Photobucket

Sunday, April 29, 2007

Wawancara dengan Yvonne Ridley

Berikut ini adalah kutipan wawancara situs cageprisoners.com (CR) dengan mualaf Inggris, Yvonne Ridley (YR) yang dilakukan pada awal 2004 dan dimuat dalam buku Dari Penjara Taliban Menuju Iman, Anton Kurnia, Mizan 2007.

CP : Bagi meraka yang tidak membaca buku Anda, maukah Anda menceritakan pengalaman Anda sebagai tawanan Taliban ?

YR : Setiap hari aku mengira akan mati dan walaupun para penahanku bersikap baik, pengalaman itu sangat menakutkan. Aku mempercayai propaganda bahwa orang-orang ini adalah bagian dari rezim paling kejam di dunia. Segala hal buruk yang pernah terjadi di penjara Abu Ghraib, Bagda, kutakuti akan terjadi padaku. Aku terus menunggu kapan saatnya orang jahat yang membawa alat penyetrum muncul, tapi itu tak pernah terjadi. Salah satu pengalaman paling sulit bagiku adalah terisolasi secara total dari dunia luar. Walaupun aku hanya ditahan selama sepuluh hari, aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi di luar sana dan mengira bahwa aku akan segera dilupakan. Baru ketika aku dibebaskan , aku tahu bahwa sebuah kampanye pembebasan yang luar biasa telah dilakukan oleh keluarga dan teman-temanku.

CP : Bagaimana Anda bisa sampai ditahan di sebuah penjara Afganistan ?

YR : Aku tak pernah diculik oleh Taliban. Aku ditangkap karena masuk ke negeri itu secara ilegal tanpa paspor dan visa. Tidak seperti saudara-saudara kami di penjara Guantanamo dan Belmarsh, aku tahu persis apa kesalahanku.

CP : Bagaimana keadaan di sana ?

YR : Mula-mula aku ditahan di Jalalabad di sebuah tempat yang seperti bekas tempat peristirahatan musim dingin Raja Shah. Ruangan itu berpendingin udara dan aku diberi sebuah kunci untuk mengunci diri di malam hari.

CP : Makanan apa yang disediakan untuk Anda ?

YR : Walaupun aku melakukan mogok makan selama 10 hari itu, di Jalalabad para penahanku membentangkan sehelai kain di atas lantai dan menyajikan makanan untukku tiga hari sekali. Setiap kali tiba waktu makan, mereka datang ke ruanganku dan mencuci tanganku dengan sekendi air. Mereka selalu mengatakan kepadaku bahwa aku adalah tamu mereka. Mereka sungguh-sungguh gusar karena aku tidak mau makan dan mencoba membujukku agar mau makan, termasuk dengan menawariku Anggur !

CP : Apakah Anda diinterogasi dan seperti apa interogasi itu ?

YR : Setiap hari selama enam hari aku diinterogasi oleh sekelompok lelaki bertampang seram. Terkadang ada orang yang berbeda dan mereka melibatkan seorang penerjemah muda bernama Hamid. Ada saat-saat ketika ia tampak lebih ketakutan daripadaku karena ia harus menerjemahkan kata-kataku, padahal terkadang jawaban-jawabanku sangat menjengkelkan. Pertanyaan-pertanyaan itu monoton dan biasanya interogasi baru berakhir setelah berjam-jam. Pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah mengapa aku masuk ke negara mereka secara ilegal. Mereka pada mulanya tak mau percaya bahwa aku adalah seorang wartawan dan mereka tak bisa memahami konsep berita eksklusif. Karena frustasi, pada suatu hari, aku mengangkat tangan dan berkata aku akan menceritakan alasan yang sebenarnya mengapa aku masuk secara ilegal. Mereka semua mencondongkan tubuh ke depan saat Hamid menerjemahkan kata-kata itu. Lalu aku berkata, "Aku datang ke Afganistan untuk bergabung dengan Taliban!" Mereka tertawa terbahak-bahak dan menunjukkan rasa humor yang membuatku merasa lega. Mereka tak pernah mengancamku secara fisik. Walaupun mereka melakukan semacam mind game terhadapku dan seseorang mengancamku bahwa aku akan dikurung selama 20 tahun jika aku tidak mau berkata jujur pada mereka.

CP : Dalam buku Anda disebutkan Anda bertemu beberapa misionaris Kristen ketika berada dalam penjara. Bagaimana perlakuan yang mereka terima ? Sejauh mana mereka bebas melaksanakan ibadah selama dalam tahanan ?

YR : Ketika aku dipindahkan ke Kabul, aku ditahan bersama enam perempuan pekerja sosial yang menakjubkan dari kelompok Shelter Now International. Mereka dituduh telah menghasut orang-orang Muslim agar masuk Kristen dan mereka akan menjalani pengadilan. Mereka takut akan dihukum mati, tapi keimanan mereka tampaknya membuat mereka tabah menjalani kesusahan mereka. Mereka membawa keteraturan pada sayap bagian perempuan penjara itu dan menata kebersihan tempat itu. Kami bisa dibilang memiliki toilet paling bersih di Kabul karena mereka menggunakan uang mereka sendiri untuk membeli karbol dan bubuk pembersih. Dua kali sehari mereka menyanyikan lagu-lagu rohani dengan suara keras. Semua orang diizinkan memiliki sebuah Alkitab, tapi alat-alat musik mereka disita. Aku bertemu salah satu gadis itu setelahnya. Katanya semua temannya mengirimkan pesan terima kasih untuk perlakukan yang mereka terima di Kabul setelah mereka lolos ketika perang mencapai puncaknya.

