Friday, January 16, 2009

The Road To Mecca

Cuplikan dari buku kedua "The Road To Mecca", karya Muhammad Asad (Leopold Weiss), Mizan, 2003.

Kuda saya mulai berjalan pincang dan sesuatu terdengar menggeluntang dari kukunya. Sebuah tapal besi telah copot tergantung-gantung hanya dengan dua batang paku.

"Adakah desa di dekat sini tempat seorang pandai besi ?" tanya saya kepada teman Afghanistan itu.

"Desa Deh-Zangi letaknya kurang dari lima kilometer dari sini. Ada seorang pandai besi di sana, sedang Hakim Hazarayat punya istana pula di sana."

Begitulah kami berkendara di atas salju kilau-kemilau menuju Deh-Zangi dengan perlahan-lahan supaya tak meletihkan kuda saya.

Hakim atau wedana itu adalah seorang pemuda berperawakan pendek dengan air muka periang -- seorang peramah yang gembira menjamu seorang tamu asing dalam kesepian istananya yang sederhana. Meskipun merupakan seorang anggota keluarga dekat Raja Amanullah, dia adalah salah seorang paling rendah gati yang saya temui atau yang akan pernah saya jumpai di Afghanistan. Ia memaksa saya tinggal bersamanya selama dua hari.

Pada malam hari kedua, sebagaimana biasa, kami duduk menghadapi hidangan makanan malam yang lumayan, dan sesudah itu seorang lelaki desa menjamu kami suatu balada yang dinyanyikan dengan iringan kecapi bertali tiga. Ia menyanyi dalam bahasa Persia yang diucapkannya dengan kehangatan suasana riang dalam ruangan bergelar permadani, sedangkan titik-titik salju dingin masuk menerobos melalui jendela. Saya ingat, ia menyanyikan tentang pertarungan Daud dan Goliath -- pertempuran iman melawan kekuasaan lalim, dan kendatipun saya tak dapat mengikuti kata demi kata syair nyanyian itu, temanya jelas ketika dimulainya dengan nada suara rendah kemudian menanjak dalam suara tinggi sedang akhirnya yang terdengar berupa jeritan-jeritan tanda kemenangan.

Tatkala berakhir, Hakim itu menandaskan, “Daud kecil, tetapi imannya besar.”

Saya tak dapat menahan diri dan menambahkan, “Dan kalian banyak, tetapi iman kamu sedikit.”

Tuan rumah memandang saya keheranan dan karena merasa terganggu oleh kata-kata yang terpaksa keluar, saya segera menerangkan kepadanya dengan lancar. Penjelasan saya ini berupa serangkaian pertanyaan bertubi-tubi :

“Bagaimanakah hingga kalian kaum Muslim kehilangan kepercayaan diri – keyakinan diri yang pada suatu waktu telah menyebabkan kalian mampu menyiarkan kepercayaan kalian, dalam waktu kurang dari seratus tahun, dari Arabia ke arah barat hingga ke Atlantik, ke timur hingga ke China – sedang kini dengan mudah menyerahkan diri, lemah, kepada pikiran dan kebiasaan Barat ? Mengapa kalian yang punya nenek moyang yang pada suatu saat menjadi penerang dunia dengan ilmu pengetahuan dan kesenian tatkala Eropa sedang tenggelam dalam kebiadaban dan kebodohan, tidak mengerahkan kembali keberanian untuk kembali kepada kemajuan kalian serta kecemerlangan kepercayaan kalian sendiri ? Mengapa Ataturk yang bertopeng kegilaan itu mengingkari nilai Islam bagi kaum Muslim justru menjadi lambang “kebangunan kembali kaum Muslim”?.

Tuan rumah saya tinggal membungkam. Di luar salju mulai turun. Sekali lagi saya merasakan gelombang suka bercampur duka, sama seperti ketika hendak mendekati Deh-Zangi. Saya merasakan kemenangan dan pada saat yang sama rasa malu menyelubungi putra turunan dari suatu peradaban yang unggul ini.

“Ceritakanlah – bagaimana sampai iman Nabi kalian dan kejernihan serta kesederhanaannya dikubur di dalam reruntuhan spekulasi yang mandul dan ajaran-ajaran yang berbelit-belit ? Bagaimana sampai terjadi pangeran-pangeran dan tuan tanah memperoleh kemakmuran dan kemewahan, sedangkan demikian banyak saudara mereka, kaum Muslim, tenggelam dalam kemiskinan dan kejembelan yang tak terlukiskan – kendatipun Nabikalian berkata, “Tak seorangpun boleh menamakan dirinya beriman apabila dia makan hingga kenyang padahal tetangganya kelaparan ? ”. Dapatkah kalian menerangkan kepada saya mengapa kalian telah memencilkan kaum wanita di belakang layar kehidupan – padahal wanita di sekitar Nabi dan para sahabatnya memegang peranan agung dalam kehidupan suami mereka ? Betapa sampai kalian, kaum Muslim, banyak diliputi kebodohan dan segelintir saja yang menulis dan membaca – meskipun Nabi kalian menyatakan bahwa :

Menuntut ilmu adalah kewajiban suci bagi setiap Muslim, pria dan wanita”, dan bahwa “Kelebihan orang yang berpengetahuan atas orang yang hanya sekedar saleh bagaikan kelebihan bulan purnama dibandingkan dengan bintang ?

Masih saja tuan rumah itu menatap saya tak berkata-kata, dan saya mulai berpikir bahwa cetusan pertanyaan saya itu agaknya sangat melukainya. Pria yang memegang kecapi itu, karena tak mengerti Bahasa Persia, cukup mengikuti percakapan saya, memandang terus dengan terheran-heran kepada orang asing yang berbicara dengan begitu bernafsu kepada hakim. Akhirnya, yang disebut terakhir ini menarik baju. Kulitnya yang berwarna kuning lagi lebar itu lebih ketat pada badannya, seolah-olah merasa dingin. Kemudian, ia berbisik, “Tetapi – Anda adalah seorang Muslim.”

Saya tertawa dan menjawab, “Tidak, saya bukan seorang Muslim. Tetapi saya mulai melihat kebesaran Islam yang menyebabkan saya kadang-kadang merasa geram memperhatikan kalian menyia-nyiakannya. Maafkan kalau saya berkata terlalu pedas. Saya tak berbicara sebagai seorang musuh.

Namun, sang tuan rumah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, seperti telah saya katakan : Anda adalah seorang Muslim, hanya Anda sendiri tidak menyadarinya. Mengapa tidak Anda ucapkan di sini sekarang juga, Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, dan segera menjadi seorang Muslim yang nyata sebagaimana yang telah bersemayam di dalam kalbu Anda ? Ucapkanlah sekarang, Saudaraku, dan saya akan pergi bersama Anda ke Kabul dan mengantarkan Anda kepada amir, dan ia akan menerima Anda dengan tangan terbuka sebagai seorang di antara kami. Akan diberinya Anda rumah dan kebun serta ternak dan kami semuanya akan mencintai Anda. Katakanlah, Saudaraku.”

“Bila sampai saya mengucapkannya, itu karena pikiran saya telah mendapatkan kedamaiannya dan bukan karena rumah-rumah serta kebun amir.”

“Tetapi,” ia bersikeras, “Anda jauh lebih tahu tentang Islam daripada kebanyakan kami. Apakah yang belum Anda pahami ?”

“Ini bukan soal pengertian. Ini masalah keyakinan. Keyakinan bahwa Al-Quran betul-betul adalah firman Tuhan dan bukan sekadar ciptaan gemilang seorang manusia hebat.”

Namun, kata-kata sahabat saya orang Afghan itu tak pernah meninggalkan saya berbulan-bulan sesudahnya.

4 comments:

Bahti Baihaqi said...

Bos, pas liat bagian download di banner-nya kok ada iklan yang seksi2 di Bogor gitu. Emang dah otomatis dari 4Share ya?
Salam kenal.

M. Fuad Hasan (Andi S) said...

Waduh... yang mana ya ? Pas saya cek nggak ada tuh. Berarti otomatis dari 4shared, & tiap pen-download dapet iklan berbeda-beda. Maklum masih gratisan. Afwan.

Restu said...

Assallammualikum Wrwb. Hallo I want study for u! why ? because your blog very nice and good. U vcan visit me http://public-claim.blogspot.com

Yadi Utama said...

Selamat Idul Fitri 1430H, Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Salam Blogger. Dari Komunitas Blogger Unsri http://blog.unsri.ac.id