Saturday, May 16, 2009

Madam ! I am a Madrasah Graduate

Sabtu kemarin, 15 maret 2008, saya mendapat kehormatan untuk berdiskusi dengan jama'ah East New York Synagogue, sebuah gereja yahudi aliran orthodox. Bagi saya pribadi, ini sebuah terobosan dan kalau bisa saya katakana sebagai membuang diri ke dalam kandang harimau.

Berdialog dengan Yahudi aliran reform sudah lumrah. Berdialog dengan
yahudi Conservatif juga sudah biasa. Bahkan tanggal 24 Maret
mendatang saya akan menyampaikan presentasi islam kepada para
pengajar JTS (Jewish Theological Seminary) di Uptown New York . Tapi
hadir dalam sebuah perhelatan yahudi orthodox adalah baru, dan bahkan
masih dianggap tabu dan controversial oleh sebagian di antara mereka.
Tapi kini, terobisan itu menjadi sejarah sendiri, karena pada
akhirnya, walaupun tidak diingkari masih ada yang menunjukkan
wajah 'prejudice' mereka menerima kedatangan saya dengan lapang dada.


Acara dialog ini sendiri sebenarnya kesepakatan yang telah kami buat
antara saya dan Rabbi Marc Shneyeir di saat mengunjungi Islamic
Center New York beberapa hari sebelumnya. Rabbi Marc mengunjungi kami
di Islamic Center karena terdorong oleh surat resmi sekelompok ulama
Islam yang ditanda tangani oleh lebih 20 ulama, termasuk Tariq
Ramadan, yang dikirimkan kepada pemimpun yahudi dunia.

Surat itu dapat dilihat pada link berikut:

http://www.theameri canmuslim. org/tam.php/ features/ articles/
muslim_scho
lars_issue\_ statement_ to_worlds_ jewish_community /0015811

Rabbi Marc sangat terdorong untuk membangun komunikasi dengan
pemimpin Muslim di New York , dan kebetulan saja untuk pertama
kalinya beliau menemui saya.

Dalam pertemuan itu kita sepakat untuk menindak lanjuti ajakan ulama
Islam di atas. Kita sepakat bahwa inisiatif awal harus dimulai dengan
keterbukaan dan niat baik. Untuk itu, disepakati dalam pertemuan
tersebut bahwa saya akan hadir pada akhir kegiatan ibadah mereka hari
sabtu untuk menyampaikan pandangan-pandangan saya mengenai hubungan
Muslim dan yahudi, masa lalu, kini dan prospek masa depan.

Alhamdulillah, dengan tawakkal dan penuh 'confidence' saya hadir
dalam acara Sabtuan Yahudi orthodox yang rata-rata 'upper class' itu.
Acara dialog dimulai dengan pembukaan oleh moderator, Joe Cohen,
mantan jaksa dan seorang pengacar kawakan di New York . Di akhir kata-
kata pengantarnya itu, Mr. Cohen membacakan sebagian dari surat para
ulama itu kepada pemimpin Yahudi.

Lalu dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan yang pertama kali
ditujukan kepada saya. Pertanyaan itu, bagi saya, mirip sebuah
pengadilan karena memang cukup angresif dan mungkin saja sensitif
dengan 'my personal feeling'. "Kalau memang para ulama itu memiliki
niat baik untuk berdialog, kok selama ini saya belum melihat ada di
antara mereka yang menentang/mengutuk terorisme?", Tanya.
Saya memulai menjawab dengan menyampaikan terima kasih dan kehormatan
atas kesempatan yang diberikan. "Allow me to convey to you, at least
my own personal greetings of peace. And so, shalom to you all!", saya
memulai.

Saya kemudian menjelaskan bahwa "kehadiran saya bukan mewakili
pikiran dan niat mereka-mereka yang mengirimkan surat ke pemimpin
yahudi, tapi saya hadir sebagai komitmen keislaman saya untuk
membangun komunikasi dan relasi yang baik dengan siapa saja yang
menginginkan hal yang sama. "And so, do not ask me what in their
minds and hearts", lanjutku.

Saya kemudian mencoba menjelaskan mengenai persepsi bahwa jarang atau
bahkan hampir tidak ada ulama Islam yang mengutuk 'terorisme dan
ektremisme'. Pada tingkatan ini, terlalu banyak yang saya bias
sebutkan sebagai contoh untuk membuktikan bahwa ulama-ulama Islam
telah mengutuk dan akan selalu mengutuk tindakan terorisme, dilakukan
oleh siapa dan ditujukan untuk siapa saja. Sayang, "our voices were
not heard for many reasons, but mostly because the media just convey
to you sensational and sellable news".

Tiba-tiba saja Mr. Cohen menyelah: "I guarantee you, if you want to
condemn terrorism, to find a national news paper to publish it".
Secara spontan saya juga menentang: "I will do it tomorrow, if
necessary. Let me know sir!". Sepontan saja mengundang tawa para
hadirin.

Pertanyaan demi pertanayaan, argumentasi demi argumentasi berlalu
dalam masa sejam setengah itu. Berbagai pertanyaan sang moderator
lontarkan mengenai konflik Timur Tengah, khususnya konflik Israel-
Palestine. Saya memang menyadari bahwa isu Israel Palestine adalah
isu yang paling sensitive ketika hadir dalam sebuah dialog dengan
komunitas Yahudi. Tap terkecuali dialog kali ini, walaupun disepakati
pada awalnya bahwa kita akan menghindari masalah-masalah politik.

Namun ada dua pertanyaan dari hadirin yang cukup menarik untuk saya
tuliskan. Perlu saya sampaikan bahwa komunitas Yahudi orthodox ini
rupanya sangat agresif, menantang dan kurang mengenal basa-basi. Saya
jadi teringat sikap kaum Timur Tengah, walaupun kenyataannya mereka
adalah warga Amerika asli.

Di antara sekian penanya dari hadirin, seorang ibu mengacungkan
tangan, dengan suara lantang mempertanyakan "Why don't you change the
madrassa?".

Dengan sedikit bingung, saya menanyakan kembali "I really don't
comprehend what did you try to say".

Dia kemudian dengan panjang memberikan komentar yang cukup agresif.
Telinga saya sebenarnya cukup panas juga mendengarkan tuduhan-tuduhan
itu. Tapi saya ingat, 'lakukanlah argumentasi dengan mereka dengan
baik'. Saya merasa merespon dengan cara emosional tidak akan
menyelesaikan permasalahan. Apalagi, memang ayat Al Qur'an
jelas 'lakukan pembelaan dengan cara yang ahsan atau lebih baik'.
Sambil tersenyum saya mencoba menjelaskan bahwa madrasah bukanlah
tempat penggemblengan para teroris. "Madrasah is something similar to
Midrash in your tradition", jelasku.

Bahkan, lanjut saya, saya bias menyampaikan kepada anda beberapa ahli
dalam berbagai ilmu pengetahuan yang juga alumni madrasah. Dan kalau
madrasah itu adalah 'ground' pengkaderan teroris "you will not having
me speaking to you this morning. I am a madrasah graduate!", tegasku.

Pernyataan terakhir saya di atas ini ternyata mendapat apresiasi
dengan 'applause' panjang dari hadirin.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang ada barangkali madrasah yang
melahirkan radicals, dan bahkan tammatan madrasah ini melakukan
tindakan terorisme di kemudian hari. Tapi kan salah menuduh Amerika
sebagai 'ground pengkaderan pelacur' jika ada warganya yang kemudian
menjadi pelacur. Serentak saja hadirin terbahak, walau ada yang
nampak seperti terhentak dengan pernyataan saya ini.

Di penghujung Tanya jawab itu juga seorang wanita lain
mempertanyakan: "why kids in the Muslim world are trained to be
killers or suicide bombers?".

"Where did you get that?. I never heard or knew it before!", tanyaku.

Dia kemudian menjelaskan bahwa dia pernah menonton 'documentary film'
tentang anak-anak Muslim diajar menembak, bahkan permainannya selalu
dengan senjata. Dan pada akhirnya anak-anak ini kepada mereka
diajarkan untuk membenci dan membunuh non Muslims, khususnya yahudi.

Saya tersenyum, sambil berterima kasih kepad wanita itu karena
memberikan informasi baru kepada saya, saya menjawab singkat. "Madam!
I arrived in this country just 11 years ago. And let me tell you,
before my arrival, I was so worried and scared because I watched a
movie about New York ", jelasku.

Saya kemudian menjelaskan, bahwa kekhawatiran dan bahkan ketakutan
saya itu disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak pada
tempatnya. Saya menyangka bahwa New York out penuh dengan criminals,
tembak menembak di station bawah tanah, karena itulah yang saya lihat
dari film-film yang ada mengenai New York .

"So madam! You can not take a conclusion from a movie you did watch.
That's simply very naïve", kataku.

Nampaknya Ibu tersebut masih tidak puas. Masih mengacungkan tangan,
tapi waktu yang ditentukan telah berakhir.

Pada akhirnya, beberapa jama'ah East Synagogue itu mendantangi saya
dan memberikan tambahan nama kepada saya. "I wanted to give you
another name!", kata mereka. Kenapa dan nama apa?

"Since you last name is Ali, we wanted to give you a first name
Muhammad", kata mereka.

Rupanya mereka hanya mengenal nama saya sebagai 'Shamsi Ali', walau
formalnya nama saya sudah diawali dengan Muhammad. Tapi saya pura-
pura tidak tahu. "Kenapa saya perlu dberikan nama awal Muhammad?,
tanyaku.

"That's a champion name....Muhammad Ali, the boxer!, kata mereka
sambil tertawa.

"Oh no, my name is Muhammad Shamsi Ali already", jelasku. "But that's
name is given to me not because Muhammad Ali the boxer, but Muhammad
the final prophet of God", tambahku sambil juga ketawa.

Pada akkhirnya, menjelang Zuhur saya harus meninggalkan mereka karena
tamu saya, Sr. Aminah Assilmi, sudah menuggu di Islamic Center untuk
sebuah ceramah umum. Di tengah perjalanan pulang itu saya tiada henti-
hentinya berfikir bahwa memang masih besar kecurigaan dan kesalah
pahaman tentang Islam dan Muslim di benak mereka. Tapi, bukankah itu
lahan subur? Lahan subur untuk menanam benih amal jariyah dengan
terus menerus dan tanpa menyerah untuk melakukan langkah-langkah
prubahan persepsi.

New York , 16 Maret 2008

Disalin dari http://apakabar.ws dan dari buku The True Love in America, M. Syamsi Ali, Gema Insani, Jakarta, 2009.

2 comments:

Anonymous said...

Islam ternyata menakutkan! Liat blog ini deh -> BLOG MANTAN MUSLIM INDONESIA http://trulyislam.blogspot.com

edi on said...

semoga banyak mudjahid2 lainnya yg dpt menjelaskan, bahwa Islam dan ajaran2nya membawa kedamaian dan ketenteraman di muka bumi ini...

Subhanallah...