CR : Anda sering membandingkan perlakuan baik yang Anda terima dari Taliban saat dalam tahanan dengan perlakuan buruk Amerika Serikat terhadap para tahanan di penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan sebagainya. Bisakah Anda jelaskan ?

YR : Kita telah menyaksikan berita dan membaca liputan tentang semua itu. Aku bersyukur pada Allah karena aku ditangkap oleh apa yang disebut-sebut sebagai "rezim paling brutal di dunia" dan bukan oleh militer Amerika Serikat.

CR : Sudah dua tahun lebih sejak Anda ditahan dan menulis In the Hands of the Taliban. Bagaimana Anda berubah sejak menulis buku itu ?

YR : Aku menjadi amat terlibat dalam gerakan anti-perang, berpindah agama menjadi Muslim, dan juga ikut ambil bagian dalam partai politik Respect (www.respectcoalition.org). Aku lebih terarah sejak pembebasanku. Kini aku memusatkan reportaseku mengenai isu-isu kemanusiaan dan sejak itu telah beberapa kali kembali ke Afganistan, juga mengunjungi Palestina dan Irak.

CP : Apa dampak penahanan itu terhadap Anda ?

YR : Aku tak lagi takut mati. selama sepuluh hari setiap hari aku berpikir itu adalah hari terakhirku di dunia dan sungguh menyita pikiran saat kau berada di ujung tanduk setiap hari. Sebagian besar rasa takut itu berasal dari imajinasiku sendiri dan aku mulai menyadari bahwa penjara yang sesungguhnya berada dalam kepalaku sendiri. Kini sebagai seorang Muslim, aku merasa lebih kuat dan aku sungguh-sungguh tidak takut pada apapun, kecuali kepada Allah. Itu sungguh membebaskan.

CP : Pernahkan Anda kembali ke Afganistan sejak peristiwa penahanan itu ? Maukah Anda menceritakan pada kami pengalaman Anda ?

YR : Aku telah kembali ke Afganistan beberapa kali dan dalam perjalanan terakhirku aku menyamar lagi. Kali ini aku tidak bersembunyi dari Taliban, tapi aku ingin menghindari pasukan khusus Amerika Serikat. Aku mendarat di Pakistan dan pergi ke Desa Bermil dekat Shkin yang menjadi korban salah sasaran pengeboman tentara Amerika Serikat. Mereka meluncurkan peluru kendali ke sebuah rumah yang mereka percayai sebagai markas Taliban. Kenyataannya, mereka menghancurkan rumah penduduk biasa dan menewaskan 11 anak-anak. Seorang perempuan kehilangan kesembilan anaknya dari bayi yang masih dalam gendongan hingga seorang gadis belasan tahun. Aku tak akan pernah melupakan raut wajah perempuan itu atau tragedi yang menimpanya. Seorang komandan militer Amerika datang dua hari kemudian diiringi 50 anak buahnya dan minta maaf pada mereka serta memberikan uang setengah juta Afgani pada keluarga yang sedang berkabung itu. Jadi, kini kita tahu berapa harga seorang bocah Afgan tak berdosa... tak sampai 1.000 dolar Amerika. Aku sungguh marah.

CR : Bisakah Anda menceritakan pada kami tentang pekerjaan Anda bersama Al-Jazeera dan mengapa Anda dipecat dari stasiun televisi itu ?

YR : Aku direkrut untuk membantu meluncurkan kembali situs berbahasa Inggris Al-Jazeera dan membangun sebuah tim jurnalis yang baik. Kami mendapatkan sebuah berita eksklusif yang mempermalukan tentara Amerika dan Israel. Karena beberapa alasan Editor Kepala Abdul Aziz Al Mahmoud merasa tidak nyaman dengan hal ini. Dia dipaksa oleh pihak Amerika untuk menghapus dua kartun satir dari situs berbahasa Inggris Al-Jazeera dan dia tak menghargai konsep berita eksklusif. Sebelaumnya dia bekerja sebagai perwira Angkatan Udara Qatar dan tampak jelas sekali dia berjuang keras mencerna apa itu konsep jurnalisme. Aku juga mengkritik kebiasaannya berbelanja, terutama saat aku mengetahui dia berbelanja di Marks and Spencer yang mendukung Zionisme. Jika aku tak menyukai sesuatu, aku akan mengatakannya secara langsung pada yang bersangkutan. Dia tampaknya tidak terbiasa dengan sikap terbuka seperti itu, maka salah satu di antara kami harus pergi. Dia adalah si bos, maka suatu malam dia mengirim sekretarisnya ke rumahku pukul sebelas malam untuk mengatakan bahwa aku telah diberhentikan. Kasus tersebut kini sedang diproses di pengadilan Qatar.

