Photobucket

Tuesday, August 21, 2007

Wahyu Suparno Putro, Dale Collin Smith

Diambil dari kumpulan kisah mualaf tabloid Nurani, yang diterbitkan ke dalam buku Hidayah Allah untuk Para Pendeta, JP Books, Surabaya, Maret 2007.

Hidayah datang lewat berbagai cara. Seperti yang dialami oleh komedian bule Wahyu Suparno Putro Dale Collin Smith. Pria berdarah Scotlandia namun berkewarganegaraan Australia ini mengaku memeluk Islam lantaran ingin mengerjakan Salat Tarawih setelah ikut berpuasa Ramadan. Berikut kisahnya.

Tahun 1994 saya bekerja di Jogjakarta. Waktu itu saya dikontrak oleh sebuah penerbangan swasta di Indonesia, di bagian manajemen. Saat itu saya belum berkecimpung di dunia seni peran seperti sekarang ini. Kala itu saya beragama Budha. Dalam ajaran Budha kita diharuskan untuk belajar bertoleransi. Selama di Jogjakarta saya banyak bertemu dengan orang-orang yang beragama Islam. Saya kadang suka ikutan puasa bersama mereka saat Ramadan tiba. Alhamdulillah saya puasa full lho selama Bulan Ramadan itu.

Senang bisa puasa dan berbuka puasa bersama-sama mereka. Hanya saja saya merasa ada sedikit yang kurang dalam melaksanakan semua itu. Karena saya tidak bisa menjalani Salat Maghrib dan Salat Tarawih bersama teman-teman saya itu. Apa yang saya kerjakan terhenti begitu waktu berbuka puasa tiba. Hal itu berlangsung sampai tiga tahun lamanya.

Bangun Subuh
Selain itu, saya juga mengalami kejadian yang terbilang berbeda pula. Setiap hari saya selalu terbangun ketika azan Subuh berkumandang. Itu terjadi setiap hari tanpa terkecuali. Peristiwa itu akhirnya saya tanyakan kepada bapak angkat saya. Kebetulan ketika saya mulai tinggal di Jogja, saya bertemu dengan seorang bapak yang akhirnya saya anggap seperti ayah sendiri. Jadi kalau saya ada apa-apa biasanya bertanya kepadanya.

Waktu itu dia menyarankan saya untuk menanyakan hal itu kepada seorang ustadz yang biasa dipanggil Pak Haji, yang tinggal di belakang rumah saya. Saat itu Pak Haji bilang kalau kita terbiasa bangun subuh tanpa memakai jam beker, berarti malaikat mulai dekat dengan kita. Sehingga kita suka terbangun ketika subuh tiba. Dari situlah saya akhirnya mulai banyak belajar tentang Islam.

Lebih Tenang
Saya belajar Al Quran dari Pak Haji. Setelah saya merasa benar-benar mantap, akhirnya saya masuk Islam. Bukan berarti dalam agama Budha saya tidak merasa tenang, tetapi saya merasakan kalau ajaran Budha lebih mirip prinsip hidup daripada agama. Sementara Islam mengajari hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya. Jadi inilah yang membuat saya merasa cocok dan merasakan adanya ketenangan setelah mempelajari Islam.

Kalau ditanya, kenapa saya beragama Budha bukannya Kristen. Itu mungkin disebabkan karena saya lebih tertarik dengan Budha. Kebetulan kedua orang tua saya tidak beragama. Mereka menyerahkan urusan agama kepada saya, mana yang saya rasa cocok ya silakan dipeluk. Dulu sewaktu saya berumur sekitar sepuluh tahunan, di sekolah saya banyak mendapatkan cerita tentang Gandhi. Beliau pribadi yang penuh kasih. Dan saya memang menyukai pribadi orang yang seperti itu. Saya tipe orang yang tidak bisa menyakiti orang. Saya tidak menyukai peperangan dan memukul orang. Waktu itu saya berpikir misi Budha cocok untuk saya. Makanya saya pilih Budha (Nyambung nggak ya sama Gandhi ? – amanah).

Tapi selama itu saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam jiwa saya. Dan sekarang saya sudah dewasa dan jauh lebih matang. Jadi melihat segala sesuatunya tidak serba hitam putih saja. Namun ada sisi yang lain. Saya tidak langsung menurut dan terpengaruh atas apa yang saya baca. Saya melakukan sesuatu aras panggilan jiwa bukan hitam putih lagi.

Masuk Islam
Saya masuk Islam sekitar tahun 1999 di Jogjakarta, di sebuah mushola di belakang rumah saya. Sewaktu saya berikrar masuk Islam, saya sempat ditanya mengapa saya masuk Islam. Saya jelaskan kalau itu panggilan jiwa saya. Mereke bertanya seperti itu karena di sana baru saja terjadi suatu peristiwa, di mana terdapat suau kelompok orang yang masuk Islam, tapi belakangan diketahui dia masuk Islam dengan tujuan untuk merusak Islam dari dalam. Mereka bertanya apakah apakah saya termasuk kelompok itu. Ya saya jawab bukan, karena saya juga baru mendengar ada kejadian sepert itu untuk pertama kalinya. Saya katakan saya masuk Islam dari hati nurani. Sewaktu saya membaca shahadat saya terharu sekali, sampai menitikkan air mata. Saya merasa seperti ada yang menyentuh kepala saya.

Saya diberi nama muslim Wahyu oleh ayah angkat saya. Waktu itu saya meminta untuk tidak diberi nama Muhammad, karena hampir semua orang bule yang masuk Islam namanya Muhammad. Saya ingin berbeda. Saya juga mencantumkan nama bapak angkat saya Suparno di belakang nama Wahyu, untuk menghormati beliau.

Kebetulan kedua orang tua saya sudah meninggal dunia semua. Jadi saya sudah menganggap beliau seperti orang tua saya sendiri. Mereka tinggal di Jogjakarta saat ini. Setiap lebaran tiba, saya pasti merayakannya bersama mereka. Kini keinginan saya hanya satu, ingin bisa memberangkatkan haji keduanya. Setelah keduanya bisa berhaji, barulah saya mempersiapkan diri untuk berhaji. []

8 comments:

Unknown said...

Ass. Wr. Wb.

salam kenal, Saya mau tanya (kalo tau) alamat atau no. telepon Mas Wahyu Suparno yang bisa dihubungi, sekedar untuk menambah koleksi teman dan bersilaturahim. Trims ya. Yunie

Anonymous said...

@yunie,
mungkin bisa ditanyakan di www.mualaf.com

Wahyu said...

Assalam....
Terima kasih atas perhatian anda kepada proses Muallaf saya. Saya selalu bingung apa menarik di cerita saya tapi saya juga alhamduliilah jika menjadi inspirasi untuk pembaca. Sayangnya ada berberapa kesalahan di cerita ini (selain salah ketik) seperti waktu saya pindah ke Yogyakarta saya kerja di perusahan kerajinan, Pak Haji ((lebih dikenal "Pak Sigit") cuma bilang jika bangung pagi pada saat semestinya sholat Subuh, mungkin itu berati dibangun oleh malaikat biar sholat tidak tertinggal (bukan terkait dengan pakai jam beker atau tidak), Saya tidak belajar Al Quran bersama Pak Haji (memang sering bahas isinya) tetapi saya belajar isi Al Quran dari edisi jemahan bahasa Inggris (sayangnya, saya sampai saat ini belum bisa baca huruf Arab), Mahatma Gandhi datang dari agama Hindu tetapi memakai kepercayaan "Satyagraha" (Budha juga datang dari Kerajaan Hindu dan beliau juga memakai banyak inti dalam "Satyagraha" - ini untuk orang2 yang belum mengerti hubungannya), Saya pertama kali "dua kali syahadat" tahun 1999 tetapi bersama sahabat saya. Tahun 2003 saya baru meresmikan di Musholla dibelakang rumah saya demi kebutuhan orang lain yang sering tidak percaya bahwa saya sudah Muallaf & butuhkan sertifikat, Nama saya adalah "Wahyu Soeparno Putro" bukan Suparno dan terakhirnya, saya jauh lebih mudah menerima orang yang menghindari nama2 diskriminatif seperti "BULE".
Selain itu... jika anda ingin lebih tau tentang perjalanan saya sehari2 atau ingin hubungi saya, bergabunglah di website saya di www.wahyusputro.webs.com
Terima Kasih
Wassalam :)

Unknown said...

halo pak wahyu,waktu pertama kali lihat di tv kaget juga ya pak wahyu dengan pengetahuan agamanya.saya udah lama mau mencari tau and kenalan cuma kog belum2 juga sampe hari ini saya niatkan dengan niat baik mau berkenalan dengan pak wahyu,
nadya di jakarta 08129231785

umi said...

hallo mas wahyu
selamat atas keyakinan anda memeluk islam. saya se orang penggemar mas wahyu. saya tertarik dengan keislaman mas wahyu.

Anonymous said...

nyari tenar emang gitu kalo di Indonesia,
coba dia tinggal di Afgan pasti gak sperti ini,
sering2 datang ke forum kami di indonesia.faithfreedom.org/forum/

dwi-dwi said...

Ass,..mas wahyu saya aty,saya ada tugas agama islam tentang mualaf,saya ingin mengangkat profil mas wahyu. apa boleh saya bertemu mas wahyu??klo boleh saya minta alamat kediaman mas wahyu,dengan mengirimkan email balasan ke astrid.triple_a@yahoo.com
terima kasih & mohon maaf sebelumnya
wassalam,..
aty 08561765959

Just in me said...

Assalam Alaikum

Hati saya bergetar saat membaca pengalaman spiritual saat memeluk Islam. Subhanallah.. Allah yang Maha Kuasa atas segela sesuatunya. Saya tidak bisa mengucapkan kata2 lagi mas karena sungguh Luar Biasa apa yang Mas Wahyu alami...

Barakallah Fiikum

Wassalam