Photobucket
Showing posts with label masuniah. Show all posts
Showing posts with label masuniah. Show all posts

Wednesday, June 2, 2010

Lagu Kebangsaan Israel

Pas lihat TVOne, dengar komentar Pak Mahendradata saat menanggapi tragedi kapal Mavi Marmara yang diserang pasukan Israel. Katanya," Nggak usah jauh-jauh, kalo ingin tahu jalan pikiran bangsa Israel, dengarkan saja lagu kebangsaanya..." Kira-kira begitu yang saya tangkap saat itu. Nah berikut ini adalah teks terjemahan Bahasa Inggris dari lagu kebangsaan Israel :

Hatikva - English Lyrics

As long as deep in the heart,
The soul of a Jew yearns,
And forward to the East
To Zion, an eye looks
Our hope will not be lost,
The hope of two thousand years,
To be a free nation in our land,
The land of Zion and Jerusalem.

sumber : http://www.science.co.il/israel-anthem.asp

baca selengkapnya...

Monday, June 1, 2009

Buku Masonic And Occult Symbols

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku yang berjudul "Masonic And Occult Symbols Illustrated" melalui situs lelang Ebay. Membaca deskripsinya di Ebay, buku karya Dr. Cathy Burns ini cukup menarik. Ditambah lagi, selama ini saya memang memiliki rasa penasaran untuk mengetahui secara lebih dalam, mengenai misteri simbol-simbol.

Secara sekilas, buku ini berisi beberapa kategori simbol dengan sedikit penjelasan sang penulis, dilengkapi dengan cuplikan referensi pustaka yang cukup banyak. Simbol-simbol diilustrasikan dalam warna hitam putih dan cetakan yang sederhana.


Saya tidak sabar untuk segera membuka bab yang membahas mengenai simbol Islam. Saya lihat di daftar index, Islam ada di halaman 389. Saya bergegas ke halaman itu. Anda tahu, apa yang tertulis di halaman itu ? Ini dia :

The Islamic God is called Allah. He was the moon god, who married the sun goddess. Dan seterusnya ... Saya nggak tega menulisnya di sini. Sangat ngawur..

Astaghfirullah.. selera saya terhadap buku itu mendadak hilang. Buku yang telah saya nantikan berminggu-minggu kedatangannya, akhirnya runtuh citranya karena satu alinea. Saya lihat di footnote-nya, ternyata keterangan itu bersumber dari Robert A. Morey, dari bukunya Islam Unveiled: The True Desert Storm. Wah.. orang ini lagi. Si Robert ini memang suka menulis secara kasar dan provokatif perihal Islam, namun bukunya justru populer dan menjadi pegangan orang-orang barat dalam mengenal Islam. Buku yang juga ditulisnya, The Islamic Invasion, bahkan telah membuat Irena Handono, sang mualaf mantan biarawati, untuk meng-counter-nya dengan buku Islam Dihujat: Menjawab Buku The Islamic Invasion.

Demikian banyak buku orientalis yang beredar, yang tidak bersumber dari sumber yang otoritatif. Kepada rekan-rekan non-Muslim yang ingin mempelajari Islam secara tulus, berhati-hatilah dalam memilih buku.

baca selengkapnya...

Sunday, January 11, 2009

Mengapa Amerika & Kristen Mendukung Israel

Amerika adalah negara yang paling depan dalam mendukung langkah Israel. Bahkan sebagian (besar) umat Kristen dunia pun demikian. Saya pernah mendengar sendiri kenyataan ini saat diskusi dengan teman yang beragama Kristen. Beberapa waktu yang lalu Hidayatullah juga memberitakan wawancara seorang pendeta dengan Radio Nederland, yang secara jelas mendukung Israel. Rupanya situasi ini memang sudah dirancang sejak dahulu oleh para Zionis. Silakan lihat kembali posting amanah yang berjudul Judeo Christian, Ruh Amerika

Type rest of the post here

baca selengkapnya...

Sunday, November 2, 2008

Akhirnya Kutemukan

Hampir setahun yang lalu saya beli buku kecil berjudul Satanic Finance, karya A. Riawan Amin. Ketika muncul isu krisis keuangan global ahir-akhir ini, saya mencoba membuka-buka lagi buku karya Dirut Bank Muamalat dan Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia itu. Karena membacanya sambil melakukan perjalanan kesana-kemari, maka baru beberapa halaman dibaca, buku tersebut menghilang, entah ketlisut di mana. Kucari-cari tidak ketemu juga. Wah, ini nggak bisa dibiarkan, saya harus beli lagi.

Saya telepon ke Gramedia Malang, orang Gramedia bilang buku tersebut sudah tidak ada. Telepon ke Togamas Malang, sama, sudah nggak jual lagi. Saya kunjungi Gramedia Basuki Rahmat Surabaya, nggak ada juga. Togamas Surabaya, setali tiga uang. Wah, gimana nih. Padahal saya sedang penasaran betul mengenai topik bahasan sekitar sistem keuangan yang saat ini sedang digunakan oleh perbankan internasional, terlebih lagi masalah moneter, sektor riil, bank sentral, filosofi uang kertas, dll.

Saat lagi jalan-jalan di Matahari Pasar Besar Malang, Alhamdulillah akhirnya saya menemukan buku tersebut di Toko Buku Kurnia Agung, yang berada satu lantai dengan Matahari. Wow, lega sekali rasanya. Bagi yang masih penasaran dengan topik-topik yang saya sebut di atas, kayaknya perlu baca buku ini deh ... Selamat berburu.

baca selengkapnya...

Sunday, September 21, 2008

The Assassin, Mesin Pembunuh

Pada pertengahan abad ke 12, di Syria terdapat sebuah kelompok rahasia para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam pada masa itu dengan cara-cara kekerasan. Kelompok ini memiliki struktur organisasi rapi. Mereka membangun sistem sel bawah tanah. Membentuk agensi dan spionase dengan struktur kepemimpinan piramidal. Jaringan intelijen piramidal ini mereka gerakkan di tengah masyarakat Muslim di seluruh dunia.

Dalam kepemimpinan piramidal ini, ada satu pemimpin tertinggi. Tugasnya mengatur seluruh agen di berbagai wilayah masyarakat Muslim. Para eksekutor kelompok dalam organisasinya ini disebut Assassins.

Semula, kelompok Assassins ini disebut Nizariyah. Karena, mereka berusaha mengembalikan Pangeran Nizar al-Toyyib ke tahta kekuasaan Mesir. Nizariyah melakukan cara ini karena yakin bahwa Pangeran Nizar al-Toyyib adalah reinkarnasi Nabi Ismail as. Namun berkali Nizariyah salah patron dan gagal meraih tujuan. Akhirnya mereka berinovasi menentukan pemimpin.

Merasa mendapat jalan buntu dan jengah mengalami kegagalan akibat salah memilih pemimpin, Nizariyah mereorientasi sistem organisasi dan bertindak berbeda dengan cara-cara sebelumnya. Kali ini Nizariyah melanggar syariah Islam. Mereka menyabotase dan mengadopsi secara compang-camping akidah Syiah tentang Imam Mahdi. Dengan dalih mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Imam Mahdi, Imam ke-12 yang diagungkan masyarakat Syiah, kelompok Nizariyah melancarkan serangan bawah tanah kepada orang-orang yang dianggap musuhnya.

Perbuatan Nizariyah ini jelas bertentangan dengan syariah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dan keyakinan masyarakat Syiah. Kepemimpinan Nabi pamungkas ini (menurut keyakinan Syiah, amanah) dilanjutkan oleh 12 Imam. Imam terakhir adalah Imam Mahdi yang dijanjikan Allah SWT sebagai penegak keadilan akhir zaman.

Sehebat apapun atraksi mereka, meski mengklaim gerakannya demi mempersiapkan kehadiran Imam Mahdi, sangat jelas mereka melanggar Syariat Islam Syiah. Misalnya, kelompok Nizariyah membolehkan setiap pemimpin mereka memiliki hak istimewa; meminum anggur hingga mabuk, menghisap ganja hingga teler. Lebih fatal lagi, pemimpin mereka dihalalkan membunuh umat Islam lainnya dengan dalih jihad. Penyimpangan total terhadap Syariat Islam yang mereka lakukan menjadi alasan para ulama Syiah mendakwa mereka sebagai orang-orang murtad dan sesat.

Setelah dinyatakan bersalah dan sesat, kelompok Nizariyah meninggalkan Mesir dan pindah ke Syria. Kemudian, di sana kaum Nizariyah dikenal sebagai kelompok Hashshasin. Bahasa Inggris mengkonversi kata ini menjadi Assassins, artinya para pembunuh. Namun penegasan ini masih mengandung kontroversi. Hashshasin yang diartikan “penghisap ganja”, menurut beberapa pakar Bahasa Arab berasal dari kata yang artinya “penjaga rahasia-rahasia”.

Selanjutnya, dalam kendali kepemimpinan Hasan Bin Sabah, kelompok Assassins banyak melakukan serangan gerilya secara keji. Mereka menyerang kota Baghdad dari markas besar Lembah Alamut, di sebelah utara Persia. Mereka berusaha menggulingkan penguasa pada masa itu.

Dalam The History of The Assassins, Amin Maluf menjelaskan bahwa Hasan Bin Sabah adalah master budaya dan penyair yang menguasai sains modern. Hasan Bin Sabah berusaha keras membangun organisasi Assassins. Dia adopsi teknik-teknik Darul Hikmat di Kairo, Mesir. Dia berambisi memajukan organisasi yang dipimpinnya itu. Terbukti, setelah dua abad lebih, kelompok Assassins lihai membunuh musuh-musuhnya dengan racun dan senjata. Kelompok ini juga mahir melakukan serangan-serangan bawah tanah yang pernah menjadi momok di kawasan Timur Tengah.

Benteng Assassins Lembah Alamut menjadi salah satu legenda Persia yang terkenal dengan sebutan “ surga dunia”. Marco Polo terkesan akan kemegahan dan kemewahan Benteng Alamut. Usai perjalanannya melintasi benteng itu pada tahun 1271 M, dia menulis :

Di lembah elok itu, di antara dua gunung tinggi menjulang, dia (Hasan Bin Sabah) membangun taman-taman mewah. Di dalamnya tumbuh semua pohon berbuah ranum dan segala tumbuhan harum yang bisa dipetik. Istana-istana dengan ragam luas dan bentuk dibangun di setiap hamparan taman yang berbeda-beda. Istana-istana itu dihias batu emas. Di dinding-dindingnya bergelantungan lukisan-lukisan. Di jendela-jendelanya bermacam kelambu sutra mewah terpajang.

Di ruang-ruang istana, suguhan anggur, susu, madu, dan air bersih tersaji di tiap sudutnya. Penghuninya gadis-gadis cantik molek. Mereka semua pandai bernyanyi, memainkan berbagai alat musik, dan menari. Mereka semua manja serta memikat dengan sejuk.


Sebuah kastil kokoh, seolah mustahil dihancurkan menancap di gerbang. Dia ingin tak seorangpun masuk ke “surga dunia” itu tanpa izinnya. Itulah pintu masuk menuju lembah elok itu.

Hasan Bin Sabah merekrut para pemuda di wilayahnya sebagai pengikutnya dengan cara membius mereka dan mengangkutnya ke lembah itu. Setelah sadar, ternyata mereka berada di “surga dunia” itu. Pemandangan surga dunia dipamerkan kepada mereka. Segala kenikmatan bius mereka rasakan berbarengan dengan doktrin-doktrin sebelum akhirnya dilepas kembali ke tengah masyarakat.

Setelah para pemuda itu diculik oleh Hasan Bin Sabah untuk dijadikan murid, ketika itu mereka dicuci otak dengan berbagai merek dan tipe tipu daya. Akal sehat mereka menjadi hilang. Bagi mereka, sosok Hasan Bin Sabah adalah segalanya. Moto mereka kemudian : Tak ada larangan ! Semua halal !

Para pemuda “berotak baru” itu telah terbiasa dengan kenikmatan di lembah “surga dunia”. Akhirnya mereka merasakan dunia luar tak bernilai apa-apa. Mereka mabuk doktrin Hasan Bin Sabah. Setelah terbiasa dengan kemewahan, ketika mereka dikembalikan di lingkungan semula yang sarat dengan kerja keras dan hambatan-hambatan, timbul rasa ingin kembali ke taman surgawi Hasan Bin Sabah. Untuk mendapatkan lagi kenikmatan “surga dunia” itu, mereka halalkan segala cara dan rela meski nyawa sebagai taruhan.

Art of Imposture (seni menipu). Begitu Abdul Rahman menulis. Dia catat muslihat Hasan Bin Sabah ketika memerintah seorang murid terdekatnya yang memiliki loyalitas tinggi ditanam hingga leher. Kemudian murid yang hanya kelihatan kepalanya di atas tanah itu dilumuri darah segar. Tampaklah kepala itu tanpa tubuh. Sebelumnya murid terdekat itu dikabarkan terpenggal kepalanya di medan perang. Setelah murid loyal itu benar-benar tampak seolah mati, Hasan Bin Sabah mengumpulkan murid-murid barunya untuk menyaksikan kepala berlumur darah tanpa tubuh itu. Di depan murid-murid baru itu, murid loyal yang hanya tampak kepalanya di atas tanah itu mengabarkan kenikmatan surga.

Murid-murid barupun mendengar syair-syair palsu tentang surga yang terujar dari kepala berlumur darah itu. Indah dan menggiurkan. Mereka menyangka, seniornya itu telah masuk surga. Setelah Hasan Bin Sabah benar-benar yakin bahwa murid-muridnya telah terbius oleh tipu dayanya, dia memerintah mereka kembali ke “surga dunia”. Kemudian, murid yang ditanam hingga leher itu benar-benar dipenggal. Untuk menyempurnakan tipu muslihatnya, Hasan Bin Sabah memajang kepala itu di tiang ritual hingga selalu bisa disaksikan seluruh penduduk lembah “surga dunia”. Murid-muridpun terbius surga palsu.

Arkun Daraul dalam karyanya A History of Secret Societies, membagi kelompok rahasia pengikut Assassins menjadi tiga lapis. Pertama, para misionaris (Dayes), kedua para sahabat (Rafiq), ketiga adalah murid-murid yang teruji kesetiaannya, pecintanya (Muhibbin). Golongan terakhir adalah para eksekutor terlatih. Para muhibbin mencirikan diri dengan topi putih dan sepatu boot merah. Ketiga lapis kelompok Assassins, selain mahir menghunjam belati di dada korbannya, mereka juga menguasai bermacam bahasa. Ada kalanya mereka berdandan dan berperilaku seolah pendeta. Mereka juga berbaur dengan masyarakat dengan menjadi pedagang dan serdadu. Intinya, mereka siap menyamar apa saja sebagai kedok demi menjalankan misi dan meraih tujuan.

Kata sandi anggota Assassins adalah “dari surga”. Setiap ada “surat perintah jalan” untuk misi, eksekutor Assassins akan mendapat pertanyaan, “Dari mana asalmu ?” sang eksekutor pun menjawab,”Dari surga”. Setelah dipastikan, instruksi dimandatkan,” Bunuhlah fulan/fulanah. Setelah berhasil, kau akan kembali menghuni surga. Jemputlah kematian ! Karena para malaikat tak sabar mengangkatmu ke surga.”

Pengaruh Assassins menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13. Setelah Hasan Bin Sabah terbunuh di tangan anaknya sendiri, Muhammad, kelompok Assassins mengalami kemunduran. Kemudian Muhammad juga dibunuh anaknya sendiri. Tahun 1256, markas besar Assassins, Benteng Alamut, jatuh ke tangan penjajah Mongol yang menandai akhir riwayat Assassins.

Pada awal abad 16, pemerintahan Ottoman yang berkuasa, menghancurkan pertahanan terakhir Assassins yang tak terkalahkan pada masanya. Perubahan besar ini menjadikan dinasti pemimpin Nizariyah Ismailiyah memodernisasi organisasinya. Agha Khan adalah tokoh utamanya. Kemudian mereka menghilangkan citra Assassins atau ‘pembunuh’. Organisasi yang berubah total ini mensyaratkan toleransi kepada sesama umat manusia sebagai lanskap kegiatannya dan melaksanakan perintah Al-Quran. []

Disalin dari Buku Secret Societies - 21 Organisasi Perusak Dunia, Michael Bradley, Rajut Publishing House, Jakarta, Juli 2008. Judul asli : The Secret Societies Handbook, diterbitkan oleh Octopus Publishing, London, 2005.

Kunjungi distributor buku : Lutfi Agency

baca selengkapnya...

Sunday, March 30, 2008

Jordie Rosenbaum, Putri Yahudi

Oleh: M. Syamsi Ali

Siang itu the Islamic Cultural Center of New York agak sepi. Beberapa jamaah shalat zuhur sudah berdatangan, tapi adzan sendiri belum dikumandangkan. Saya masih menanda tangani beberapa berkas perkawinan untuk dikirimkan ke City Hall untuk mendapatkan “marriage certificate” bagi pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan di Islamic Center.

Tiba-tiba telpon saya berdering dan di seberang sana ada suara resesiionis menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang ingin ketemu dengan saya. “Who is she?”, Tanya saya. “Probably she wants to know about Islam,” jawabnya singkat.

“Let her sit in the conference room,” pintaku.

Saya kemudian segera menyelesaikan menandatangani berkas-berkas perkawinan itu, lalu menuju ruang rapat. Di sana sudah menunggu seorang gadis yang masih relative muda berambut pirang. Nampak seperti asli Eropa. Dengan ramah, saya mengucapkan “selamat siang!”. “Morning sir!”, jawabnya singkat. Rupanya memang belum siang karena jam masih menujukkan pukul 11:53 pagi.

“How are, and what I can do for you?”, Tanya saya memulai percakapan siang itu.

“Hi, I am sorry that I am coming without an appointment?”, katanya singkat.

“Oh no, not at all! You don’t need to take an appointment to come to our mosque,” jawab saya.

Dia kemudian seperti menarik napas, memperkenalkan dirirnya “my name is Jordie!”. Dia kemudian bercerita panjang. Dia mulai mengatakan bahwa orang tuanya adalah petinggi agama Yahudi di kota New York . “My father is a businessman, and a board member of many Jewish congregation institutions or synagogues” , katanya terus terang.

Ibunya sendiri adalah seorang philanthropist, dan menurutnya menjadi kontributor besar pada acara-acara pengumpulan dana komunitas Yahudi. Juga anggota pada berbagai organisasi sosial dan wanita di kota New York .

“And so, what makes coming here today?”, pancingku.

Sekali lagi, dia bercerita panjang. Saya menangkap darinya bahwa dia adalah seorang gadis “brilliant” dan pemberani. “I am a graduate student at the NYU”, and also a Jewish activist”, katanya.

Dia menceritakan bagaimana kegiatannya di kampus, termasuk kegiatan-kegiatannya dengan kelompok agama lain, termasuk dengan pelajar Muslim. Salah satu yang selalu dia ingat adalah ketika kelompok mahasiswa Yahudi dan Muslim melakukan kerjasama bakti sosial di New Orleans setelah terjadi musibah badai Katherina ketika itu. “I really enjoyed the accompany of my Muslim friends at that time”, jelasnya.

“Are still connected with your Muslim friends?” tanyaku.

“Yes, in fact I learned a lot from them about Islam”, jawabnya.

“And so, who direct you to come to the Center?” tanyaku lagi.

Dia kemudian menjelaskan bahwa salah seorang teman kelasnya, sama-sama mengambil sosiology, bernama Katherine. Saya bercanda, asal bukan Katherine temannya “hurricane?” (badai).

Ternyata Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, masih non-Muslim dan saat ini belajar di Islamic Forum for non Muslims. Setelah mereka berdua terlibat perbincangan tentang Islam, dan keduanya banyak merasakan nilai positif dari agama ini, Katherine menganjurkan kepadanya untuk menemui engkau. “She is a big fan of you”, candanya.

“Oh no! I am just a regular guy, employed by this Center”, kata saya.

Saya kemudian menanyakan beberapa hal tentang agamanya, Yahudi. Setiap kali menyebutkan konsep-konsep ketuhanan, saya menimpali dengan ayat-ayat Al Quran. “Really? That's amazing!”, serunya.

Dia belum pernah membayangkan betapa Islam dan Yahudi hampir mirip dalam konsep ketuhanan. Sehingga setiap kali ada poin yang dikemukakan mengenai Tuhan, saya cuma membacakan ayat-ayat dari Al-Quran.

Saya katakana, Al-Quran itu salah satunya berfungsi sebagai “musoddiqan” (untuk menegaskan kitab-kitab suci sebelumnya.

Setelah berputar-putar dengan berbagai konsep ketuhanan, kami kemudian mendikusikan hubungan Ibrahim dengan kedua anaknya. Dalam benak dia, memang Ishak itu memiliki status sebagai Nabi, tapi Ismail tidak diangkat sebagai Nabi Tuhan. Diskusi cukup inten dan hangat, bahkan sesekali terlibat perdebatan yang dalam.

Alhamdulillah, pada akhirnya setelah kita sama-sama merujuk ke Kitab Suci tentang para Nabi, dia mengakui bahwa memang ada sikap “prejudice” (curiga) dan diskriminatif dalam ajaran Yahudi. Bahwa yang mulia dalam konsep Yahudi hanya satu kelompok manusia yang digelari “Israelis” (Israelites). Manusia lain tidak terhormat, dan seharusnya menjadi hamba-hamba Israel .

Tanpa terasa adzan zuhur dikumandangkan. Kami berhenti sejenak. Tapi tiba-tiba Jordie nampak tersenyum dan mengatakan, “Jujur saja, Islam adalah yang benar!”, akunya.

“Saya sudah aktif di sinagog semenjak masih kecil, tetapi saya tidak pernah melihat satupun orang berkulit non-putih datang ke sinagog, jelasnya.

“If Judaism is really God’s religion, why it has to discriminate people on the basis of races?”, tanyanya.

Tanpa terasa, Jordie mempertanyakan berbagai hal mengenai agamnya.

“Jordie, how do you see the Prophets of God?” tanyaku.

“They must be the best people to receive and convey the revelation. Not only to convey, but they themselves lived by the revelation”, jelasnya.

Saya kemudian menjelaskan berbagai tuduhan Taurah terhadap Nabi-nabi Allah, termasuk Daud, Sulaeman, dll. Saya katakana, dalam Al-Quran tidak satupun Nabi dikisahkan dengan kisah-kisah yang menyakitkan. Justeru para nabi itu adalah orang-orang yang berjuang untuk melurukskan prilaku manusia. “Is it rational that the Prophet David slept with his neighbor’s wife, and plotted to kill him?”, tanyaku.

“Of course, not”, jawabnya.

“But Sister, it is there in Torah!”, jelasku.

Sejenak, nampak Jordie diam, memandang ke saya seperti terheran-heran.

“So, what do you think?”, tanyaku.

“Wow, I read those, but never realized that it’s so bad!” akunya.

Saya kemudian menjelaskan bahwa memang terkadang kita membaca Kitab Suci kita dan “we take it for granted”. Seolah semua sudah diterima begitu saja, dan tidak ada lagi keinginan untuk menyelami dan memahaminya. Selain karena sudah diterima sebagai “keyakinan” dan sudah menjadi “dogma”, juga karena keberagamaan kita bersifat turunan.

Jordie terdiam. Tiba-tiba saja dia angkat kepala dan tersenyum “Wow, I really did not realized that I have been trapped in that” (ikut membuta).

“So what do you think about Islam?” saya memancing kembali.

Dengan sedikit pelan dia mengatakan “I think this is the true religion”. Kali ini sepertinya dia tidak seagresif sebelumnya.

“Jordie, can I ask you something?” tanyaku.

“We are in the winter. You know what kind of cloth we need. If you have only on you, and in front of you a thick jacket, will you stay frozen or will you take the jacket to cover your self?”, tanyaku.

“Of course I must take the jacket”, jawabnya singkat.

“I know you have your religion. But your religion does not fit to save you, Jordie. Here Islam, the religion you believe as the true religion is to save you. Would you like to take it?”, tanyaku.

Dengan sedikit pelan, nampak agak ragu, tapi kemudian dengan tegas mengatakan “yes”.

Alhamdulillah! Tanpa saya sadari saya ucapkan itu. Rupanya Jordie juga sudah tahu betul tradisi itu.

Saya meminta agar Jordie berwudhu. Ditemani oleh seorang jamaah wanita Jordie mengambil wudhu, dan sebelum shalat dimulai (iqamah), Jordie yang nama akhirnya “Rosenbaum” itu saya bimbing mengikrarkan: “Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah.”

Pekik takbir para jamaah dilanjutkan dengan iqamah, dan Jordie pun memulai shalatnya yang pertama kali. Allahu Akbar!

New York, Maret 2008

Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com

Copy Paste dari sini

baca selengkapnya...

Thursday, March 20, 2008

Konspirasi AS dan WHO

Kemarin, saat mendengarkan radio Suara Surabaya, saya mendapatkan kembali bukti kasak-kusuk konspirasi AS. Di radio, diperdengarkan rekaman Menkes Siti Fadhilah Supari saat bedah buku di Surabaya, yang dongkol terhadap konspirasi AS dan WHO pada kasus vaksin Flu Burung, serta kuatnya AS dalam memanipulasi pemberitaan di Indonesia. Disampaikan oleh Menkes, bahwa sepulang dari konferensi di Jenewa November 2007 lalu, beliau menduga bahwa pers Indonesia akan memberitakan kisah Menkes dalam memimpin negara-negara dunia ketiga melawan Amerika serikat dan WHO dalam melawan perdagangan 'master virus flu burung' di WHO. Namun ternyata pers di Indonesia justru menampilkan 'manusia pohon' yang sebetulnya merupakan berita lama. Justru NHK Jepang yang meliput dan menyiarkan pemberitaannya.

Lalu beliau mengundang wartawan dan mengadakan konferensi pers. Dan ternyata, keesokannya, tak satupun beritanya muncul di media massa. Beberapa waktu kemudian beliau mengadakan konferensi pers lagi. Dan sama, tidak ada berita mengenai kasus ini di media. Akhirnya Siti Fadhilah berinisiatif menulis buku yang berjudul "Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung"

Liputan mengenai bedah buku tersebut, dapat Anda lihat di :
1. Liputan 6
2. Suara Surabaya

baca selengkapnya...

Sunday, January 13, 2008

The Federal Reserve, Badan Swasta Pencetak Dollar

Cuplikan ke-2 dari buku Satanic Finance, A. Riawan Amin, Celestial Publishing, Jakarta, 2007. Perhatikan bacaannya, karena penulis menuturkan dengan menggunakan 'sudut pandang setan'

Siapa yang bisa memaksakan kertas berharga emas ? Siapa yang bisa menulis cek kosong tanpa pernah dikomplain ? Tidak lain adalah The Federal Reserve System atau disingkat Federal Reserve atau lebih pendek lagi The Fed. Bagaimana cek kosong itu bisa dikeluarkan, semuanya biarlah menjadi rahasia kami. Tapi biarlah, sesekali agen kami menuturkan sendiri cara cerdasnya "menipu" manusia-manusia dungu lainnya:

Ketika Anda atau saya menulis selembar cek, harus ada dana yang cukup untuk mendukung cek itu. Tapi ketika The Fed yang menulis cek itu, tidak perlu ada deposit bank yang dipakai untuk mendanai. Sebab, ketika The Fed menulis cek, itu sama saja dengan mencetak uang. (Lihat di www.freedomdomain.com/bankquot.html)

Di bawah payung Federal Reserve Act, 1913, The Fed lah yang berhak menerbitkan dan mencetak dolar. Bukan Departemen Keuangan (U.S. Treasury). Di sinilah letak keanehannya. Sebuah institusi yang memiliki otoritas untuk mencetak uang, tapi bukan dimiliki oleh negara. Sebaliknya, oleh sekelompok pemilik swasta. Inilah keuntungan dan keberhasilan kami para setan yang paling menentukan. Karena kami punya ruang yang longgar untuk memastikan kolega manusia kami bisa melakukan eksploitasi atas sesamanya. Kesempatan untuk memonopoli kepentingan keuangan global, atas nama warga Amerika

Warga Amerika boleh jadi bangga karena mata uang mereka, melalui The Fed, menjadi mata uang internasional yang paling berpengaruh. Namun ada juga anggota kongres yang mencium rencana-rencana jahat kami dengan menyebut The Fed sebagai tukang monopoli. Louis T. McFadden, Chairman of The Committee on Banking and Currency, pada tanggal 10 Juni 1932 mengungkapkannya kepada publik :
Sebagian orang mengira The Fed adalah institusi pemerintah AS. Mereka bukan institusi pemerintah. Mereka hanyalah swasta yang memegang monopoli kredit yang menerkam rakyat Amerika untuk keuntungan diri mereka sendiri dan penipu yang menjadi rekanan mereka.

Laiknya negara besar, AS memiliki banyak negarawan dengan visi jangka panjang. Termasuk negarawan yang memiliki visi bagaimana keuangan semestinya dikelola. Bahkan sebelum The Fed didirikan, beberapa diantaranya mengingatkan bahayanya ketika institusi bank yang menerbitkan uang diserahkan kepada segelintir orang. Mereka bisa bertindak bukan atas nama dan kepentingan negara, tapi bergerak untuk mengeruk profit memenuhi pundi-pundi keuangan mereka sendiri. Presiden Andrew Jackson (1836) dengan tegas mengingatkan : "Jika Kongres memiliki hak (kenyataannya tidak) untuk menerbitkan uang kertas, maka hak itu semestinya diberikan kepada mereka sendiri untuk digunakan oleh (pemerintah) dan bukan untuk didelegasikan kepada individual atau korporasi."

Berbeda dengan presiden AS ke-7 itu, Presiden AS ke-3, Thomas Jefferson, seperti dikutip di awal bagian ini, menyatakan institusi bank bisa jauh lebih berbahaya ketimbang tentara musuh. Karena itu, Jefferson merekomendasikan agar kekuasaan untuk menerbitkan uang dicabut dari bank dan diberikan kepada mereka yang lebih berhak.

Pernyataan itu tidak kami sukai. Dengan mengembalikan penerbitan uang dan kredit kepada mereka yang bisa menggunakannya untuk atas nama negara, maka peluang kami untuk memecah belah, melakukan keonaran dan merekayasa kekacauan keuangan global, bisa ditekan. Namun untunglah peringatan para mantan presiden itu hanya disimpan dalam rak-rak buku museum. Kekuatan manusia-manusia yang menjadi koega kami bisa diandalkan untuk meredamnya. Buktinya, legislasi yang mengukuhkan berlakunya Federal Reserve System bisa disahkan. Meskipun secara tersirat, pengesahan ini lagi-lagi ditentang oleh presiden yang berkuasa saat itu, Woodrow Wilson (1913-1921).

Negara industri besar dikontrol oleh sistem kreditnya. Sistem kredit kita terkonsentrasi hanya pada segelintir orang. Kita sampai pada titik penguasa pecundang, pemerintahan yang paling dikontrol dan dikuasai sedunia. Bukan lagi pemerintahan yang merdeka beropini. Bukan lagi pemerintahan yang menurut keyakinan dan suara dari mayoritasnya, tetapi sebuah pemerintahan dalam opini dan di bawah paksaan kelompok kecil dari manusia-manusia dominan.

Wilson boleh saja menyindir kolega-kolega kami yang jempolan itu. Namun sejarah juga yang membuktikan, penampilan mereka sangat perkasa. Segelintir orang yang menguasai keuangan dunia. Mereka, seperti dikatakan Jefferson, memang lebih berbahaya daripada tentara musuh yang kelihatan. Karena melalui keuangan global, kolonialisme tidak lagi terjadi secara kasat mata. Penjajahan duni tidak lagi perlu meneteskan darah sedikitpun di pihak penjajah. Kolonialisme yang menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan cukup diatur oleh beberapa rekan manusia kami dari tempat ang jauh, tanpa berkeringat, tanpa bau mesiu, tanpa gedubrak-gedubruk, cukup dengan dentingan segelas martini.

baca selengkapnya...

Saturday, January 12, 2008

Dinar dan Dirham, Anti Inflasi

Cuplikan dari buku Satanic Finance, A. Riawan Amin, Celestial Publishing, Jakarta, 2007, hal 110. Perhatikan bacaannya, karena penulis menggunakan 'sudut pandang setan'.

Semasa Rasulullah SAW, nabinya para penentang kami masih hidup, dinar dan dirham digunakan dalam transaksi ekonomi. Dinar mencerminkan emas murni seberat 4,25 gram. Sementara dirham terbuat dari perak dengan berat 3 gram. Dari sisi berat, 7 dinar sama dengan 10 dirham.

Agak cukup mengherankan, Rasulullah yang membawa pandangan dan paradigma baru dalam kehidupan ekonomi dan sosial menggunakan dan mengakui dinar dan dirham yang sebetulnya bukan mata uang asli penduduk Makkah. Dinar disebut sebagai mata uang dari Bizantium, sementara dirham dari Persia. Namun pengakuan Rasulullah ini menjadi penting dan menunjukkan betapa dinar atau dirham hanyalah sekedar nama, esensinya, keduanya dibuat dari sesuatu yang berharga: emas dan perak yang layak dijadikan mata uang universal.

Kenapa mata uang ini layak disirkulasikan ke seluruh penjuru bumi ? Salah satu jawaban yang pasti, emas dan peraksangat stabil sepanjang sejarah. Berbeda dengan fiat money (uang kertas, amanah) yang cenderung mengalami inflasi setiap saat, emas dan perak sangat kuat sehingga hampir tidak terkena inflasi. Itulah kenapa, meskipun penggunaan emas sebagai alat transaksi dalam dunia modern telah dihentikan oleh pemerintah AS 1934, namun masyarakat dunia tetap menggandrungi emas sebagai alat investasi. Alasannya, menyimpan kekayaan dalam emas tetap stabil dibandingkan dengan dolar, bahkan bisa mendatangkan keuntungan berlipat di saat dolar AS mengalami depresiasi terhadap mata uang asing atau mengalami inflasi di dalam negeri.

Tahukah Anda ? Emas dan perak terbukti anti inflasi. Harga seekor ayam semasa Rasulullah SAW sekitar satu dirham (kira-kira lebih dari Rp 11 ribu). Seekor ayam saat ini masih bisa dibeli dengan jumlah dirham yang sama. Dengan kata lain, setelah 14 abad, harga seekor ayam kurang lebih sama. Sementara 25 tahun terakhir, di Eropa, harga-harga selalu naik 10 kali lipat. Di beberapa megara berkembang, diperkirakan jauh lebih besar dari ini.

Para ahli membuktikan penggunaan emas dalam transaksi perdagangan dunia, bisa menguntungkan. Karena emas menghilangkan resiko volatilitas dari mata uang. Dengan absennya volatilitas (yang disebabkan naik turunnya kurs valas) diyakini akan mempromosikan perdagangan lebih besar.

Bagi kami para setan, penggunaan dinar sebagai mata uang, akan merusak Three Pillars of Evil. Penerapan dinar akan menggusur fiat money. Dengan demikian, penggandaan uang yang diciptakan dari fiat money maupun fasilitas reserve requirements (hanya dengan cadangan emas 10 juta, bank sentral boleh mencetak uang 100 juta, amanah) tidak akan bisa lagi dilakukan. Pemerintah tidak bisa mencetak uang semaunya. Dan yang lebih penting lagi, uang yang masuk dalam sistem ekonomi adalah uang riil, bukan uang yang sejatinya janji untuk membayar alias utang.


Namun dengan bantuan sekutu-sekutu dan ahli-ahli kami dari bangsa manusia, kemunculan kembali dinar dan dirham terus dihambat. Strategi kami sederhana, mengalihkan emas sebagai alat vital ekonomi. Untuk transaksi ekonomi tidak perlu emas atau logam berharga lainnya. Mata uang tidak harus selalu mencerminkan nilai dan kekayaan. Mata uang adalah simbol legal tender yang diakui negara.

Karena hanya simbol, ia tidak perlu sesuatu yang berharga. Kertas yang diatasnya dibubuhkancap, diakui dan disahkan secara legal oleh negara melalui sebuah dekrit, sudah cukup berfungsi sebagai uang. Di sinilah keahlian kami, uang itu bisa dicetak sekehendak yang diinginkan pemerintah. Krena untuk mencetaknya tidak perlu biaya banyak. Pemerintah bisa membiayai defisit anggaran mereka dengan uang yang mereka terbitkan sendiri. Semuanya menjadi mudah.

Dengan demikian, emas dan perak yang ditakdirkan sebagai heaven's currency berfungsi sebagai alat ukur dan nilai, kami preteli fungsinya hanya sekedar sebagai penyimpan kekayaan. Oh ya, dia akan tetap menjadi alat investasi, tapi yang jelas, fungsinya untuk menjadi keseimbagan ekonomi, telah kami pangkas.

Emas yang langka, kami ganti dengan kertas yang melimpah. Hebatnya, meskipun secara instrinsik kertas hampir tidak bernilaim di tangan kami dan para kolega manusi, kertas tak ubahnya "emas". Kertas kami katakan as good as gold. Sistem ini sangat menguntungkan bagi kami para setan. Karena uang tidak lagi ditentukan oleh kelangkaan emas, tapi diserahkan kepada manusia yang didudukkan dalam lembaga yang memegang otoritas moneter. Selama manusiaitu dalam pengarus kami, selama itu juga kami bisa menentukan nasib mereka.

Karena melihat sisi lemah manusia, ada juga kalangan manusia yang mengingatkan sistem semacam ini akan sangat merusak. Bukan apa-apa, karena mereka tidak percaya manusia benar-benar akan melakukan tugas (mencetak uang) itu atas dasar kepentingan negara dan menjaga kepentingan manusia seluruhnya. Sebaliknya, karena memiliki wewenang yang demikian istimewa, siapapun akan sangat mudah tergelincir dalam kepentingan pendek yang menghancurkan bukan hanya mereka, tapi juga jutaan manusia lainnya. Itulah yang dengan lugas diingatkan oleh George Bernard Shaw :
"Anda harus memilih antara stabilitas alamiah emas dengan kejujuran dan kecerdasan para wakil yang duduk di pemerintah. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka, saya menganjurkan Anda, selama sistem kapitalis yang akhirnya unggul, untuk tetap memilih emas."

Sistem kapitalis memang saat ini unggul. Namun bukan emas yang dipilih, tapi uang kertas yang diangkat. Ini berita gembira bagi kami. Karena kemunculan uang kertas, amatlah fenomenal da menjadi lambang kepiawaian kami dalam menipu manusia.

Uang kertas (paper note atau bank note) yang disirkulasikam saat ini, semula adalah surat utang (promissory note) yang akan dibayar oleh penerbitnya (pemerintah). Namun, begitu pemerintah mendeklarasikan bahwa uang itu tidak bisa ditukarkan (dengan logam mulia alias non-redeemable), praktis kontrak untuk membayar utang tidak tertunaikan (unfilfilled contract). Dengan kata lain, utang pemerintah itu selamanya tidak akan terbayar.

Sementara dalam kacamata Islam, utang tidak bisa dijadikan sebagai alat tukar. Penggunaan utang sangat terbatas pada kontrak yang dilakukan oleh mereka yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, paper note yang tidak lain adalah bentuk pengakuan utang (yang tidak pernah dibayar) tentu bukan dipandang sebagai alat tukar.

baca selengkapnya...

Thursday, August 30, 2007

Paspor dan Uang Palsu dari Isreal

Merupakan cuplikan dari novel Ketika Cinta Bertasbih, Habiburahman El Shirazy, Republika-Basmala, Maret 2007. Bagian ini saya cuplik karena memuat informasi mengenai strategi Israel. Walaupun merupakan sekedar novel, namun saya yakin, penulis tidak asal menulis. Pastilah isinya didasarkan kepada fakta yang terpercaya. Saya telah membaca yang episode 1, dan kini sedang menunggu penerbitan episode 2. Ceritanya bagus, sekelas dengan Ayat-ayat Cinta. Berikut ini cuplikan yang saya maksud.

... “Bagaimana dia bisa mendapatkan paspor-paspor ini ?” tanya Furqan lugu.

“Ya tentu saja Israel. Paspor-paspor itu ‘palsu tapi asli’.”

“Maksud kolonel dengan ‘palsu tapi asli’ bagaimana ?”

“Paspor itu sesungguhnya palsu. Karena yang mengeluarkan bukan negara asalnya tapi yang mengeluarkan sebenarnya adalah Mosad Israel. Tapi asli, artinya bahkan negara aslinya pun akan mengakui itu asli. Sebab tidak bisa dibedakan dengan yang asli. Jenis kertasnya sama. Semuanya sana. Kau harus tahu, Israel memiliki semua jenis kertas yang digunakan untuk membuat uang di seluruh dunia. Juga memiliki semua jenis kertas yang digunakan untuk membuat paspor di seluruh dunia. Israel juga memiliki teknologi untuk membuat uang dan paspor yang sama persis dengan yang ada di seluruh dunia. Inilah rahasia yang berhasil kami kuak. Maka kita harus hati-hati. Dengan membuat uang palsu, tapi benar-benar tidak bisa dibedakan dengan yang asli, Israel bisa merusak ekonomi suatu negara. Krisis Asia Tenggara dalam analisis kami tak bisa dilepaskan dari rekayasa Israel.”

Kolonel Fuad memberikan penjelasan panjang lebar. Furqan jadi sangat mafhum. Jika untuk membuat paspor di seluruh dunia adalah begitu mudah bagi Mosad Isreal, maka untuk sekedar mengetahui identitas dirinya dan membuka kamar hotelnya bukanlah pekerjaan susah.

baca selengkapnya...

Saturday, June 2, 2007

Message Behind The Song

Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world

You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one

Hampir semua dari kita mengenal lirik lagu ini. Ya, lagunya John Lennon, Imagine, yang terasa menyejukkan saat didengarkan. Tapi tunggu dulu... Ternyata ada yang aneh di sini.

Terdapat beberapa kalimat kunci yang sangat erat berkaitan dengan agenda gerakan konspirasi freemasonry :

Imagine there's no Heaven. No hell below us. And no religion too.
Sama saja artinya dengan meniadakan agama. Tidak mengakui adanya konsekuensi paska kehidupan. Mempersepsi eksistensi Tuhan dengan pengertiannya sendiri, atau bahkan mungkin tidak mengakui adanya Tuhan.

Nothing to kill or die for. Living life in peace.
Memiliki semangat humanisme universal. Sama seperti halnya dengan semangat "LC" dan "RC", organisasi bentukan freemasonry, yang didedikasikan untuk dunia kemanusiaan, tanpa membedakan suku bangsa dan agama.

No need for greed or hunger. A brotherhood of man. Imagine all the people. Sharing all the world. And the world will be as one
Membangun semangat persaudaraan, untuk membentuk suatu dunia baru yang satu, alias New World Order, alias Novus Ordo Seclorum (semboyan AS di mata uang kertas 1 dolar-nya)

Dan ingatlah, lagu-lagu atau kalimat-kalimat yang diulang-ulang, dan masuk ke otak kita melalui panca indera, akan mempengaruhi area bawah sadar kita.

Patut disimak :
1. Ancaman Global Freemasonry, Harun Yahya
2. NLP dalam Islam

baca selengkapnya...

Saturday, May 12, 2007

Boedi Oetomo vs Islam

Disalin dari buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia, yang ditulis oleh Herry Nurdi, diterbitkan oleh Cakrawala Publishing, 2005.

Hubungan antara pribumi, terutama kalangan keraton yang sangat renggang pada periode ini dengan Belanda, dimanfaatkan sebagai pintu masuk bagi anggota Vrijmetselarij (Ing : freemasonry, An). Terutama memanfaatkan Boedi Oetomo yang dijejali dengan doktrin Indonesia Baru yang mereka sampaikan.

Antara Vrijmetselarij dan Boedi Oetomo terjalin hubungan yang sangat kuat dan akrab. Ini kelak mempengaruhi sikap Boedi Oetomo, terutama dalam sikap keberagaman mereka. Misalnya saja brosur terbitan Boedi Oetomo yang bernama Djawa Hisworo, yang selalu menyerukan caci maki kepada Rasulullah dan ajaran Islam. Jika kini Boedi Oetomo malah dikenal sebagai pencetus nasionalisme, sejujurnya, Boedi Oetomo sangat menentang nasionalisme. Boedi Oetomo malah tidak menghendaki nasionalisme dan menghadirkan gerakan kejawen yang anti gerakan Islam sebagai gantinya.

Bahkan pernah tercatat pula, mayoritas Boedi Oetomo menolak usulan K.H. Ahmad Dahlan yang meminta agar diadakan pengajian keislaman dalam tubuh Boedi Oetomo. Padahal kala itu, K.H. Ahmad Dahlan juga salah satu anggota Boedi Oetomo yang terbilang senior. Tapi syukurnya, penolakan tersebut berbuah berkah. Karena dari penolakan tersebutlah K.H. Ahmad Dahlan memutuskan untuk menarik diri dari Boedi Oetomo dan pelan tapi pasti mulai merintis Muhammadiyah pada tahun 1912.

Tahun-tahun itu, terutama dengan motor Boedi Oetomo, memang muncul sentimen anti Islam dan menganggap Islam kontra atas perjuangan kebangsaan. Bahkan, pada kongresnya di tahun 1925, Boedi Oetomo mengukuhkan kebudayaan Jawa sebagai dasar pendidikan. Hal serupa juga terjadi dalam Jong Java yang menolak memasukkan pelajaran agama Islam sebagai salah satu kegiatan untuk anggota organisasi yang beragama Islam pada kongresnya tahun 1924. Padahal, unsur-unsur agama lain seperti Katolik, Protestan terlebih lagi theosofi telah dan diperbolehkan mengadakan kegiatan keagamaan di dalam Jong Java. Usulan tersebut diajukan oleh Sjamsuridjal, salah seorang anggota Jong Java.

Suara setuju dan tidak setuju dalam Jong Java tentang kegiatan keislaman dalam kongres tersebut sama banyak jumlahnya. Bahkan ketika diadakan pemungutan suara yang kedua, jumlah tetap sama banyak. Namun kelompok yang menolak Islam bersikukuh dengan alasan akan menimbulkan permusuhan saja dalam organisasi.

Akhirnya Sjamsuridjal mengendurkan suara. Haji Agus Salim yang hadir dalam kongres tersebut, di akhir acara menemui Sjamsuridjal dan kawan-kawan. H. Agus Salim memberikan semangat agar pemuda-pemuda Muslim tersebut tidak patah arang. Kelak pertemuan antara H. Agus Salim dan Sjamsuridjal yang berakhir di dalah satu perempatan jalan di Jogjakarta itu melahirkan gerakan besar lainnya, Jong Islamieten Bond atau Persatuan Pemuda Islam.

Sikap-sikap negatif pada Islam juga ditunjukkan oleh person-person anggota Boedi Oetomo, salah satunya adalah Dr. Soetomo yang kerap kali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menghina Islam, seperti tidak perlu berhaji karena hanya akan membuang-buang uang saja. Kelak Soetomo keluar dari Boedi Oetomo dan mendirikan sendiri sebuah organisasi dengan nama Surabaya Studie Club. Di dalam Studie Club inilah ia pernah berdebat seru dengan anggota Sarekat Islam, tentang banyak hal. Mulai dari agama sampai sikap kebangsaan orang-orang Muslim.

Sikap-sikap seperti ini bukan semata-mata Boedi Oetomo membatasi diri dari sikap sektarian yang bersifat agama. Tapi sikap seperti ini terbentuk, besar kemungkinan karena persentuhan Boedi Oetomo dengan Vrijmetselarij yang memang memiliki doktrin anti agama, sekuler dengan selubung pluralisme dan theosofi.

baca selengkapnya...

Saturday, May 5, 2007

Judeo Christian, Ruh Amerika

Pada bagian akhir dari buku Knights Templar Knights Of Christ, yang ditulis oleh Rizki Ridyasmara, Pustaka Kautsar , 2006, diuraikan perihal Fenomena Judeo Christian di Amerika. Pada awal pembahasan, diilustrasikan bagaimana Bush merupakan Presiden Amerika yang sangat religius. Dia selalu memulai harinya dengan berlutut di atas Oval Office bersama Squadron Doa Kepresidenan.

Di masa pemerintahan Bush inilah, kali pertama pidato kenegaraan ditutup dengan berdoa bersama. Ini menandakan kedekatan negara dengan agama, suatu hal yang belum pernah terjadi di Amerika. "Kesalehan" Bush ini mestinya akan membawa dampak positif bagi dunia, menjadi lebih damai, adil, dan indah. Namun apa yang terjadi ? Bush justru bergaya koboi, tembak duluan urusan benar atau salah dipikir kemudian. Bagaimana Afganistan dan Irak diserbu dengan ngawur, hanya dengan berbekal prasangka dan alasan antisipasi terorisme yang tak jelas. Di mana letak cinta kasih yang mendasari agama Bush ini.

Judeo Christian mengacu pada keyakinan dan sikap keagamaan umat Kristen yang memandang bahwa zionisme merupakan hal yang harus didukung secara penuh. Mereka akan merasa berdosa apabila tidak mendukung Zionis-Israel, seakan berdosa kepada Tuhannya. Mereka mendasarkan sikapnya kepada kitab Genesis/Keluaran 12:2-3 : Dan Aku akan menjadikan engkau suatu bangsa yang besar, dan Aku akan memberkati engkau, dan menjadikan nama engkau besar; dan terberkatilah engkau. Dan Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau, dan mengutuk mereka yang mengutuk engkau, dan di dalam diri engkaulah semua semua keluarga dari dunia akan diberkati.

Padahal, di dalam kitab suci Zionis Yahudi, Talmud, terdapat kebencian yang mendalam kepada Yesus dan umat Kristen.
"...Yesus akan dirajam hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang untuk melakukan kemusyrikan... Dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya. " (Sanhedrin 43a).
"Yesus ada di dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas." (Gittin 57a).
"Barang siapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian 'hari kemudian' (akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci Kristiani yaitu Perjanjian Baru." (Shabbath 116a).

Dahulu, Yahudi dan Kristen memiliki sejarah konflik yang sangat keras dan berdarah-darah. Yesus pernah dikejar-kejar penguasa Romawi untuk dibunuh gara-gara pengkhianatan seorang Yahudi. Bagaimana dalam Perjanjian Baru dikisahkan tokoh-tokoh Yahudi berkonspirasi menyalib Yesus. Lalu, Dewan Inkuisisi Sepanyol dan Portugis (Kristen) memperlihatkan betapa kerasnya mereka menghabisi Yahudi.

Kedekatan dunia Kristen dengan Zionis saat ini berasal dari sebuah infiltrasi dan rekayasa ideologis yang dilakukan kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi yang terdesak oleh kehadiran Kristen, terpaksa memeluk Kristen. Mereka memenuhi gereja agar bisa menjadi pemimpin-pemimpinnya dan kemudian menghancurkan nilai-nilai asasi dari gereja dan menggantinya dengan nilai-nilai serta keyakinan Kabbalis mereka sendiri. Ini diawali oleh Paulus, salah satu penulis Perjanjian Baru Kristen. Paulus adalah seorang Yahudi kelahiran Tarsus, keturunan israel dan berkewarganegaraan Romawi.

Pada awalnya tidak semua orang Kristen sepakat dengan ideologi Paulus. Maka pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi, Ordo Kabbalah melalui Kaisar Konstantin, menggunakan kekuasaannya untuk menghapus injil yang tidak sejalan dengan ideologi Trinitas Paulus. Tidak berhenti sampai di situ, Ordo Kabbalah juga bermain saat Martin Luther dan Calvin melakukan protes terhadap eksistensi kekuasaan Katolik Roma, hingga melahirkan Kristen Protestan.

Karena injil harus selalu bisa mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan kepentingan Yahudi, maka pada akhir abad 19 ditugaskanlah Cyrus I. Scofield, untuk menulis ulang dan menafsirkan Injil versi King James. Era ini bersamaan dengan diselenggarakannya Kongres Zionis Internasional I di Bassel Swiss tahun 1897. Scofield adalah veteran perang saudara Amerika. Ia bukanlah ahli agama, pastor, atau pun sarjana, namun seorang petualang yang pintar berbicara dan mudah meyakinkan orang.

Awal abad 20 Scofield mulai memberikan catatan kaki pada Injil versi King James, Injil yang dipergunakan oleh negara-negara berbahasa Inggris, termasuk Amerika. Ayat-ayat dalam Injil sama sekali tidak diganti, namun di bawahnya diberi banyak sekali catatan kaki, yang seluruhnya berisi dukungan dan pembenaran bagi berdirinya negara Zionis Israel di tanah Palestina. The Oxford University membayar Scofield dengan jumlah yang besar, menerbitkannya pada tahun 1909, dan melakukan promosi gila-gilaan sehingga Injil Scofield menjadi Injil paling laris di Amerika Serikat.

Konspirasi Yahudi juga mempersiapkan infrastruktur yang mendukung keberadaan Injil Scofield. Sejumlah gerakan Kristen evangelikal yang sedang tumbuh di Amerika segera menyambutnya. Pendeta Billy Graham dan sejumlah pendeta-pendeta dengan penuh semangat mengkhotbahkan bahwa Injil Scofield merupakan injil yang paling baik dari segi penafsiran. Kepada para jemaatnya, mereka menyatakan bahwa antara Kristen dengan Yahudi itu satu kepentingan dan satu misi. Akhirnya banyak sekali orang Amerika yang saat ini menganggap keberadaan Israel di tanah Palestina adalah sesuatu yang sah, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Injil Scofield merupakan Injil pijakan ideologis kelompok Judeo-Christian atau Zionis Kristen di Amerika dan dunia. Pemerintahan George Bush juga menjadikan pandangan Scofield sebagai pegangan. Di sekeliling Bush saat ini bertebaran pendeta-pendeta Zionis Kristen (Judeo Christian) fundamentalis seperti Jerry Falwell, Pat Robertson, Hal Lindsey, Zola Levitt, Oral Roberts, Mike Evans, Tim LaHaye, Kenneth Copeland, Paul Crouch, Ed McAteer, Jim Baker, Chuck Missler, dan Jimmy Swaggart. Mereka membela kepentingan Israel lewat semua media yang dikuasainya. Para pemimpin fundamentalis ini, bersama dengan organisasi-organisasi pro Israel yang mereka pimpin, menjangkau lebih dari 100 juta orang Kristen Amerika, dan lebih dari 100 ribu pendeta. Jumlah dana operaisional mereka konon mencapai US$ 300 juta setahun. Merekalah aktor intelektual bagi dukungan membabi buta Amerika terhadap Zionis Israel sampai saat ini.

Beberapa contoh catatan kaki buatan Scofield, yang tidak terdapat dalam Injil sebelumnya adalah :

"Mereka yang menzalimi orang Yahudi niscaya akan bernasib buruk, (dan) mereka yang melindunginya akan bernasib baik. Masa depan akan membuktikan prinsip ini dengan cara yang luar biasa." (Catatan kaki 2, Genesis 12:1)

"Tuhan telah berjanji pada suatu janji pemberkatan tanpa syarat kepada negara Israel untuk mewarisi suatu wilayah tertentu untuk selama-lamanya." (Catatan kaki 2, Genesis 12:1)

"Bagi suatu bangsa yang melakukan dosa berupa anti-semitisme -- kepada mereka -- akan menyebabkan penghukuman yang tidak bisa dielakkan." (Catatan kaki 3, Genesis 15:1-7)

Baca/Kinjungi :
1. Penerbit, www.kautsar.co.id
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Judeo-Christian

baca selengkapnya...

Tuesday, May 1, 2007

Hari Buruh = Hari Komunis ?

Hari ini, 1 Mei, kalangan buruh merayakannya sebagai Hari Buruh Internasional. Menurut wikipedia, satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 [1], menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Masih menurut wikipedia, pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.
Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:

Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

Sementara itu di Blog-nya Ryker, yang mengulas mengenai gerakan Illuminati menyebutkan bahwa :

Setelah keluar dari gereja Katolik, dia (Adam Weishaupt, An) mendirikan jaringan konspirasi baru yang disebut dengan Lucifer Conspiracy serta Gereja Setan (The Synagogue of Satan). Menurutnya, setan bukanlah makhluk yang hina, melainkan kekuatan yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kebebasan. Setan sebagai makhluk telah mendapatkan pengampunan Tuhan dan sebagai bukti penebusannya setan ingin menyelamatkan manusia. Ajaran ini ditanamkan kepada para anggota Iluminasi bahwa paham Satanism merupakan bentuk evolusi kemanusiaan, lambang kebebasan manusia, dan mencakup jaringan denyut kehidupan dunia secara global (Satanism is about the evolution of humanity and the promotion of freedom on individual and global scales).

Selama lima tahun dia menyusun buku yang berjudul The Novus Ordo Seclorum yang berisi konsep-konsep, doktrin, serta teori tentang pemerintahan global. Buku tersebut selesai pada tanggal 1 Mei 1776. Sebagai penghormatan terhadap dirinya, tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari perayaan Komunis di seluruh dunia.

Bog-nya Riza, yang mengulas bukunya Toto Tasmara, Dajal & Simbol Setan, juga menyinggung tanggal 1 Mei ini :

Angka 666 juga mempunyai kaitan dengan tanggal 01 Mei 1776, tanggal perayaan lahirnya komunis. Terbukti bahwa komponen bilangan dari tanggal, bulan dan tahun tersebut mengandung the Beast 666. Keterangan bukti yang digambarkan catatan kaki pada buku Ustadz Toto Tasmara ini adalah sebagai berikut:

1 Mei 1976 = 1 Mei (bulan ke-5) berati 1+5= 6; 177=1+7+7=15=1+5=6; dan 1776. (p 41).

Kesimpulannya, apakah berarti 1 Mei merupakan Hari Buruh yang sebenarnya ditunggangi oleh kepentingan komunis ? Wallahu a'lam. Maka waspadalah ...

baca selengkapnya...

Saturday, April 21, 2007

Waspada Pemikiran RA Kartini

Dalam buku Fakta & Data Yahudi Indonesia, yang ditulis Ridwan Saidi & Rizki Ridyasmara, yang diterbitkan oleh Khalifa (grup Pustaka Kautsar), 2006, terdapat sedikit ulasan mengenai R.A. Kartini. Ulasan tersebut saya salin kembali dan saya tampilkan dibawah ini.

Penyebaran ajaran teosofi lumayan luasnya, dan memasuki pelbagai lapisan masyarakat. Banyak pemeluk Islam, Kristen, dan Hindu yang terjaring. Juga orang Cina penganut Konghucu, dan mereka yang menganut Kejawen. Kaum Teosofi amat agresif dalam mencari pengikut terutama dari kalangan muda terpelajar dan berbakat. Mereka juga memasuki golongan priyayi.

Barangkali cukup menarik untuk dikaji pikiran-pikiran RA Kartini tentang agama sebagaimana tertulis dalam surat-suratnya kepada kenalan-kenalannya di negeri Belanda.

Tahun-tahun datang dan mereka (tahun-tahun, RS) kemudian pergi ... Kami bernama orang-orang Islam karena kami keturunan orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna. Demikianlah kami hidup terus sampai terbitlah matahari yang akan mendatangkan pergulingan di dalam kehidupan rohani kami. (Surat 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon)

In 't kort, zendingsarbeid - doch zonder doop, ringkasnya, beramal tanpa baptis.

Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam, dan lain-lain. (Surat 31 Januari 1903)

Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh: Orang-orang ini, apakah yang telah kalian buat atasnya (maksudnya Kebajikan, RS).

Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk antara sesama makhluk Tuhan, cokelat atau putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apa pun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapak, dari satu Tuhan!

Tak ada Tuhan lain kecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monoteis, Allah adalah Tuhan, pencipta sekalian alam.

Anak dari satu Bapak, dasar segala agama dara dan saudari jadinya, harus saling cinta mencinta, artinya tunjang-menunjang, bertolong-tolongan. Tolong menolong dan tunjang menunjang, cinta mencinta, itulah nada dasar segala agama. (Surat 21 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol)

Hanya ada satu kemauan, yang boleh dan harus kita punya: kemauan untuk mengabdi kepadanya: Kebajikan (Surat Oktober 1900 kepada Ny. M.C.E. Ovink Soer)

Dari kutipan surat-surat RA Kartini tersebut kita menjumpai persamaan pendiriannya dengan Labberton. Labberton mengatakan, sifat agama-agama adalah sama yaitu cinta pada sesama. Sedangkan RA Kartini menggunakan istilah "nada dasar" agama-agama adalah sama yaitu cinta kepada sesama dan tolong-menolong. Lagi-lagi keduanya melihat agama dalam dimensi tunggal, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia saja. Keduanya mengabaikan dimensi lain jaran agama yaitu hubungan antara manusia dengan Allah (Hablum minallah).

Kebajikan dengan "K" besar (sebagimana Nurcholis Madjid menulis Kebenaran dengan "K" besar, lihat naskah ceramah budaya Nurcholis Madjid, Taman Ismail Marzuki, 21 Oktober 1992) sering digunakan Kartini dalam surat-suratnya.

Kaum teosofi juga banyak yang berbuat sama. Menjadi pertanyaan kini : apakah Kebajikan dengan "K" besar dan Kebenaran dengan "K" besar itu adalah menjadi tujuan hidup atau ultimate goal kehidupan kita ? Jika ya, tentu konsep ideologi yang mereka anut dengan paham ilmu kalam yang kita anut amat berbeda. Ultimate goal kita adalah li mardhatillah, keridhaan Allah.

Apa yang diistilahkan oleh Labberton dengan "syariat agama yang dikeras-keraskan", maksudnya adalah jangan sampai terjadi syaria diperkuat. Karena seorang pakar bernama Daniel Lev, yang juga Yahudi, pernah mengatakan bahwa selagi masih ada orang yang menjalankan syariat Islam, maka Islam dan hukumnya akan tetap eksis. Itulah sebabnya kita sering mendengar tentang ucapan yang nadanya mencela sikap fanatisme beragama.

Padahal ikut perkumpulan sepakbola saja mesti fanatik, apalagi menjadi penganut agama.

Kaum teosofi dengan pelbagai kedok dan aktivitasnya mencoba untuk menembus dinding fanatisme agama. Dan sejauh itu mereka tidak pernah berputus asa. Pelbagai cara ditempuh termasuk menggarap keluarga muda yang potensial. RA Kartini menjadi sasaran garapan mereka. Setelah gagal mengajak Kartini sekolah ke negeri Belanda, maka ke dalam kehidupan Kartini dimasukkan seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartsteen. Hartsteen adalah nama keluarga Yahudi. Josephine meninggal dunia dalam usia muda.

Lihat sinopsis buku ini : http://cordova-bookstore.com/yahudi.htm#fakta
Kunjungi penerbit : www.kautsar.co.id

baca selengkapnya...

Tuesday, April 17, 2007

Divestasi Indosat, Transaksi Kelam Bagi RI

Dicuplik dari Republika (Jumat, 13 April 2007), karena berkaitan dengan Singtel, Singapura, & Israel.

JAKARTA--Kasus divestasi PT Indosat masih tetap menarik untuk dibicarakan. Divestasi yang banyak menuai protes tersebut kemarin kembali disorot.

''Kasus divestasi atau penjualan PT Indosat Tbk yang merupakan aset negara kepada Singapore Technologies Telemedia (STT) mungkin merupakan lembaran transaksi yang paling menistakan dalam hitungan hukum, ekonomi, dan terlebih lagi dalam hitungan politik sepanjang sejarah Republik kita," kata Peneliti Politik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Mochtar Pabottingi.

Kemarin, Mochtar menggelar diskusi sekaligus peluncuran bukunya yang berjudul "Risiko Politik Divestasi Indosat" yang berisi telaah kritis kasus itu berkaitan dengan resiko politik yang menyertainya di Jakarta, Kamis (12/4). Sebagai moderator hadir pengamat politik Daniel Sparingga, anggota DPR RI Sutradara Ginting, dan Happy Bone Zulkarnain.

Berdasarkan buku yang ditulis Marwan Batubara berjudul "Divestasi Indosat: Kebusukan Sebuah Rezim", Mochtar menyimpulkan bahwa divestasi tersebut secara terang-terangan dan sewenang-wenang melanggar asas keabsahan substansial maupun keabsahan prosedural.

Asas keabsahan substansial, menurut Mochtar, dilihat dari rangkaian rasional Menneg BUMN Laksmana Sukardi kala itu yang mengungkapkan alasan divestasi karena Indosat tidak strategis, merugi atau merupakan sunset industry yang berbalikan sepenuhnya dengan kenyataan, dan memang jelas kebohongan publik.

Sedangkan tidak dipedulikannya keabsahan prosedural dapat dilihat dari fase-fase prosedur transaksi yang tidak terhormat dan tidak akuntabilitas. "Contohnya adalah pelanggaran pada Share Holders Agreement (SHA), dan Sales and Purchase Agreement (SPA), pemotongan hasil divestasi, digunakannya Special Purpose Vehicle (SPV), dan penandatanganan kontrak penjualan Indosat yang dilakukan pada hari Ahad, 15 Desember 2002," kata Mochtar.

Semua itu, kata dia, tak hanya berakibat merugikan negara triliunan rupiah karena penjualan jauh dibawah harga, pengalihan teknologi, dan peniadaan penerimaan pajak dalam jumlah sangat besar setiap tahun. "Di atas semuanya, divestasi itu juga menempatkan Republik kita pada posisi yang stabilitas politiknya seketika menjadi sangat rawan, setiap saat mudah dipermainkan, bahkan dijerumuskan oleh pihak asing secara langsung di bidang politik maupun tak langsung lewat hantaman di bidnag ekonomi seta bidang lainnya," kata peneliti LIPI itu.

Dia mengatakan di dalam tubuh Indosat terdapat bagian yang mengandung rangkaian informasi atau potensi informasi strategis yang semestinya masuk dalam kategori classified. Sebab semua itu bisa dan tampaknya memang telah digunakan oleh pihak asing atau musuh untuk memojokkan kita dan karena itu semestinya dijaga ketat dan dimonopoli oleh negara.

Mochtar mengatakan adanya narasumber dalam bukunya menyebutkan contoh-contoh kasus penyadapan oleh Australia untuk percakapan di Istana Bogor, oleh Amerika untuk percakapan di sekitar Monas, dan oleh Singapura untuk percakapan yang berkaitan dengan isu maritim, terutama kalau ada pertemuan di Dewan Maritim Nasional.

"Semua itu lewat Indosat. Satelit sudah dikuasai. Disitu informasi bisa diacak. Dibelokkan. Diubah. Kata `jalan` bisa jadi `jualan`," kata Mochtar menuturkan narasumber dalam bukunya.

Dia melanjutkan penjualan Indoasat ibarat penyerahan panopticon - sarana untuk setiap saat melihat langsung apa pun yang terjasi atau yang dikomunikasikan di seluruh pelosok Tanah Air hingga ke ruang pribadi warganegara dan atau setiap orang yang tinggal di Indonesia

Dalam hal ekonomi, adalah pelacakan seluruh kegiatan dan kebijakan perdagangan pemerintah maupun masyarakat, termasuk volume, para pelaku dan arah lalu lintas dana yang masuk maupun yang keluar dari Indonesia.

Sedangkan anggota DPR RI dari Fraksi FPDI Perjuangan, Sutradara Ginting menjelaskan latar belakang dilakukannya divestasi Indosat adalah karena negara membutuhkan dana untuk menjalankan APBN pada tahun 2000 dan adanya keinginan untuk tidak menambah utang dari luar negeri lagi, sehingga dipilih opsi privatisasi BUMN, salah satunya adalah Indosat. (ant/fir)

Kunjungi juga :
1. Singapura Basis Israel Asia Tenggara
2. Menguak Cinta Rahasia Israel-Singapura
3. Melacak Zionis di Indonesia


Logo Indosat, setelah dibeli Singtel (bentuk bintang di tengahnya mirip logo di bendera Israel) :



baca selengkapnya...

Friday, April 6, 2007

Yang Tidak Diungkap The Da Vinci Code

Ini adalah prolog yang ditulis Rizki Ridyasmara, dalam bukunya Knights Templar Knights Of Christ, yang diterbitkan oleh Pustaka Kautsar tahun 2006.

MISTERI. Mungkin hanya ini, satu kata, yang dapat menggambarkan apa yang telah dipaparkan Dan Brown dalam novel setebal lebih dari 600 halaman bernama The Da Vinci Code. Walau banyak kalangan menyebut buku buku kedua dalam trilogy-thriller Brown ini (Angel & Demon, The Davinci Code, dan Solomon Key) mengungkap peranan Biarawan Sion, namun ada bentangan-bentangan besar yang jelas yang dipaparkan secara amat rapi oleh penulis dari Exeter, New Hamsphire, AS, ini kepada pembacanya.

Bagai sebuah sapu lidi yang begitu liat dan kuat justru karena terdiri dari banyak unsur, demikian pula The Davinci Code.Ramuan unsur dan fakta sejarah ilmiah yang begitu hebat telah diracik oleh seorang Brown sehingga menuai pujian di banyak tempat dan kecaman pedas di tempat lainnya. Sejarah dan kehidupan memang selalu berjalan dialektis, ada hitam, ada putih, rendah dan tinggi, hingga akhir zaman. Demikian pula dengan wajah Sang Monalisa karya Leonardo Da Vinci, yang menyatukan sisi feminis dan maskulinnya dari sisi-sisinya.

Unsur seperti apakah yang menyusun novel kontroversial namun mencerahkan itu sehingga sungguh-sungguh menjadi karya yang kuat, sampai Gereja Katolik harus menghadapinya dengan serius dan mengerahkan penulis-penulis terbaiknya? Di bawah inilah sejumlah paparan Dan Brown yang di nilai telah “menyengat dan mengguncangkan kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah berusia 2000 tahun”.

Biarawan Sion (Priory of the Sion). Ini adalah organisasi bawah tanah yang paling misterius di dunia yang bersumber dari satu kelompok persaudaraan para petinggi Yahudi yang menyembah dewa-dewi dan iblis, yang mengejawantah dalam bentuk kepercayaan paganisme Mesir kuno bernama Kabbalah. Dari dirinya kemudian lahir The Knight Templar yang juga penuh diselimuti kabut misteri. Lalu dari Ksatria Templar yang melegenda dalam Perang Salib, lahir pula berbagai organisasi bawah tanah yang juga misterius bernama Freemason, Rosicrusian, dan sebagainya. Keberadaan Biarawan Sion tidaklah bena-benar akan bisa mengguncang keimanan seorang Kristen jika tidak dikaitkan dengan misi utamanya dalam menjaga The Holy Grail, cawan suci yang diyakini pernah menampung darah Yesus Kristus ketika disalib, yang oleh Brown-berdasarkan riset yang panjang dan serius merupakan simbolisasi dari diri seorang Maria Magdalena.

Maria Magdalena, oleh tradisi Kristen selama ini dikenal sebagai perempuan murahan, pelacur, namun oleh Brown dianggap sebagai Sang Putri terpilih, istri dari Yesus, yang di dalam rahimnya mewarisi The Holy Blood,darah keturunan suci suaminya yang tak lain adalah Yesus Kristus. Brown meyakini, lewat Maria Magdalena inilah Yesus sesungguhnya mempunyai anak keturunan yang garisnya masih ada hingga sekarang, yang dikenal sebagai Dinasti Merovingian yang pernah hidup di Perancis Selatan. Di daerah ini hingga sekarang memang dikenal sebagai daerah yang tidak terlalu tunduk pada Vatikan, namun memiliki ritus-ritus yang begitu kental memuja Maria Magdalena. Perang Salib Albigensian, perang suci yang dilancarkan Vatikan untuk membasmi umat Kristen Kathari juga berlangsung disini dan lukanya masih dirasakan penduduk asli disana.

Brown percaya, tugas utama Biarawan Sion adalah menjaga garis darah keturunan Yesus, hingga mengantarkannya kembali bertahta sebagai Raja Pendeta yang berkuasa di Yerusalem.

Hipotesis ini terang menyengat kalangan Kristen karena dalam tradisi kekristenan yang telah dipelihara dari generasi ke generasi, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Yesus (resurrection). Menurut dogma ini setelah mati di tiang salib dan bangkit dari makamnya menuju langit, Yesus akan bangkit kembali (The Second Coming) pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus - yang menyaksikan kubur Yesus kosong - adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena. Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka dengan sendirinya runtuhlah agama Kristen.

Paul Young, dalam Christianity, menulis, bahwa tanpa ‘resurrection’, maka tidak ada ‘kekristenan’. Ibarat poongan-potongan gambar (puzzle), maka jika resurrection dibuang, puzzle itu tidak akan pernah membentuk apa yang disebut sebagai Christianity. “We can not remove a portion of the Christian jigsaw labelled ‘resurrection’ and leave anything which is recognizable as Christian faith. Subtract the resurrection and you destroy the entire picture.”

Dogma inti inilah yang dianggap kalangan Kristen dicoba dihancurkan oleh The Da Vinci Code. Betapa tidak, dalam novel ini, digambarkan bahwa sebelum disalib, Yesus sebenarnya sempat mengawini Maria Magdalena dan mewariskan Gerejanya kepada Maria Magdalena, bukan kepada Saint Peter yang selama ini dipercaya dalam dogma Kristiani sebagai pewaris Yesus dan kemudian mendirikan Gereja Katolik di Roma (bukan di Yerusalem tempat kelahiran Yesus). Bahkan, dari hasil perkawinannya tersebut, Yesus punya keturunan yang takut dikejar-kejar murid-murid Yesus dan penguasa Romawi lainnya maka ia bersama ibundanya melarikan diri ke Perancis dan mendirikan sebuah gereja. Gereja ini masih berdiri hingga sekarang dan berada di Rennes-le-Chateau, di kaki gunung Pyrennes, selatan Perancis. Rahasia ini masih tetap dipegang dan disimpan dengan sangat ketat.

Selama ratusan tahun itu pula, Gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Maria Magdalena dan membantai anak keturunan Yesus yang dikhawatirkan mengancam hegemoni dan kekuasaan Gereja Katolik dan gereja-gereja Kristen lainnya yang mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Selain itu, The Da Vinci Code secara meyakinkan juga berhasil membangun pencitra-burukan Tahta Suci Vatikan lewat paparan yang lugas bahwa Vatikan - Paus Paulus II - selama ini telah mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang dikatakan Brown tidak segan-segan melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya. Anggota Opus Dei juga sering menyakiti dirinya sendiri dengan melilitkan kawat berduri di pangkal pahanya (cilice) guna menambah keimanan mereka kepada Yesus. Selain itu ada pula ritual-ritual khusus dengan menyiksa bagian-bagian tubuh. Menurut keyakinan Opus Dei, dengan merasakan sakit, diharapkan anggota Opus Dei akan bisa merasakan penderitaan Yesus dalam menebus dosa manusia. Itu yang dinyatakan Brown.

Fakta yang lain menurut Brown adalah: Opus Dei baru-baru ini membangun markasnya senilai 243 USD di New York. Melalui Opus Dei inilah Gereja Katolik berusaha merebut bukti-bukti sejarah tentang ‘Gereja Maria Magdalena’. Tak tanggung-tanggung, Brown menyodorkan kepada pembaca paparan ini yang diperkuat dengan Gnostic Bible.

Didalam Gospel of Philip ,misalnya, juga tertulis: “And the companion of the Saviour is Mary Magdalene. Christ loved her more than all the disciples and used to kiss her often on her mouth. The rest of the disciples were offended by it and expressed disapproval. They said to him, “Why do you love her more than all of us?” (Yesus mempunyai pasangan bernama Maria Magdalena dan biasa mencium Magdalena di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Mereka bertanya, “Mengapa engkau mencintai perempuan itu lebih dari kami?’) Kedengkian MURID-MURID Yesus inilah yang pada akhirnya memicu pelarian Maria Magdalena dari Yerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi.

Dalam bahasa Aramaic, istilah “companion” menurut Dan Brown lewat penuturan Sir Leigh Teabing (salah seorang pelakon dalam The Da Vinci Code), bisa diartikan sebagai “ pasangan “. Sophie Neveu (salah satu pelakon novel ini) yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip (Filipus) itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Yesus dengan isterinya tersebut. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para Pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptation of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Yesus pernah mengadakan hubungan suami-isteri dengan seorang perempuan bernama Maria Magdalena.

Oleh para penentangnya, Bible Philip (Filipus Gospel) disebutkan tidak ditulis dalam bahasa Aramaic melainkan dalam bahasa Coptic. Dan istilah “companion” bukanlah “pasangan” melainkan teman. Katakanlah memang berarti ‘teman’, bukan ‘pasangan’, maka ayat di atas itu akan berbunyi : “Yesus mempunyai teman bernama Maria Magdalena dan biasa mencium Magdalena di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Mereka bertanya, ”Mengapa Engkau lebih mencintai perempuan itu lebih dari kami ?”. Sangat jelas, Maria Magdalena bukanlah teman biasa, melainkan pasangan, karena Yesus amat condong padanya melebihi perasaan kepada murid-muridnya. Dalam hal ini, istilah ‘teman’ atau ‘pasangan’ tidak bergeser dari arti sesungguhnya.

Dalam sejarah kekristenan, Maria Magdalena memang pernah disebutkan secara negatif sebagai sosok perempuan murahan, pelacur, yang biasa mengeringkan kaki Kristus menggunakan rambutnya yang tergerai panjang. Pandangan ini sesungguhnya berawal dari tahun 591 M tatkala Paus Gregory the Great dalam salah satu khotbahnya menyatakan bahwa si pendosa yang disebut dalam Injil Lukas sebenarnya menunjuk pada sosok Maria Magdalena. Padahal hal tersebut sama sekali tidak tertulis dalam Injil versi mana pun, semata-mata berdasar pada tuduhan Paus Gregory di atas. Pada 1969, Tahta Suci Vatikan secara resmi mengakui kesalahan Gregory ini.

Dalam film dokumenter yang mengupas karya-karya Leonardo Da Vinci dan novel Dan Brown tersebut, yang secara garis besar mendukung premis status quo Vatikan, disebutkan bahwa nama Maria Magdalena hanya disebut sebanyak 12 kali dalam Injil Perjanjian Baru. Keberadaannya walaupun jarang, namun sangat penting. Dia satu-satunya wanita dalam Injil yang diidentikan dengan suatu tempat (Kota Magdalena), daripada sebagai seorang istri, saudari, atau ibu. Tampaknya dia seorang yang mandiri juga secara ekonomi. Tapi lebih dari itu, dia berada disisi Kristus pada masa-masa terpenting dalam hidupnya. Dia menyaksikan kematian Kristus dari kaki salib dan dia yang pertama mengetahui kebangkitannya dari makam. Kristus yang telah menampakkan diri pertama pada Maria Magdalena dan dialah yang memberi tahu kejadian luar biasa itu pada para rasul yang sulit percaya. Banyak sumber sejarah yang tak bisa dibantah menyebutkan tentang perkawinan antara Maria Magdalena dan Kristus. Contoh kuat adalah kalimat dari kitab Filipi (Bible Philip), yang diterjemahkan sebagai berikut...”Dan teman Sang juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus mencintai lebih daripada seluruh muridnya, dan Yesus sering mencium di mulut."

Menyikapi ayat dalam Injil Filipus dan penafsiran dari padanya yang menyatakan bahwa Maria Magdalena adalah lebih dari sekadar teman akrab dari Yesus, dianggap oleh Profesor Mario Moeraghi, Docente Politekniko di Milano-Italy, sebagai hal yang harus dilihat dari konteks zamannya.

“Yang tertulis sebenarnya tidak terlalu jelas, karena bagian dari kalimat itu tidak menjelaskan maksud apapun, terutama bagian mencium di ‘mulut’. Istilah ini tidak jelas; orang membicarakan soal ciuman, dan sisa kalimatnya telah membuat orang menduga bahwa ciuman itu di mulut, jadi kita harus memikirkan realitas kalimat itu sendiri. Menurut saya... kita bisa lebih jauh lagi. Walaupun kita menyimpulkan bahwa ciuman itu di mulut, kita harus ingat, hal ini terjadi dalam kedaan masa, tempat, dan kebudayaan yang berbeda dari kita sekarang, dimana ciuman mungkin berarti lain. Beberapa kebudayaan menganggap ciuman di mulut sebagai sarana komunikasi spiritual, komunikasi gagasan, dan persetujuan gagasan - dan ciuman juga dilakukan tanpa mengakibatkan skandal tertentu,” papar Mario Moiraghi.

Bisa jadi Mario Moiraghi benar bahwa segala sesuau itu harus dilihat dari konteks zaman dan tempatnya, harus dilihat dari kultur masyarakat setempat, namun yang harus pula dicermati, ‘ciuman-ciuman di mulut lainnya’ seperti yang konon telah dilakukan Yudas Iskariot kepada Yesus. Sikap Yesus di ayat-ayat Injil Gnostik lainnya juga terlihat sangat berbeda dan sangat intim terhadap murid-muridnya, sehingga membuat para murid itu iri hati. Jelas, ini bukan ciuman yang biasa dan menunjukkan suatu hubungan dan kedekatan yang istimewa.

Paparan lain yang diajukan Brown adalah tentang diskursus gender, yang saat ini diyakini oleh dogma Kristen bahwasannya Yesus hanya mewarisi gerejanya kepada lelaki. Namun oleh Bbrown dikatakan bahwa Yesus telah mewarisi gerejanya kepada perempuan, Maria Magdalena. Ini tentu saja sangat menarik. Sebab, hingga kini, Gereja Katolik tetap tidak mengizinkan perempuan menjadi pejabat tinggi di Vatikan. Begitu juga dengan doktrin “larangan menikah bagi Pastor’ (celibacy), masih tetap dipertahankan, meski mulai sekarang masih banyak tokoh Katolik yang menggugat larangan ini. Prof. Hans Kung, misalnya, menyebut doktrin celibacy bertentangan dengan Injil (Matius, 19:12,1 Timotius, 3:2). Doktrin ini, katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual dikalangan pastor.

Apa yang dipaparkan dalam The Da Vinci Code sesungguhnya sudah lama menjadi bahan perdebatan ilmiah di banyak kelompok Kristen maupun kelompok pengamat keagamaan. Dalam soal Trinitas saja yang mendogmakan bahwa Yesus itu sekaligus juga Tuhan, dunia Kristen sampai detik ini masih saja kesulitan untuk menjelaskan dengan logis dan masuk akal. Jika benar Yesus telah disalib), Yesus berteriak-teriak ketakutan, “Eli, Eli, lama sabahktani!” (“Bapa, bapa mengapa kau tinggalkan aku?!”). Mengapa Yesus memanggil-manggil Tuhan jika dirinya sendiri merupakan Tuhan? Apakah “Tuhan” Yesus tidak berkuasa menghentikan penyiksaan yang dilakukan orang Romawi terhadap dirinya?

Sejak awal kekristenan, hal ini telah mengemuka dan menjadi perdebatan panas hingga umat Kristen awal terbelah menjadi dua keyakinan besar: Unitarian (ketauhidan) yang mengakui Yesus hanyalah seorang nabi utusan Tuhan, dan Trinitarian yang mengakui bahwa wujud Tuhan dan Roh Kudus sepenuhnya mengejawantah alam diri Yesus. Dalam Konsili Nicea 325 M, seluruh pengikut Unitarian dibabat habis oleh kaum Trinitarian. Kota Nicea kuno sekarang ini berubah menjadi Kota Iznik yang terletak di wilayah Turki.

The Da Vinci Code jelas telah menohok dalam-dalam ke jantung kekristenan. Brown telah menyerang langsung ke pusat susunan syaraf kekristenan. Brown telah menggencet aliran darah inti dari Kekristenan. Ia mengobrak-abrik dogma inti yang telah dipelihara sejak lebih dari 2.000 tahun silam, walau setting kisahnya terjadi di abad ke-21. Brown memang jenial. Siapa pun akan memgakui, baik yang setuju dengan pandangannya seperti yang tertuang dalam The Da Vinci Code, maupun penentangnya.

Bagaimana pun, Brown telah menyumbangkan sebentuk alternatif pemikiran yang segar ke tengah masyarakat dunia, setelah berabad lamanya kita dicekoki dengan pandangan-pandangan seragam yang tidak boleh dikritisi dengan dalih kesucian iman. Hanya saja, yang dilakukan The Da Vinci Code sebatas membongkar dogma kekristenan an-sich. Belum ‘turun’ ketingkat praksis. Dalam hal ini The Holy Blood and the Holy Grail telah sedikit lebih maju dari The Da Vinci Code, karena The Holy Blood and The Holy Grail dalam salah satu bagiannya telah memuat ”Kesimpulan dan Tanda Tanda masa depan” yang antara lain tertulis:

“Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Biarawan Sion untuk memperlihatkan kartunya.... Masyarakat kita telah bosan dengan materalisme dan mengalami kelaparan spiritual. Sekarang mereka tengah mengais kepuasan di tempat lain yang mampu memberikan ketenangan jiwa. Atmosfer seperti itu sangat kondusif bagi Biarawan Sion intuk berkembang. Hal itu menempatkan Sion dalam posisi yang mampu menawarkan sebuah pilihan akan sistem sosial dan politik yang ada... Ada banyak pemeluk agma Kristen yang tidak ragu-ragu menafsirkan Apocalypse sebagai bencana nuklir. Lantas, bagaimana mereka akan menafsirkan keturunan Yesus? Sebagian umat Kristiani menganggap’ keturunan Yesus’ sebagai Second Coming.”

Buku ini, Knight Templar, Knight of Christ, sesungguhnya satu ruh juga denngan The Holy Blood and The Holy Grail dan The Da Vinci Code. Saya meyakini, paparan sejarah yang dikemukakan oleh kaum The Free Tinkers dan para kritisi sejarah kekristenan lebih bisa dipercaya ketimbang Injil yang sekarang beredar ditengah umat manusia. Mengapa ? Karena sejarah resmi masa kini merupakan cerita yang telah mendapat ‘segel resmi’, telah disetujui oleh pihak yang berkuasa, walau belum tentu yang paling benar. Injil yang resmi beredar sekarang ini sudah melalui seleksi yang kasar dan dan diikuti pembunuhan dan pengusiran yang dilakukan Kaisar Romawi, The Great Constantine, yang didukung penganut Trinitas. Sebuah Injil yang pro status-quo, lebih memihak kepada tahta dan kekuasaan ketimbang kebenaran.

Ada banyak pertanyaan yang ingin dikupas. Adakah Biarawan Sion masih ada hingga sekarang (seperti yang ditegaskan The Holy Blood and The Holy Grail dan sejumlah peneliti lainnya), dan tetap bermain di belakang layar rezim-rezim penguasa dunia, pengusaha-pengusaha tingkat tinggi, jendral-jendral berpengaruh, dan juga seniman-seniman, serta artis papan atas. Mereka - dengan nama yang bisa saja berganti-ganti - tetap bekerja hingga cita-cita satu pemerintahan dunia di bawah kepemimpinan Amerika (Pax-America) tercipta sebagai pra-kondisi hadirnya Raja-Pendeta untuk berkuasa kembali mendirikan kerajaannya di dunia ?

Walau kelihatan klise dan beraroma konspirasi, namun segala hal, segala kejadian, yang sungguh terjadi di dunia ini dalam dasawarsa terakhir ternyata memang membenarkan tesis tersebut. Kita boleh dan sah saja untuk mengatakan tidak yakin terhadap hal ini, tetapi mari kita tengok kejadian demi kejadian yang ada dan kemana arah dari semua kejadian itu bermuara? Adakah muara itu bertemu dengan apa yang telah jauh-jauh hari ditetapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam Alquran? Atau, segalanya tetap akan menjadi misteri hingga suatu hari batu-batu berbicara dan memberitahukan dimana si Zionis-Yahudi dan Zionis lainnya bersembunyi untuk kita habisi bersama-sama?

Annuit Coeptis, Konspirasi kta []

Kunjungi penerbit : pustaka kautsar

baca selengkapnya...

Thursday, March 29, 2007

Masuknya Yahudi ke AS

Sumber : Yahudi Menggenggam Dunia, William G. Carr, Pustaka Al Kautsar, tahun 2005

KALAU kita menyimak sejarah Amerika modern, kita akan mengetahui asal-usul masuknya Yahudi, berawal sejak sejarah Amerika itu sendiri. Bahkan orang-orang Yahudi telah berusaha mengembangkan sayap pengaruhnya di bumi itu sebelum Amerika Serikat lahir sebagai negara, yaitu ketika Amerika masih terdiri dari 13 wilayah koloni Inggris. Mata para pemilik modal mulai mengincar koloni Inggris di Amerika setelah Benjamin Franklin, seorang tokoh Amerika terbesar tiba di London ia di sambut oleh para pemilik modal Yahudi yang telah menguasai perekonomian Inggris, seperti telah kita jelaskan sebelumnya.

Dalam dokumen Senat Amerika halaman 98 butir 33 terdapat laporan yang di tulis oleh Robert L.Owen, mantan kepala komisi bank dan keuangan dalam Konggres Amerika tentang pertemuan antar wakil-wakil perusahaan Rotschild dan Benjamin Franklin. Disebutkan antara lain, bagaimana para utusan Rotschild minta keterangan tentang sebab yang menurut hematnya bisa membuat perekonomian di koloni Amerika maju. Franklin menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata sebagai berikut:
“Masalah itu tidak sulit. Kita akan mencetak mata uang kita sendiri, sesuai dengan kebutuhan yang dihajatkan oleh industri yang kita miliki.”

Menurut pengamatan Robert L. Owen, jawaban Franklin itu langsung membuat kelompok Rotschild tertarik untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk memetik keuntungan besar. Itulah yang tampak pada awal mulanya, bahwa mencetak mata uang sendiri bagi koloni Inggris di Ameriak merupakan larangan hukum, agar koloni itu tetap menggantungkan sistem keuangannya pada Bank Inggris.

Sementara itu, Amschell Mayer Rotschild masih tinggal di Jerman mengurusi perusahaanya. Ia merekrut tentara profesional sewaan Jerman, dan mengirimnya kepada pemerintah Inggris dengan imbalan sebesar $ 8 untuk setiap orang. Pengaruh Rotschild dan kondisi Pemerintah Inggris telah memungkinkan untuk meluluskan tuntutan koloni Amerika untuk mencetak mata uangnya sendiri. Undang-undang itu lahir, dan pemerintah Inggris di Amerika segera melaksanakan undang-undang itu. Pemerintah Inggris menyerahkan kembali seluruh aset milik Amerika yang di simpan di Bank Inggris, sebagai pengembalian deposito sekaligus dengan bunganya yang segera akan dibayar dengan mata uang baru. Apa akibat dari langkah tersebut? Kita serahkan jawabannya kepada Benjamin Franklin sendiri, yang sampai sekarang masih tersimpan dalam dokumen Kondres nomer 23, berbunyi sebagai berikut:

“Perkembangan situasi berbalik 100% dalam jangka waktu satu tahun, setelah di sahkannya undang-undang itu. Masa-masa makmur telah berakhir, dan berubah menjadi krisis ekonomi yang parah, sehingga jalan-jalan di koloni itu penuh dengan gangguan. Bank Inggris telah menolak menerima pembayaran lebih dari 50% dari nilai mata uang Amerika, seperti yang berlaku sesuai dengan undang-undang baru. Dengan kata lain, mata uang Amerika anjlok sampai 50% nilainya.”

Para analis sejarah sepakat mengambil kesimpulan, bahwa sebab timbulnya revolusi Amerika untuk menentang pemerintah Inggris adalah menyangkut masalah ’Pajak Teh’ yang terkenal itu sedang Benjamin Franklin adalah salah satu figur terkemuka dalam revolusi Amerika. Para analis memberikan komentar mengenai sebab-sebab itu sebagai berikut:

“Sesungguhnya Amerika Serikat bersedia sepenuhnya untuk menerima beban pajak tambahan itu, atau yang sejenisnya, seandainya Inggris tidak mencabut undang-undang tentang hak untuk mencetak mata uang bagi koloni Ingris di Amerika, yang menyebabkan timbulnya pengangguran dan resesi ekonomi di seluruh koloni. Orang tidak tahu, bahwa sebenarnya lahirnya beban pajak baru yang mengeruhkan ekonomi Amerika oleh Inggris disebabkan oleh adanya pemeras internasional yang mencekik perekonomian Inggris. Sedang revolusi pada waktu itu belum pecah. Perlawanan bersenjata yang pertama antara pasukan revolusi melawan pasukan Inggris baru di mulai pada 19 April 1775. kemudian timbul peristiwa lain yang tidak perlu kita ceritakan disini, hingga terpilihnya Geoge Washington sebagai panglima revolusi. Konggres mengeluarkan deklarasi kemerdekaan pada tahun 1776.”

Setelah usai perang revolusi, para pemilik modal internasional tetap berusaha lewat perwakilan mereka, untuk memperjuangkan lahirnya undang-undang tentang hak mencetak uang. Para tokoh kemerdekaan Amerika menyadari bahaya yang mengancam, dan bersikap waspada terhadap persengkokolan para pemilik modal itu. masalah ini bisa di ketahui dari dokumen mengenai suasana pertemuan yang diadakan di kota Philadelphia tahun 1787, yang dikenal dengan ”Pertemuan para bapak pendiri Amerika Serikat”. Teks kelima bagian 8 pada butir pertama undang-undang Amerika berbunyi:
“Konggres adalah satu-satunya lembaga yang punya wewenang mencetak mata uang, dan mengeluarkan undang-undang yang bertalian dengan peraturan mengenai nilainya.”

Langkah yang diandalkan oleh para pemilik modal internasional adalah konservatif mereka, yaitu menggunakan perusahaan terselubung. Para direktur Bank Inggris telah memilih wakil mereka di Amerika pada tahun 1780, yaitu seorang tokoh penting bernama Alexander Hamilton, yang muncul berkat propaganda Yahudi, sehingga namanya bisa mengorbit sebagai salah satu pejuang kemerdekaan. Ia mengusulkan gagasan untuk mendirikan Bank terpadu yang punya wewenang untuk mencetak mata uang, dan sekaligus berwenang mengawasi itu, sebagai ganti wewenang pemerintah. Di samping masalah bank itu, ia juga mengajukan usul, agar lembaga dikelola swasta. Untuk modal bank itu dibutuhkan uang sebesar 12 juta US Dolar, 10 juta Dolar diantaranya akan diambilkan dari Bank Inggris, sedang sisanya ditawarkan kepada investor Amerika sendiri.

Menjelang akhir tahun1783 Hamilton dan partnernya Robert Morris berhasil mendirikan Bank Amerika yang dimaksud. Morris, seorang analis keuangan dalam Konggres Amerika telah berhasil mengawasi keuangan dan perbelanjaan pemerintah Amerika, sehingga membuat kas negara jatuh dalam keadaan krisis keuangan yang parah pada saat perang kemerdekaan usai. Masalah ini membuktikan dengan jelas, bahwa taktik yang dipakai oleh kekuatan terselubung adalah dengan memanfaatkan perang dan kaki-tangan. Morris melangkah lebih jauh lagi. Ia mengeluarkan uang kas negara yang masih tersisa sebanyak $250 ribu untuk didepositokan daalm Bank Amerika, karena para direktur Bank Ameriak merupakan orang-orang wakil Bank Inggris yang konsekuensi logisnya adalah, bahwa kelompok pemilik modal Yahudi yang telah menguasai Bank Inggris berarti juga menguasai Bank Amerika.

Melihat adanya bahaya kelompok Konspirasi Yahudi terhadap amerika, para tokoh revolusi kemerdekaan terutama Benjamin Franklin sendiri terpanggil untuk ikut campur dalam Konggres dan mereka berhasil membatalkan wewenang Bank Amerika untuk mencetak mata uang. Bank Inggris yang telah menguasai Bank Amerika adalah pihak yang telah menyebabkan timbulnya krisis keuangan di bawa pengawasan Robert Morris itu.

Para pemilik modal tidak putus asa atas kegagalan sementara ini. Bahkan mereka mengeluarkan instruksi kepada kaki-tangan mereka agar melipat-gandakan usaaha dengan menunggu saat yang tepat. Mereka akhirnya berhasil mengorbitkan Alexander Hamilton sampai pada kedudukan Menteri Keuangan Amerika. Kedudukan itu memungkinkan Hamilton mendapatkan persetujuan Pemerintah Amerika untuk memberikan wewenang mencetak mata uang berdasarkan jumlah ilai pinjaman negara dan swasta. Hamilton mengungkapkan alasan kepada pemerintah, bahwa mata uang yang di keluarkan oleh konggres dan nota jaminan pinjaman nasional tidak akan ada harganya di luar negeri. Sedang nota jaminan pinjaman nasional dan swasta yang dikeluarkan oleh bank bisa di pergunakan dalam berbagai bentuk transaksi dengan pihak luar negeri. Modal baru telah ditetapkan bagi bank sebesar $ 35 juta, dengan catatan yang $ 28 juta diambil dari investor Eropa. Padahal, keuangan Eropa berada di tangan Rothschild.

Kini tiba saatnya Hamilton memetik buah sebagai balasan setimpal atas ulah dan perbuatannya. Ibarat domba yang dipelihara, dan setelah gemuk dipotong. Menurut dugaan, Hamilton telah mengetahui liku-liku konspirasi lebih banyak daripada yang dikehendaki mereka. Terjadilah persaingan keras antara Hamilton dan seorang Yahudi profesional bernama Aron Pour, sehingga Hamilton mendapat giliran yang menyedihkan.

Manuver untuk bisa mengontrol pencetakan mata uang Amerika mengakhiri satu tahap kegiatan Konspirasi di Amerika. Langkah berikutnya yang ditempuh oleh para pemilik modal internasional adalah bagaimana menguasai perekonomian Amerika. Tahap ini dimulai dengan gerakan manuver amat luas, yang dilakukan oleh kelompok Rotschild dengan mengeluarkan instruksi kepada agen-agen mereka di Amerika, agar mereka menggalakkan propaganda besar-besaran mengenai kemakmuran dan kesejahteraan bagi prospek bangsa Amerika. Instruksi itu juga ditujukan kepada para direktur Bank Amerika untuk memberikan pinjaman lunak, agar bangsa Amerika tergiur untuk memanfaatkan tawaran itu. Tidak ayal lagi, bangsa Amerika segera memanfaatkan pinjaman itu untuk membiayayi proyek-proyek baru yang tumbuh seperti jamur di musim hujan. Setelah perkembangan mencapai titik tertentu, kelompok Rotschild mengeluarkan instruksi rahasia agar tawaran pinjaman itu segera di hentikan, dan agar jumlah yang beredar di pasaran dibatasi. Tentu saja ini memyebabkan krisis ekonomi yang parah, dan mengakibatkan lumpuhnya perekonomian Amerika. Proyek yang dibangun atas biaya pinjaman dari bank itu. Peristiwa ini bukan tidak mendapatkan tantangan dari rakyat Amerika. Tiga tokoh Amerika, yaitu John Adams, Thomas Jefferson, dan Andrew Jackson, yang kelak menjadi presiden Amerika merupakan tokoh-tokoh terkemuka yang mempermasalahkan krisis ekonomi tadi. Berikutnya adalah beberapa kalimat yang ditulis oleh Jefferson kepada Adams:

“ Saya yakin sepenuhnya, bahwa lembaga-lembaga keuangan ini lebih berbahaya bagi kemerdekaan kita dari pada serbuan pasukan musuh. Lembaga keuangan itu juga telah melahirkan sekelompok aristokrat kaya yang kekuasaannya mengancam pemerintah. Menurut hemat saya, kita wajib meninjau hak mencetak mata uang bagi lembaga keuangan ini, dan mengembalikan wewenang itu kepada rakyat Amerika sebagai pihak yang paling berhak. “

Kritik terbuka seperti itu membuat para pemilik modal menjadi barang, mengingatkan kepada mereka tentang masa suram yang akan segera datang, berkenaan dengan masa perpanjanggan wewenang Bank Amerika pada tahun 1811, apabila hal itu dibatalkan. Nathan Rotschild kemudian segera mengambil sikap dengan mengancam presiden Amerika secara pribadi, yang ketika itu dipegang oleh Andrew Jackson, yang isinya sebagai berikut:
“ Hanya ada dua pilihan, yaitu memeperpanjang wewenang atau menolak. Dan ketika itu Anda akan melihat Amerika Serikat terperosok ke dalam kancah peperangan yang dahsyat.”

Kekuatan Konspirasi telah lama menggunakan taktik busuk dengan meniupkan api perang untuk menghancurkan para pemimpin dan kepala negara yang menentang para pemilik modal uang menghadang perjalanan Konspirasi. Akan tetapi Presiden Jackson tidak memperdulikan gertakan tersebut bahkan berganti menantang utusan itu. Kemudian utusan itu kembali dengan jawaban:

“Anda sekalian tidak lain adalah kawanan perampok dan ular. Kami akan menghancurkan kalian, dan bersumpah akan menghancurkan kalian.”

Rupanya para pemilik modal benar-benar akan melaksanakan ancaman mereka. Tidak lama kemudian mereka mendesak pemerintah Inggris dengan menekan lewat Bank Inggris untuk menyerbu Amerika pada tahun 1812. Tujuan Nathan Rotschild yang paling utama adalah menguras kas pemerintah Amerika, akibat biaya perang yang di butuhkan, sehingga tidak ada jalan lain kecuali mencari dana dari pinjaman luar negeri. Sedang tumbal manusia dan kehancuran akibat perang bukanlah harus di pikul oleh Nathan Rotschild. Program ini benar-benar terlaksana, dan akhirnya konggres mengesahkan perpanjangan wewenang Bank Amerika itu tahun 1816.

Kunjungi juga :
1. http://www.kautsar.co.id
2. http://www.freemasonrywatch.org

baca selengkapnya...