melihat yang kita sembah,” jawab Muto-san dengan percaya diri, seakan pasti benar.

Dengan sekuat jiwa dan raga, para mahasiswa muslim dan Dewi, yang juga ada di tengah mereka, menjawab serentak, “Sifat-sifat Tuhan itu tidak sama dengan makhluk ataupun zat-zat yang diciptakan-Nya. Tuhan itu satu, Dia kekal, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Tuhan orang Islam itu tidak tidur, tidak mati.”

Dan Muto-san tetap gigih mengatakan, “Bila ada tanda yang terlihat, tersentuh, dan ada bentuk bahwa itu ‘Kamisama: Tuhan’ pasti akan lebih mudah menjalankan ibadah.”
Setelah berkutat saling menjawab dan berargumentasi tiga jam lamanya, Muto-san tampaknya lelah dan berujar, “Oke, saya mengerti sekarang, masuk akal juga ya Tuhan orang Islam itu…,” sambil ia berlalu begitu saja. Tinggallah berpuluh mata menatap kepergiannya dengan rasa bingung. Melongo! Itulah kata yang tepat bagi posisi mereka saat itu.

Pada pertemuan selanjutnya, mereka tak lagi membahas pertanyaan Muto-san, karena ia juga tidak menceritakan atau bertanya tentang Tuhan lagi. Pada ujian akhir semester selesai, para mahasiswa kembali ke aktivitas masing-masing, dan kadang-kadang mereka pergi hiking bersama teman-teman pecinta alam yang lain.

Maret tahun 1999, dua teman Jepang dari klub pecinta alam yang kembali dari Indonesia, menceritakan keindahan alam Indonesia. Akhirnya, Muto-san ingin pula berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 2000 Muto-san menapakkan kaki ke bumi Indonesia yang membawanya pula mengenal Tuhan, Allah Yang Esa, tak berbentuk dari bahan batu atau kayu dan tak terlihat kasat mata.

Muto-san berlibur ke Indonesia pada musim semi selama satu bulan. Ia berkunjung ke tiga keluarga teman Indonesianya yang telah disepakati oleh grup muslim Indonesia, agar menyambut dan memperkenalkan keindahan alam Indonesia, sesuai dengan hobi para pecinta alam itu. Salah satu keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Dewi. Kebetulan ayah Dewi, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa di Temanggung, dengan senang hati memperkenalkan keindahan Yogyakarta dan Temanggung.

Muto-san datang dua hari sebelum lebaran haji tahun itu. Di hari selanjutnya seluruh keluarga Dewi berpuasa. Muto-san pun ikut berpuasa 9 Dzulhjjah tahun itu. Dan pada tanggal 10 Dzulhijjah, di hari shalat Idul Adha tiba, keluarga Dewi bermaksud meminta Muto-san untuk menunggu sendirian di rumah. Tetapi dengan spontan Muto-san menolak, sambil berkata, “Tolong bawa saya ke tempat shalat, saya tidak akan mengganggu.”

Di lapangan desa, tentu saja semua orang banyak yang memandang heran atas kehadiran seorang pemuda Jepang masuk ke dalam barisan shalat. Dan semua orang di desa pun bertanya kepada Bapak Kepala Desa, “Pak, orang Jepang itu mau apa ?” Bapak Kepala Desa itu menjawab, “Oh, dia belum pernah lihat orang shalat Id, pingin lihat saja kok.”

Ketika shalat akan dilaksanakan, Bapak Kepala Desa itu meminta Muto-san untuk masuk ke bagian paling kanan shaf pertama. Dan selepas shalat Id, semua laki-laki di desa kami menyalami Muto-san. Sepulang dari shalat Id, tiba-tiba Muto-san menginterupsi anggota keluarga yang sedang bersiap untuk makan pagi Lebaran, dengan berkata, “Maaf… saya ingin menyampaikan sesuatu… Saya ingin masuk Islam.”

Seluruh anggota keluarga Dewi tertawa. Adik Dewi menyeletuk, “Nggak usahlah… jadi muslim itu ‘tidak enak’ lho. Kamu harus shalat lima waktu, harus puasa, dan menjalankan semua ibadah yang tidak pernah kamu kerjakan sebelumnya.”
Tak disangka Muto-san menjawab dengan mantap, “Saya sudah siap, saya akan shalat, saya bisa berpuasa, dan semua aturan Islam saya akan jalankan.”

“Termasuk disunat ?” ujar adik Dewi menembak langsung. Muto-san seketika terperanjat, sambil meminta beberapa waktu untuk berpikir. Keluarga Dewi tidak menganggap hal itu serius. Jadi semua santai dan bersenda gurau saja di meja makan. Apalagi saat itu hari raya. Makanan lezat hari raya terhidang, lebih menjadi pusat perhatian keluarga.

Matahari mulai turun kemerah-merahan, tanda waktu petang menjelang. Muto-san kembali membawa berita, “Saya siap menjadi muslim. Tidak masalah saya disunat, saya sudah mantap ingin menjadi muslim !” ucapnya tegas.

Akhirnya semua keluarga diam terpaku, dan mulai memperhatikan keseriusan mimik Muto-san. Hanya rasa bangga dan haru menggelayut di dada-dada keluarga itu. Allah memang Maha Besar. Benar, Islam tidak pernah memaksa orang untuk memeluknya. Seperti firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah 256).

Tiga hari setelah Muto mengutarakan niatnya untuk menjadi muslim, keluarga besar Dewi membawanya ke Masjid Syuhada, Yogyakarta, untuk bersyahadat di sana. Kebetulan hari itu ada pengajian mingguan. Setelah pengajian selesai, disaksikan oleh seluruh peserta pengajian, Muto-san pun mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim. Dua hari kemudian Muto-san dikhitan. Dalam kehidupan baru sebagai muslim, Muto-san memulai tahap belajarnya dari cara berwudhu, gerakan shalat, dan bacaan shalat, juga tata cara beribadah dalam kehidupan sehari-hari. Meniru anggota keluarga Bapak Kepala Desa itu.

Sumber : Hikari No Michi, Takanobu Muto dkk, Lingkar Pena, Jakarta, 2009

baca selengkapnya...

Sunday, August 16, 2009

Allah Knows, Zain Bhikha



Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Sunday, July 5, 2009

Yusuf Estes, Teroris, Islam, dan Surga

Cuplikan ceramah yang diberikan Yusuf Estes (mantan pendeta) di Karibia. Beliau sedang menjawab pertanyaan audiens tentang teroris, islam, dan surga.



Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Monday, June 1, 2009

Buku Masonic And Occult Symbols

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku yang berjudul "Masonic And Occult Symbols Illustrated" melalui situs lelang Ebay. Membaca deskripsinya di Ebay, buku karya Dr. Cathy Burns ini cukup menarik. Ditambah lagi, selama ini saya memang memiliki rasa penasaran untuk mengetahui secara lebih dalam, mengenai misteri simbol-simbol.

Secara sekilas, buku ini berisi beberapa kategori simbol dengan sedikit penjelasan sang penulis, dilengkapi dengan cuplikan referensi pustaka yang cukup banyak. Simbol-simbol diilustrasikan dalam warna hitam putih dan cetakan yang sederhana.


Saya tidak sabar untuk segera membuka bab yang membahas mengenai simbol Islam. Saya lihat di daftar index, Islam ada di halaman 389. Saya bergegas ke halaman itu. Anda tahu, apa yang tertulis di halaman itu ? Ini dia :

The Islamic God is called Allah. He was the moon god, who married the sun goddess. Dan seterusnya ... Saya nggak tega menulisnya di sini. Sangat ngawur..

Astaghfirullah.. selera saya terhadap buku itu mendadak hilang. Buku yang telah saya nantikan berminggu-minggu kedatangannya, akhirnya runtuh citranya karena satu alinea. Saya lihat di footnote-nya, ternyata keterangan itu bersumber dari Robert A. Morey, dari bukunya Islam Unveiled: The True Desert Storm. Wah.. orang ini lagi. Si Robert ini memang suka menulis secara kasar dan provokatif perihal Islam, namun bukunya justru populer dan menjadi pegangan orang-orang barat dalam mengenal Islam. Buku yang juga ditulisnya, The Islamic Invasion, bahkan telah membuat Irena Handono, sang mualaf mantan biarawati, untuk meng-counter-nya dengan buku Islam Dihujat: Menjawab Buku The Islamic Invasion.

Demikian banyak buku orientalis yang beredar, yang tidak bersumber dari sumber yang otoritatif. Kepada rekan-rekan non-Muslim yang ingin mempelajari Islam secara tulus, berhati-hatilah dalam memilih buku.

baca selengkapnya...

Saturday, May 16, 2009

Madam ! I am a Madrasah Graduate

Sabtu kemarin, 15 maret 2008, saya mendapat kehormatan untuk berdiskusi dengan jama'ah East New York Synagogue, sebuah gereja yahudi aliran orthodox. Bagi saya pribadi, ini sebuah terobosan dan kalau bisa saya katakana sebagai membuang diri ke dalam kandang harimau.

Berdialog dengan Yahudi aliran reform sudah lumrah. Berdialog dengan
yahudi Conservatif juga sudah biasa. Bahkan tanggal 24 Maret
mendatang saya akan menyampaikan presentasi islam kepada para
pengajar JTS (Jewish Theological Seminary) di Uptown New York . Tapi
hadir dalam sebuah perhelatan yahudi orthodox adalah baru, dan bahkan
masih dianggap tabu dan controversial oleh sebagian di antara mereka.
Tapi kini, terobisan itu menjadi sejarah sendiri, karena pada
akhirnya, walaupun tidak diingkari masih ada yang menunjukkan
wajah 'prejudice' mereka menerima kedatangan saya dengan lapang dada.


Acara dialog ini sendiri sebenarnya kesepakatan yang telah kami buat
antara saya dan Rabbi Marc Shneyeir di saat mengunjungi Islamic
Center New York beberapa hari sebelumnya. Rabbi Marc mengunjungi kami
di Islamic Center karena terdorong oleh surat resmi sekelompok ulama
Islam yang ditanda tangani oleh lebih 20 ulama, termasuk Tariq
Ramadan, yang dikirimkan kepada pemimpun yahudi dunia.

Surat itu dapat dilihat pada link berikut:

http://www.theameri canmuslim. org/tam.php/ features/ articles/
muslim_scho
lars_issue\_ statement_ to_worlds_ jewish_community /0015811

Rabbi Marc sangat terdorong untuk membangun komunikasi dengan
pemimpin Muslim di New York , dan kebetulan saja untuk pertama
kalinya beliau menemui saya.

Dalam pertemuan itu kita sepakat untuk menindak lanjuti ajakan ulama
Islam di atas. Kita sepakat bahwa inisiatif awal harus dimulai dengan
keterbukaan dan niat baik. Untuk itu, disepakati dalam pertemuan
tersebut bahwa saya akan hadir pada akhir kegiatan ibadah mereka hari
sabtu untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya mengenai hubungan
Muslim dan yahudi, masa lalu, kini dan prospek masa depan.

Alhamdulillah, dengan tawakkal dan penuh 'confidence' saya hadir
dalam acara Sabtuan Yahudi orthodox yang rata-rata 'upper class' itu.
Acara dialog dimulai dengan pembukaan oleh moderator, Joe Cohen,
mantan jaksa dan seorang pengacar kawakan di New York . Di akhir kata-
kata pengantarnya itu, Mr. Cohen membacakan sebagian dari surat para
ulama itu kepada pemimpin Yahudi.

Lalu dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan yang pertama kali
ditujukan kepada saya. Pertanyaan itu, bagi saya, mirip sebuah
pengadilan karena memang cukup angresif dan mungkin saja sensitif
dengan 'my personal feeling'. "Kalau memang para ulama itu memiliki
niat baik untuk berdialog, kok selama ini saya belum melihat ada di
antara mereka yang menentang/mengutuk terorisme?", Tanya.
Saya memulai menjawab dengan menyampaikan terima kasih dan kehormatan
atas kesempatan yang diberikan. "Allow me to convey to you, at least
my own personal greetings of peace. And so, shalom to you all!", saya
memulai.

Saya kemudian menjelaskan bahwa "kehadiran saya bukan mewakili
pikiran dan niat mereka-mereka yang mengirimkan surat ke pemimpin
yahudi, tapi saya hadir sebagai komitmen keislaman saya untuk
membangun komunikasi dan relasi yang baik dengan siapa saja yang
menginginkan hal yang sama. "And so, do not ask me what in their
minds and hearts", lanjutku.

Saya kemudian mencoba menjelaskan mengenai persepsi bahwa jarang atau
bahkan hampir tidak ada ulama Islam yang mengutuk 'terorisme dan
ektremisme'. Pada tingkatan ini, terlalu banyak yang saya bias
sebutkan sebagai contoh untuk membuktikan bahwa ulama-ulama Islam
telah mengutuk dan akan selalu mengutuk tindakan terorisme, dilakukan
oleh siapa dan ditujukan untuk siapa saja. Sayang, "our voices were
not heard for many reasons, but mostly because the media just convey
to you sensational and sellable news".

Tiba-tiba saja Mr. Cohen menyelah: "I guarantee you, if you want to
condemn terrorism, to find a national news paper to publish it".
Secara spontan saya juga menentang: "I will do it tomorrow, if
necessary. Let me know sir!". Sepontan saja mengundang tawa para
hadirin.

Pertanyaan demi pertanayaan, argumentasi demi argumentasi berlalu
dalam masa sejam setengah itu. Berbagai pertanyaan sang moderator
lontarkan mengenai konflik Timur Tengah, khususnya konflik Israel-
Palestine. Saya memang menyadari bahwa isu Israel Palestine adalah
isu yang paling sensitive ketika hadir dalam sebuah dialog dengan
komunitas Yahudi. Tap terkecuali dialog kali ini, walaupun disepakati
pada awalnya bahwa kita akan menghindari masalah-masalah politik.

Namun ada dua pertanyaan dari hadirin yang cukup menarik untuk saya
tuliskan. Perlu saya sampaikan bahwa komunitas Yahudi orthodox ini
rupanya sangat agresif, menantang dan kurang mengenal basa-basi. Saya
jadi teringat sikap kaum Timur Tengah, walaupun kenyataannya mereka
adalah warga Amerika asli.

Di antara sekian penanya dari hadirin, seorang ibu mengacungkan
tangan, dengan suara lantang mempertanyakan "Why don't you change the
madrassa?".

Dengan sedikit bingung, saya menanyakan kembali "I really don't
comprehend what did you try to say".

Dia kemudian dengan panjang memberikan komentar yang cukup agresif.
Telinga saya sebenarnya cukup panas juga mendengarkan tuduhan-tuduhan
itu. Tapi saya ingat, 'lakukanlah argumentasi dengan mereka dengan
baik'. Saya merasa merespon dengan cara emosional tidak akan
menyelesaikan permasalahan. Apalagi, memang ayat Al Qur'an
jelas 'lakukan pembelaan dengan cara yang ahsan atau lebih baik'.
Sambil tersenyum saya mencoba menjelaskan bahwa madrasah bukanlah
tempat penggemblengan para teroris. "Madrasah is something similar to
Midrash in your tradition", jelasku.

Bahkan, lanjut saya, saya bias menyampaikan kepada anda beberapa ahli
dalam berbagai ilmu pengetahuan yang juga alumni madrasah. Dan kalau
madrasah itu adalah 'ground' pengkaderan teroris "you will not having
me speaking to you this morning. I am a madrasah graduate!", tegasku.

Pernyataan terakhir saya di atas ini ternyata mendapat apresiasi
dengan 'applause' panjang dari hadirin.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang ada barangkali madrasah yang
melahirkan radicals, dan bahkan tammatan madrasah ini melakukan
tindakan terorisme di kemudian hari. Tapi kan salah menuduh Amerika
sebagai 'ground pengkaderan pelacur' jika ada warganya yang kemudian
menjadi pelacur. Serentak saja hadirin terbahak, walau ada yang
nampak seperti terhentak dengan pernyataan saya ini.

Di penghujung Tanya jawab itu juga seorang wanita lain
mempertanyakan: "why kids in the Muslim world are trained to be
killers or suicide bombers?".

"Where did you get that?. I never heard or knew it before!", tanyaku.

Dia kemudian menjelaskan bahwa dia pernah menonton 'documentary film'
tentang anak-anak Muslim diajar menembak, bahkan permainannya selalu
dengan senjata. Dan pada akhirnya anak-anak ini kepada mereka
diajarkan untuk membenci dan membunuh non Muslims, khususnya yahudi.

Saya tersenyum, sambil berterima kasih kepad wanita itu karena
memberikan informasi baru kepada saya, saya menjawab singkat. "Madam!
I arrived in this country just 11 years ago. And let me tell you,
before my arrival, I was so worried and scared because I watched a
movie about New York ", jelasku.

Saya kemudian menjelaskan, bahwa kekhawatiran dan bahkan ketakutan
saya itu disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak pada
tempatnya. Saya menyangka bahwa New York out penuh dengan criminals,
tembak menembak di station bawah tanah, karena itulah yang saya lihat
dari film-film yang ada mengenai New York .

"So madam! You can not take a conclusion from a movie you did watch.
That's simply very naïve", kataku.

Nampaknya Ibu tersebut masih tidak puas. Masih mengacungkan tangan,
tapi waktu yang ditentukan telah berakhir.

Pada akhirnya, beberapa jama'ah East Synagogue itu mendantangi saya
dan memberikan tambahan nama kepada saya. "I wanted to give you
another name!", kata mereka. Kenapa dan nama apa?

"Since you last name is Ali, we wanted to give you a first name
Muhammad", kata mereka.

Rupanya mereka hanya mengenal nama saya sebagai 'Shamsi Ali', walau
formalnya nama saya sudah diawali dengan Muhammad. Tapi saya pura-
pura tidak tahu. "Kenapa saya perlu dberikan nama awal Muhammad?,
tanyaku.

"That's a champion name....Muhammad Ali, the boxer!, kata mereka
sambil tertawa.

"Oh no, my name is Muhammad Shamsi Ali already", jelasku. "But that's
name is given to me not because Muhammad Ali the boxer, but Muhammad
the final prophet of God", tambahku sambil juga ketawa.

Pada akkhirnya, menjelang Zuhur saya harus meninggalkan mereka karena
tamu saya, Sr. Aminah Assilmi, sudah menuggu di Islamic Center untuk
sebuah ceramah umum. Di tengah perjalanan pulang itu saya tiada henti-
hentinya berfikir bahwa memang masih besar kecurigaan dan kesalah
pahaman tentang Islam dan Muslim di benak mereka. Tapi, bukankah itu
lahan subur? Lahan subur untuk menanam benih amal jariyah dengan
terus menerus dan tanpa menyerah untuk melakukan langkah-langkah
prubahan persepsi.

New York , 16 Maret 2008

Disalin dari http://apakabar.ws dan dari buku The True Love in America, M. Syamsi Ali, Gema Insani, Jakarta, 2009.

baca selengkapnya...

Sunday, May 3, 2009

Amerika Menuju Islam

Tiga buah video klip yang meggambarkan kondisi para mualaf kulit putih di Amerika. Rasionalitas orang barat, dan Spiritualitas Islam ... It's a good combination ...







baca selengkapnya...

Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta

Pada suatu hari (Minggu pagi), saya justru pergi ke mesjid dan mendatangi seorang Imam Mesjid, namanya Pak Hamid, yang bekerja di kantor Departemen Agama Kabupaten Toli-toli. Kebetulan, di Minggu pagi itu, Pak Haji Hamid bersama tiga orang jemaah mesjid sedang membersihkan halaman mesjid. Tanpa rasa ragu dan malu saya menghampiri Pak Haji Hamid yang sedang berjongkok sambil menebas rumput di halaman masjid. Saat itu, Pak Hamid tidak tahu sama sekali siapa yang datang dari arah belakangnya.

Saya kemudian mengucapkan "Assalamualaikum" yang kala itu sebenarnya belum pantas saya ucapkan karena masih menyembah "Yesus" bukan menyembah "Tuhan". Karena aku salam, Pak Hamid pun membalas salamku, "Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh" sambil membalikkan badan menghadap ke arahku.

Tapi apa yang terjadi ? Ketika kami berhadapan, betapa kagetnya beliau. Ternyata yang datang menjumpainya adalah murid Paulus, bukan pengikut Nabi Muhammad SAW. Suasana mulai tegang, saya dapat melihat sekaligus merasakan dari raut wajah Pak Haji Hamid tersimpan tanda tanya besar. Bahkan hari itu saya merasa beliau seperti tidak percaya fakta yang sedang terjadi si depan dua kelopak matanya. Dengan pandangan yang penuh tanda tanya dan terdorong oleh keinginan untuk mengetahui maksud kehadiranku di masjid, akhirnya beliau membuka mulut alias angkat bicara bernada pertanyaan.

Pak Haji : "Apa kabar Pak Pendeta, Ada yang harus saya bantu ?"

Saya : "Ada Pak Haji"

Pak Haji : "Masalah apa Pak, kalau boleh saya tahu ?"

Saya : "Masalah Iman, Pak"

Pak Haji : (Sedikit kaget, lalu bertanya lagi) "Apa tidak salah ?" (sambil tertawa)

Saya : "Tidak Pak"

Pak Haji : "Seharusnya Bapak tidak datang kepada saya, bukankah saya seorang Muslim dan Bapak Kristen ?" Apa yang terjadi dengan Pak Pendeta sekarang ?"

Saya : "Sebaiknya kita ke dalam mesjid aja Pak Haji"

Pak Haji : "Ooh, tidak apa-apa Pak, di luar sini saja atau di rumahku"

Saya : "Kalau di sini, saya tidak mau ceritakan apa yang terjadi denganku. Apalagi di rumah Bapak"

Pak Haji : "Baiklah, mari kita masuk ke mesjid."

Saya : "Terima kasih Pak"

Saya dan Pak Haji melangkahkan kaki dari halaman mesjid menuju pintu utama mesjid. Tepat di bawah mimbar mesjid, Pak Haji menawarkan duduk di lantai, di atas karpet beludru. Saya duduk berhadapan serta bertatapan wajah dengan Pak Haji. Saya melihat bulu roma Pak haji berdiri tegak, dan pori-pori di kulit tangannya pada bermunculan, seperti ada sesuatu yang hadir di tengah-tengah pertemuan kami. Tiba-tiba, secara spontan, kesedihan menyelimuti perasaan hatiku. Akibatnya, di hadapan Pak Hamid, saya menangis tersedu-sedu tanpa rasa malu atau minder sedikitpun. Saya seakan tak kuasa mengucapkan satu katapun akibat kesedihan yang dalam sedang menyelimuti. Sebagai orang berilmu Al Quran, Pak Hamid memahami semua kejadian yang menimpaku. Beliau mengelus-elus pundakku sambil berkata, "Sabar Pak, sekarang aku tahu tanpa Anda jelaskan. Sesungguhnya Anda orang yang menerima hidayah tepat pada Bulan Ramadan 1427 Hijriah."

Lalu Pak Hamid juga berkata, "Jika hidayah Allah SWT telah masuk ke dalam batin seseorang, tak seorangpun dapat mencegahnya. Apapun status orang tersebut pasti akan tunduk kepada keputusan Allah SWT seperti Bapak. Walaupun seorang pendeta, jika hidayah Allah SWT datang menjumpai dan menetap di hati Bapak, siapapun tak dapat mencegahnya untuk memeluk agama Islam. Begitulah jika Islam telah masuk ke nurani Bapak. Dan ingat Pak, justru orang seperti Bapak yang sering diberi hidayah dari Allah SWT. Mengapa ? karena Allah SWT mengetahui dan selektif dalam mengambil keputusan. Dia memberikan hidayah kepada Bapak dengan tujuan agar Bapak di kemudian hari mampu menceritakan kebenaran agama Allah SWT. Tetapi yang utama, Bapak adalah orang yang dicintai oleh Allah SWT, sehingga diberi-Nya petunjuk."

Kurang lebih 30 menit kami berada di dalam mesjid. Suasana kasih sayang turut mewarnai pertemuan kami. Berbagai saran, pendapat, nasehat, dan motivasi menghiasi indahnya suasana percakapan kami. Saat itu juga, antara saya dengan Pak Haji Hamid, sudah mulai terjalin tali persaudaraan serta tali persahabatan selaku umat pilihan Allah SWT. Padahal sebelumnya tidak bersahabat, masing-masing kami mempertahankan prinsip keyakinan yang dianut. Namun setelah hidayah menemuiku, segala sesuatu yang tidak baik menjadi kebaikan dan segala sesuatu yang tidak benar berubah menjadi kebenaran sejati. "Habis gelap terbitlah terang", kata-kata bijak inilah makna yang terkandung dalam kata "hidayah". Artinya, petunjuk membawa manusia kepada perubahan hidup yang lebih berarti.

Disalin dengan editting seperlunya dari buku Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta, Dr. Muhammad Yahya Waloni, diterbitkan oleh Cahaya Iman dan MYW Center, Bandung, 2008.

baca selengkapnya...

Friday, January 16, 2009

The Road To Mecca

Cuplikan dari buku kedua "The Road To Mecca", karya Muhammad Asad (Leopold Weiss), Mizan, 2003.

Kuda saya mulai berjalan pincang dan sesuatu terdengar menggeluntang dari kukunya. Sebuah tapal besi telah copot tergantung-gantung hanya dengan dua batang paku.

"Adakah desa di dekat sini tempat seorang pandai besi ?" tanya saya kepada teman Afghanistan itu.

"Desa Deh-Zangi letaknya kurang dari lima kilometer dari sini. Ada seorang pandai besi di sana, sedang Hakim Hazarayat punya istana pula di sana."

Begitulah kami berkendara di atas salju kilau-kemilau menuju Deh-Zangi dengan perlahan-lahan supaya tak meletihkan kuda saya.

Hakim atau wedana itu adalah seorang pemuda berperawakan pendek dengan air muka periang -- seorang peramah yang gembira menjamu seorang tamu asing dalam kesepian istananya yang sederhana. Meskipun merupakan seorang anggota keluarga dekat Raja Amanullah, dia adalah salah seorang paling rendah gati yang saya temui atau yang akan pernah saya jumpai di Afghanistan. Ia memaksa saya tinggal bersamanya selama dua hari.

Pada malam hari kedua, sebagaimana biasa, kami duduk menghadapi hidangan makanan malam yang lumayan, dan sesudah itu seorang lelaki desa menjamu kami suatu balada yang dinyanyikan dengan iringan kecapi bertali tiga. Ia menyanyi dalam bahasa Persia yang diucapkannya dengan kehangatan suasana riang dalam ruangan bergelar permadani, sedangkan titik-titik salju dingin masuk menerobos melalui jendela. Saya ingat, ia menyanyikan tentang pertarungan Daud dan Goliath -- pertempuran iman melawan kekuasaan lalim, dan kendatipun saya tak dapat mengikuti kata demi kata syair nyanyian itu, temanya jelas ketika dimulainya dengan nada suara rendah kemudian menanjak dalam suara tinggi sedang akhirnya yang terdengar berupa jeritan-jeritan tanda kemenangan.

Tatkala berakhir, Hakim itu menandaskan, “Daud kecil, tetapi imannya besar.”

Saya tak dapat menahan diri dan menambahkan, “Dan kalian banyak, tetapi iman kamu sedikit.”

Tuan rumah memandang saya keheranan dan karena merasa terganggu oleh kata-kata yang terpaksa keluar, saya segera menerangkan kepadanya dengan lancar. Penjelasan saya ini berupa serangkaian pertanyaan bertubi-tubi :

“Bagaimanakah hingga kalian kaum Muslim kehilangan kepercayaan diri – keyakinan diri yang pada suatu waktu telah menyebabkan kalian mampu menyiarkan kepercayaan kalian, dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Arabia ke arah barat hingga ke Atlantik, ke timur hingga ke China – sedang kini dengan mudah menyerahkan diri, lemah, kepada pikiran dan kebiasaan Barat ? Mengapa kalian yang punya nenek moyang yang pada suatu saat menjadi penerang dunia dengan ilmu pengetahuan dan kesenian tatkala Eropa sedang tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan, tidak mengerahkan kembali keberanian untuk kembali kepada kemajuan kalian serta kecemerlangan kepercayaan kalian sendiri ? Mengapa Ataturk yang bertopeng kegilaan itu mengingkari nilai Islam bagi kaum Muslim justru menjadi lambang “kebangunan kembali kaum Muslim”?.

Tuan rumah saya tinggal membungkam. Di luar salju mulai turun. Sekali lagi saya merasakan gelombang suka bercampur duka, sama seperti ketika hendak mendekati Deh-Zangi. Saya merasakan kemenangan dan pada saat yang sama rasa malu menyelubungi putra turunan dari suatu peradaban yang unggul ini.

“Ceritakanlah – bagaimana sampai iman Nabi kalian dan kejernihan serta kesederhanaannya dikubur di dalam reruntuhan spekulasi yang mandul dan ajaran-ajaran yang berbelit-belit ? Bagaimana sampai terjadi pangeran-pangeran dan tuan tanah memperoleh kemakmuran dan kemewahan, sedangkan demikian banyak saudara mereka, kaum Muslim, tenggelam dalam kemiskinan dan kejembelan yang tak terlukiskan – kendatipun Nabikalian berkata, “Tak seorangpun boleh menamakan dirinya beriman apabila dia makan hingga kenyang padahal tetangganya kelaparan ? ”. Dapatkah kalian menerangkan kepada saya mengapa kalian telah memencilkan kaum wanita di belakang layar kehidupan – padahal wanita di sekitar Nabi dan para sahabatnya memegang peranan agung dalam kehidupan suami mereka ? Betapa sampai kalian, kaum Muslim, banyak diliputi kebodohan dan segelintir saja yang menulis dan membaca – meskipun Nabi kalian menyatakan bahwa :

Menuntut ilmu adalah kewajiban suci bagi setiap Muslim, pria dan wanita”, dan bahwa “Kelebihan orang yang berpengetahuan atas orang yang hanya sekedar saleh bagaikan kelebihan bulan purnama dibandingkan dengan bintang ?

Masih saja tuan rumah itu menatap saya tak berkata-kata, dan saya mulai berpikir bahwa cetusan pertanyaan saya itu agaknya sangat melukainya. Pria yang memegang kecapi itu, karena tak mengerti Bahasa Persia, cukup mengikuti percakapan saya, memandang terus dengan terheran-heran kepada orang asing yang berbicara dengan begitu bernafsu kepada hakim. Akhirnya, yang disebut terakhir ini menarik baju. Kulitnya yang berwarna kuning lagi lebar itu lebih ketat pada badannya, seolah-olah merasa dingin. Kemudian, ia berbisik, “Tetapi – Anda adalah seorang Muslim.”

Saya tertawa dan menjawab, “Tidak, saya bukan seorang Muslim. Tetapi saya mulai melihat kebesaran Islam yang menyebabkan saya kadang-kadang merasa geram memperhatikan kalian menyia-nyiakannya. Maafkan kalau saya berkata terlalu pedas. Saya tak berbicara sebagai seorang musuh.

Namun, sang tuan rumah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, seperti telah saya katakan : Anda adalah seorang Muslim, hanya Anda sendiri tidak menyadarinya. Mengapa tidak Anda ucapkan di sini sekarang juga, Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, dan segera menjadi seorang Muslim yang nyata sebagaimana yang telah bersemayam di dalam kalbu Anda ? Ucapkanlah sekarang, Saudaraku, dan saya akan pergi bersama Anda ke Kabul dan mengantarkan Anda kepada amir, dan ia akan menerima Anda dengan tangan terbuka sebagai seorang di antara kami. Akan diberinya Anda rumah dan kebun serta ternak dan kami semuanya akan mencintai Anda. Katakanlah, Saudaraku.”

“Bila sampai saya mengucapkannya, itu karena pikiran saya telah mendapatkan kedamaiannya dan bukan karena rumah-rumah serta kebun amir.”

“Tetapi,” ia bersikeras, “Anda jauh lebih tahu tentang Islam daripada kebanyakan kami. Apakah yang belum Anda pahami ?”

“Ini bukan soal pengertian. Ini masalah keyakinan. Keyakinan bahwa Al-Quran betul-betul adalah firman Tuhan dan bukan sekadar ciptaan gemilang seorang manusia hebat.”

Namun, kata-kata sahabat saya orang Afghan itu tak pernah meninggalkan saya berbulan-bulan sesudahnya.

baca selengkapnya...

Sunday, January 11, 2009

Mengapa Amerika & Kristen Mendukung Israel

Amerika adalah negara yang paling depan dalam mendukung langkah Israel. Bahkan sebagian (besar) umat Kristen dunia pun demikian. Saya pernah mendengar sendiri kenyataan ini saat diskusi dengan teman yang beragama Kristen. Beberapa waktu yang lalu Hidayatullah juga memberitakan wawancara seorang pendeta dengan Radio Nederland, yang secara jelas mendukung Israel. Rupanya situasi ini memang sudah dirancang sejak dahulu oleh para Zionis. Silakan lihat kembali posting amanah yang berjudul Judeo Christian, Ruh Amerika

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Thursday, January 8, 2009

Dukung Misi MER-C ke Palestina

Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina ? Selain memanjatkan doa yang tulus, kita juga bisa melakukan beberapa langkah ringan seperti mengirim SMS donasi ke 7505, untuk mendukung misi MER-C ke Palestina. Ketik MERC[spasi]PEDULI, kirim ke 7505, maka Anda sudah menyumbang dana sebesar Rp 3.750,- hingga Rp 5.000,- (tergantung operator seluler). MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C berasaskan Islam dan berpegang pada prinsip rahmatan lil'aalamiin.

Para blogger juga bisa memasang banner Dukungan Misi Kemanusiaan MER-C di blognya masing-masing. Banner bisa di-copy dari www.mer-c.org.

baca selengkapnya...

Tuesday, December 30, 2008

Kebaikan Kerajaan Kristen pada Muslim

Ini adalah klip dari film The Message (Ar-Risalah, tahun 1980-an), yang dibintangi oleh Anthony Quinn dan Irene Papas, dan disutradarai oleh Moustapha Akkad. Pada klip ini dikisahkan beberapa Sahabat Nabi yang sedang meminta suaka ke Raja Najasi di Abysinia, karena penindasan yang dilakukan oleh kaum kafir Mekkah. Kerajaan Kristen Abysinia tersebut akhirnya mau melindungi para Muslim, walaupun penguasa kafir Mekkah, yang juga merupakan Sahabat Raja Najasi, telah membujuk Raja agar menolak para Muhajirin.



Lihat koleksi video amanah-land lainnya di Youtube.

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Rekaman Video Haji 2008

Sekedar menginformasikan kembali. Bagi Anda yang baru saja melaksanakan ibadah haji 2008 ini, mungkin dalam beberapa minggu ini masih akan mengalami "mabuk kerinduan" akan suasana kota suci yang baru saja ditinggalkan. Untuk sedikit mengobatinya, Anda bisa berkunjung ke www.haramainrecordings.com. Di situ ada rekaman Sholat Shubuh, Maghrib, dan Isya, setiap hari, di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ada juga rekaman Khutbah Jumat, Khutbah Arafah (di Masjid Namirah), dan Prosesi penggantian Kiswah Kakbah. Rekaman yang berukuran 15-50 MB ini bisa Anda download, untuk dinikmati secara offline.
Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Belajar Bahasa Arab Online

Ada situs bagus banget, yang memberikan pelajaran Bahasa Arab online. Di situ ada suara yang bisa kita dengarkan, sambil melihat skema dan tulisan dari pelajaran yang kita ikuti. Audio berformat MP3 yang kita dengarkan tersebut bisa juga kita download, untuk kita dengarkan secara offline. Nama situsnya adalah Badar Online (Bahasa Arab Dasar).

Pelajaran dumulai dengan mengenal definisi ilmu Nahwu dan Shorof, kemudian dilanjutkan dengan mengenal jenis-jenis huruf, jenis kata, dan seterusnya. Sangat mudah, mendasar, serta enak untuk diikuti. Pelajaran bahasa arab online ini sangat cocok untuk kita yang ingin memulai belajar Bahasa Quran namun tidak memiliki waktu untuk belajar secara formal. Selamat mengikuti... (saya juga sedang mengikuti).

baca selengkapnya...

Saturday, December 27, 2008

Islam is My Choice

Ada buku baru yang berisi kumpulan kisah mualaf, judulnya Islam is My Choice, yang dirangkum oleh Sdr. Dyayadi dan diterbitkan oleh Bumi Aksara. Kali ini saya tidak akan menyajikan salah satu kisahnya di blog ini. Cuma sedikit berbagi cerita saja mengenai buku tersebut.

Beberapa hari yang lalu, saya maen ke Gramedia. Buku warna ungu ini langsung menarik perhatian, karena warna dan judulnya. Kebetulan ada satu yang tidak berbungkus plastik, sehingga saya langsung bisa buka-buka untuk sekedar scanning.

Saya tertarik dengan salah satu judul kisah di dalam buku itu. Lupa judul lengkapnya, tapi ada satu nama yang tertulis di judul itu, Aldo Demeris ..., kayaknya pernah kenal deh sama nama ini. Ya, soalnya saya pernah menulis ulang kisah Aldo Demeris ini di blog amanah dari suatu buku. Saya penasaran, saya baca kisah si Aldo ini dari awal kisah hingga akhir. Dan ketika sampai di ujung tulisan, ada sedikit info bahwa kisah tersebut diambil dari blog amanah-land.blogspot.com. Waa... ternyata keren juga ya blog amanah. Makasih deh, penulis mau nyantumin sumber tulisannya, walaupun saya sendiri juga sekedar menulis ulang dari buku yang pernah saya baca. Kapan ya, saya bisa menerbitkan kumpulan kisah kayak gitu ? Nanti deh, suatu saat, Insya Allah.

Saya lanjutkan lihat-lihat judul dan kisah yang lain. Sepintas terkesan bagus, bahasanya juga enak diikuti. Dan rupanya kisah-kisahnya memang pilihan terbaik dari sang perangkumnya. Sayangnya, belum puas baca-baca, keburu ada call untuk jemput istri...

baca selengkapnya...

Monday, December 8, 2008

Live Video Haji 24 Jam

Tahun lalu saya pernah memposting informasi perihal Liputan Haji 24 Jam di Internet. Ternyata Channel Saudi 1 dan 2, channel untuk melihat live video haji, saat ini nggak bisa dibuka. Setelah saya cari-cari, ternyata live video haji bisa dipantau di channel Noor TV. Alhamdulillah ... Bisa lihat kondisi Makkah dan Madinah lagi selama acara hajian.

O ya, kalo temen-temen ada yang tahu TV Cable di Indonesia yang memiliki konten TV-TV Islam & Timur Tengah, bisa di infokan dong... Terima kasih.

baca selengkapnya...

Monday, December 1, 2008

Michael Jackson Masuk Islam

LONDON (Suaramedia) Legenda hidup pop dunia Michael Jackson dikabarkan telah memeluk agama Islam. Setelah melepas status sebagai pemeluk Saksi Jehovah, Michael Jackson berganti nama menjadi Mikaeel Jackson.

Menurut koran Inggris The Sun, Jacko -nama beken Jackson- mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah sahabatnya yang juga komposer album terlaris Thriller, Steve Porcaro, di Los Angeles dan dihadiri seorang penyanyi ternama, Yosef Islam – dulunya bernama Cat Steven sebelum masuk Islam. Dalam momen religius tersebut, Jacko duduk di lantai dengan menggunakan topi kecil berwarna hitam dan dipandu seorang imam.

Kabar menghebohkan datang dari si King of Pop Michael Jackson. Penyanyi yang akrab disapa Jacko itu disebut-sebut telah memeluk agama Islam.
Jacko memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah temannya di Los Angeles, Amerika Serikat. Nama Jacko pun berubah menjadi Mikaeel.

"Mikaeel adalah nama salah satu malaikat dalam Islam," ujar seorang sumber. Jacko sebenarnya sempat ditawari nama Mustafa, namun ditolaknya .

Saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Jacko duduk di lantai dengan mengenakan topi kecil. Momen tersebut berlangsung sangat khidmat.

Jacko memutuskan masuk Islam setelah ia mendengarkan pengalaman produser dan penulis albumnya. Kedua orang tersebut meyakinkan pelantun 'Ben' itu, bahwa setelah menjadi muslim hidup mereka lebih baik.

"Seorang imam pun kemudian dipanggil dari sebuah masjid untuk menuntun Micahel membaca dua kalimat syahadat," lanjut si sumber.

Setelah memeluk Islam, Jacko dikabarkan terbang ke Mekkah.

Raja Pop – yang sebelumnya pernah disidangkan karena dituduh melakukan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur beberapa kali – kembali disidangkan setelah Sheikh Abdullah Bin Hamad al-Khalifa,anak kedua Raja Bahrain, mengajukan tuntutan terhadap Jackson karena telah mengingkari perjanjian untuk merekam album baru dan meminjam uang sebesar $ 7 juta.
kalangan musisi, sejumlah nama juga akhirnya mengucapkan syahadat. Mereka antara lain John Coltrane (pencipta dan saksoponis jazz), Art Blakey (musisi jazz), dan tentu saja Cat Stevens (penyanyi rock Inggris). Setelah memeluk Islam, Cat Stevens pun berganti nama jadi Yusuf Islam.

Di kalangan olahraga, yang paling banyak adalah petinju dan bintang basket. Paling terkenal tentu Muhammad Ali, mantan juara dunia yang dulu bernama Cassius Clay. Setelah itu ada pula Matthew Saad Muhammad, Dwight Muhammad Qawi, Eddie Mustapha Muhammad, Chris Eubank, dan Mike Tyson.

Tyson berganti nama jadi Malik Abdul Aziz setelah masuk Nation of Islam. Dia menjadi muslim saat berada di penjara karena keterlibatan dalam kasus pemerkosaan.

Islam pula yang menyelamatkan Tyson dari sebuah rencana pembunuhan pada tahun 2000. Saat itu, namanya sudah beredar di antara orang yang akan jadi sasaran pembunuhan kelompok Cash Money Brothers.

“Kelompok ini bahkan sudah mengintai Tyson beberapa bulan kemudian dan siap menembak. Tapi, rencana pembunuhannya urung dilaksanakan karena Tyson adalah seorang Muslim,” ujar Shelby Henderson, anggota geng tersebut dalam kesaksiannya di pengadilan federal Brooklyn, Juni lalu. dikutip Oleh http://www.suaramedia.com

Sebelum memutuskan beralih memeluk Islam, Michael Jackson ternyata telah beramal dan memberikan sumbangsih untuk dunia Islam. Dia memberikan sumbangan tak sedikit untuk pembangunan sebuah mesjid di Manama, Bahrain.

Mesjid tersebut dibangun dengan keindahan seni yang luar biasa. Mesjid itu terletak di dekat rumah Jackson yang mewah di ibukota Bahrain itu.

“Mesjid itu didesain sekaligus sebagai tempat belajar prinsip dan pelajaran Islam. Juga dibangun tempat belajar bahasa Inggris. Guru-guru dengan standar tinggi didatangkan dari Amerika Serikat di bawah supervisinya,” ujar juru bicara panitia pembangunan mesjid itu.

Pada awalnya, Jackson melakukan hal tersebut sebagai bentuk apresiasinya terhadap masyarakat Bahrain. Masyarakat setempat menyambutnya dengan baik dan memperlakukannya seakan-akan dia adalah warga negara Bahrain.

Mikaeel, begitu namanya setelah memeluk Islam, bukanlah orang pertama di keluarga besar Jackson yang berpindah agama menjadi muslim. Sebelumnya, kakaknya, Jermaine Jackson yang sudah tinggal di Bahrain, juga memeluk Islam. Info News http://www.dailymail.co.uk & (arby/suaramedia) Click Video Dikutip oleh http://www.suaramedia.com

baca selengkapnya...