CP : Apakah "Perang terhadap Teror" oleh Amerika Serikat sesungguhnya adalah "Perang terhadap Islam" ?

YR : Tentu saja ini adalah perang terhadap Islam, tapi aku tak percaya ini disebabkan oleh benturan antar-peradaban. Penyebab sesungguhnya adalah kapitalisme Amerika dan Inggris.

CP : Penjara Guantanamo, Bagram, Abu Ghraib, Belmarsh -- apakah ini perwujudan dari kebencian terhadap umat Muslim yang dilembagakan ?

YR : Jangan lupa pula Diego Garcia dalam daftar itu dan para tahanan lain di seluruh dunia yang berada di bawah kendali militer Amerika. Sejarah akan menghakimi mereka dengan keras dan umat Muslim akan terbukti tidak bersalah.

CP : Seberapa jauh menurut Anda, media patut disalahkan atas merebaknya sentimen anti-Islam ? Apakah itu hanya akibat jurnalisme yang malas dan tak banyak tahu atau memang ada sebuah agenda tersembunyi ?

YR : Gabungan keduanya. Bagaimanapun, kita juga harus disalahkan karena hanya duduk berpangku tangan dan tak melakukan apa-apa. Kita seharusnya tak memberi toleransi terhadap segala hal yang menunjukkan sikap Islamofobia serta membentuk tim pemantau media untuk menghentikan reportase yang buruk. Para jurnalis yang malas melakukan investigasi membangkitkan histeria dan ketakutan dengan melaporkan serangan anthraks dan bom yang sesungguhnya tak ada. Toleransi nol adalah satu-satunya jawaban untuk menghentikan hal ini.

CP : Apa motivasi Anda maju sebagai kandidat partai Respect di parlemen Eropa ?

YR : Respect adalah sebuah partai politik baru yang tak dikotori oleh kaum zionis, tidak seperti parta-partai lainnya. Inilah satu-satunya harapan kami untuk menunjukkan pada Blair, Howard, dan Kennedy bahwa kami menginginkan sebuah partai berbeda yang mau membela dan menghormati hak-hak setiap orang atas keadilan dan kesetaraan. Aku meninggalkan partai buruh karena sebagai seorang Muslim aku tak bisa lagi mendukung sebuah organisasi yang mendukung pembantaian sewenang-wenang saudara-saudara kami di luar negeri...

CP : Anda pernah berkata bahwa peristiwa 11 September adalah "hal terbaik sekaligus hal terburuk yang terjadi pada Islam." Bisakah Anda jelaskan ?

YR : Peristiwa itu menjadi hal terburuk karena mengakibatkan serangan terhadap orang-orang Islam, tapi itu juga membuat ribuan orang sepertiku tertarik membuka Al-Quran untuk melihat apakah di sana memang ada anjuran untuk menindas kaum perempuan dan mendorong tindakan kekerasan. Sebagai akibatnya, ribuan orang beralih agama memeluk Islam dan saat ini Islam menjadi agama yang paling cepat berkembang di dunia.

CP : LAlu, apa rencana Anda selanjutnya ?

YR : Aku ingin terus mempromosikan Islam dan berjuang melawan ketidakadilan di mana pun aku bisa melakukannya secara lebih efektif. Al-Quran adalah sebuah kitab tentang perdamaian, tapi juga merupakan sebuah kitab tentang tindakan dan sebagai Muslim kita tak bisa hanya duduk berpangku tangan dan tetap berdiam diri ketika keyakinan kita diserang.

CP : Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca kami ?

YR : Kita ini memiliki berbagai kekuatan dan kelemahan, dan kita sebaiknya menggunakan kekuatan kita untuk membela Islam. Jika Anda bisa berteriak, menulis, menggambar, berdemonstrasi, bermain sepak bola, berlari, atau berbelanja, lakukanlah semua itu demi membela Islam. Bahkan yang paling lemah di antara kita pun bisa berbuat sesuatu dengan sekadar memboikot barang-barang yang digunakan untuk mendanai Zionisme, misalnya. Ajaklah anak-anak Anda membaca situs Boycott Israeli Goods (BIG). Pada pemilihan umum yang akan datang, jika Anda memiliki hak pilih, gunakan suara Anda dengan bijaksana dan jangan memilih partai-partai yang merusak Islam. Pemilihan umum adalah peristiwa yang jarang terjadi di mana kita semua setara ... Suaraku atau suara Tony Blair dihitung sama. Secara perseorangan kita bisa kuat, tetapi secara kolektif kita bisa menjadi sebuah kekuatan yang tak terhentikan.

Kunjungi juga :
1. Yvonne Ridley's Site
2. Yvonne Ridley Nilai Media Australia Islamofobia
3. Kesaksian Yvonne Ridley di Bekas Gereja Yang Menjadi Mesjid
4. Yvonne Ridley: Taliban, Islam dan Saya
5. Dari Penjara Taliban Menuju Iman
6. Penerbit : www.mizan.com

No comments: